Bruno, Kecamatan di Purworejo yang Kini Tidak Lagi Sepi dan “Ndesit”

BRUNO, Meski berada di pucuk wilayah barat laut kabupaten Purworejo yang merupakan kawasan pegunungan, Kecamatan Bruno kini tidak lagi menjadi wilayah terpencil. Hal itu karena saat ini telah terdapat pasar kuliner yang tetap buka hingga tengah malam.

Juga kafe sehat sebagai salah satu pusat relaksasi yang menjadi indikasi modernisasi mulai tumbuh di kecamatan berslogan Indah dan Barokah tersebut.

Ditemui di ruang kerjanya, Camat Bruno Netra Asrama Sakti, S.Sos, MT menyampaikan, image Bruno sebagai wilayah terpencil dan “ndesit” kini mulai berubah. Di Bruno sekarang tumbuh kafe-kafe sehingga tidak lagi sepi dan gelap seperti sebelumnya.

Netra merinci, Kecamatan Bruno memiliki luas 108,6 Km2 dengan jumlah penduduk lebih dari 54.000 orang yang terbagi dalam 18 desa, 87 RW, dan 334 RT.

“Mulai berdirinya pasar hingga malam hari juga sebagai upaya mendorong Bruno sebagai kota pariwisata, selain kota olah raga, dan pendidikan,” kata Netra yang selalu menyebut Kecamatan Bruno dengan istilah kota.

Netra Asmara Sakti

Ditambahkannya, beberapa desa dari Tegalsari sampai Plipiran sudah ramai. Di Tegalsari juga terdapat rest area yang ramai dikunjungi warga terutama pada sore hingga malam hari.

Selain itu pada malam hari pun sepanjang jalan raya di wilayah Bruno mulai ramai dilalui kendaraan yang menggunakannya sebagai jalan alternatif ke Wonosobo.

Terkait dengan maraknya pelaku UMKM di Kecamatan Bruno, Netra memberikan penjelasan.

“Saat ini ada 742 produk UMKM fari 18 desa yang berhasil didata, dari semula kurang dari 100 produk”.

Mereka pun difasilitasi melalui klinik UMKM yang lokasinya satu gedung dengan kantor kecamatan. Para pelaku UMKM itulah yang menghidupkan Bruno menjadi lebih bermartabat.

Dokar wisata menghiasi jalan raya Bruno

Netra menambahkan, ada beberapa sentra produk UMKM di Bruno. Seperti lanting kuning di Desa Brunosari, juga produk kopi Bruno yang mulai bersaing dengan produk kopi dari kecamatan lain. Selain itu produk kerajinan olahan kayu yang hampir ada semua desa.

Di bidang olah raga pun, Bruno tak kalah dengan kecamatan lain. Salah satunya dalam hal persepakbolaan, Bruno memiliki lapangan yang representatif di Desa Blimbing. “Bahkn hampir semua desa di Bruno punya lapangan sepak bola,” tambahnya.

Netra berprinsip, pembangunan infrastruktur bukan segala-galanya. “Tapi bagaimana kita membangun karakter SDM-nya, itulah yang paling penting,” tegas Netra yang selalu menancapkan slogan Bruno Indah dan Barokah kepada warganya yang hampir 1/3nya menjadi perantau.

Melalui slogan tersebut Netra tampaknya berhasil mengubah mindset Bruno baik warganya maupun masyarakat Purworejo pada umumnya. Bruno kini memang beda dari sebelumnya. (Dia)

Tinggalkan Komentar