Cantika Alifiana Pusvitasari, Atlet Silat Belia Prestasinya Mendunia

BENER, Meski berada jauh dari perkotaan, Cantika Alifiana Pusvitasari (13), masih bisa menorehkan prestasi yang membanggakan. Atlet pencak silat yang tinggal di Dusun Kembangan Kidul RT 01/03 Desa Jati, Kecamatan Bener tersebut berhasil menjuarai turnamen internasional di Bali.

Siswi kelas 8 MTs Negeri 1 Purworejo itu menjadi Juara 1 Kelas A putri SMP pada event Bali International Championship 2 yang digelar di GOR Baja Praja Raksaka awal bulan Juli lalu.

Memang sangat membanggakan karena turnamen tersebut diikuti ribuan peserta tidak hanya dari Indonesia tetapi juga peserta dari negara lain yakni Malaysia dan Singapura. Menurut penuturan Cantika, untuk kelas SMP saja pesertanya sekitar 700-an.

Tentu kejuaraan tersebut bukan yang pertama kali diikuti gadis kalem dengan tinggi 155 cm dan berat 37 kg tersebut. Ditemui di rumahnya, putri pasangan Hepi Praptono (38) dan Yeni  Ikasari (35) itu mengatakan, dirinya sudah 11 kali mengikuti berbagai turnamen.

Kejuaraan pertama, katanya, diikuti sulung dua bersaudara itu tahun 2016 di Yogya pada ajang Yogyakarta Championship. Saat itu usianya 7 tahun dan berhasil menyabet juara 1. Setelah itu berturut- turut Cantika ikut berbagai kejuaraan atau turnamen di berbagai daerah.

Cantika saat berlaga di sebuah turnamen

Selain Yogya, Cantika yang hobi membaca buku cerita sejarah itu juga sudah pernah ke Banyuwangi, Bogor, Banten, dan Bali untuk mengikuti berbagai turnamen nasional, selain Bali yang levelnya kejuaraan internasional.

Menurut penuturan ibunya, Cantika sudah mulai ikut latihan silat  sejak duduk di bangku TK atau sekitar usia 5 tahun, yakni di Padepokan Manunggal Ati Suci. “Waktu itu Cantika masih sekitar umur 5 tahun dan masih jadi murid TK Pertiwi Jati di desa sini,” tutur Yeni. Cantika pun tercatat paling muda yang ikut latihan, lainnya siswa SD hingga SMA.

Cantika yang lahir pada tanggal 2 Januari 2009 itu menuturkan, dalam seminggu dirinya rutin berlatih dua kali. Hari Minggu di Padepokan sedangkan Kamis sore di SMk Maarif Bener bersama dengan siswa SMK tersebut yang  ikut ekskul pencak silat.

“Tapi kalau mau ikut turnamen latihannya setiap hari,” kata penyuka nasi goreng buatan ibunya itu. Hal itulah yang membuat mental Cantika benar-benar telah teruji. Dengan mantap ia mengungkapkan tidak takut atau grogi saat berhadapan dengan lawan.

Termasuk saat mengikuti kejuraan internasional di Bali. “Itu pengalaman paling berkesan karena selain banyak bertemu dengan atlet dari daerah lain,  juga bisa ketemu dengan berfoto bersama atlet pencak silat idola saya, Wewey Wita, yang juga atlet Asian Games,” kata Cantika.

Cantika dengan pakaian silatnya

Tak hanya orestasi di bidang olah raga. Ternyata Cantika juga punya prestasi akademik yang bagus di sekolah. Menurut penuturan ibunya, sejak SD Cantika selalu masuk 3 besar di kelasnya. Di MTsN 1 pun Cantika yang bercita-cita menjadi dokter itu menduduki rangking 2.

Cantika bahkan cukup selektif memilih sekolah sehingga ia memutuskan di MTsN 1 yang jaraknya puluhan KM dari rumahnya, meskipun di dekat situ ada SMP negeri dan juga sekolah berbasis agama lainnya.

Padahal untuk menuju sekolahnya, setiap hari Cantika harus berangkat pukul 05.15 WIB. “Saya bangun pukul 04.00 lalu berangkat sekolah diantar Ibu sampai halte Trans Jateng di dekat Pasar Kalijambe. Lalu turun di Plaza, kemudian jalan kaki sampai sekolah,” tutur penyuka mapel IPS itu sambil tersenyum.

Pulang sekolah,di sore hari dirinya masih harus berlatih. Kalau hari Minggu ia berlatih mulai pukul 08.00 hingga 10.00. Latihan fisik yang harus dijalaninya antara lain lari dan menendang peching.

Pemilik sabuk merah strip dua itu mengaku sangat senang saat menjalani latihan. Termasuk bila harus menjalani latihan setiap hari menjelang turnamen, Cantika tidak pernah bosan. “Pernah berhenti lama, sekitar sebulan karena harus konsentrasi ujian sekolah waktu kelas 6,” jelasnya.

Cantika bersama orang tua dan adiknya

Dalam jangka waktu dekat yakni di bulan September dirinya akan kembali mengikuti kejuaraan internasional di Bandung, tepatnya ITB. Ssperti saat mengikuti kejuraan sebelumnya, Cantika mengaku support dari pihak sekolah sangat besar.

Misalnya pada kejuaraan nasional di Banyuwangi dan Banten serta kejurin di Bali, pihak sekolah mensupport biaya pendaftaran serta akomodasi saat mengikuti lomba

“Alhamdulillah  dan terima kasih sekolah yakni M.TsN 1 sangat mensupport kegiatan anak saya sehingga dapat memacu semangatnya,” ujar ibu Cantika.

Meski menekuni pencak silat bidang tanding (fighting) yang selalu diikutinya di setiap pertandingan, Cantika juga tetap berlatih bidang seni. Saat ini, menurut penuturannya,  sudah menguasai 9 jurus tangan kosong dari 12 jurus silat yang ada

“Kalau dalam kelas tanding, yang paling sulit itu teknik jatuhan dan bantingan,” kata Cantika. Ia mengaku pernah dibanting lawan saat ikut Popda tahun 2020 lalu. Tapi pernah juga ia membanting lawan pada saat kejurnas di Banten.

Hepi Praptono

Saat ditanya motivasinya menekuni cabor pencak silat, Cantika menjawab minimal untuk melindungi dan menjaga diri sendiri.

Satu keinginan yang belum tercapai, kata Cantika, yaitu ingin ikut Porprov mewakili Purworejo. Sayangnya untuk Poprov kali ini dirinya belum cukup umur sehingga belum bisa mengikuti seleksi.

Pelatih H Muslimin yang membimbing Cantika sejak awal mengatakan, dilihat dari mental dan penguasaan materi tanding, nantinya Cantika bisa memiliki prestasi cemerlang. “Insya Allah Cantika punya peluang besar terutama di kelas tanding putri,” kata Muslimin saat ditemui di rumah sekaligus padepokan silat miliknya.

Selain itu juga perhatian dan dukungan dari orang tua serta sekolah, sangat penting dalam menunjang prestasi dan karir Cantika. Bisa dibayangkan bila tidak ada dukungan materi, maka berbagai lomba yang di luar daerah akan sulit diikuti.

Padahal berbagai kejuaraan tersebut akan sangat membantu dalam mengasah mental atlet serta menambah jam terbang bertanding yang dapat berpengaruh pada peningkatan prestasi.

“Kalau hanya mengandalkan dari kejuaraan seperti Popda serta latihan dari sekolah saja, jelas sangat kurang. Juga dukungan dari organisasi juga belum cukup memadai,” tegas Muslimin yang tercatat sebagai pengurus KONI Kabupaten Purworejo. (Dia)

Tinggalkan Komentar