Tiga Bulan Warung Makan Yu Rini Tutup: Potret Buram Dampak Covid-19 di Pantai Jatimalang

PURWODADI, Liburan lebaran biasanya dimanfaatkan oleh sebagian besar warga untuk berkunjung ke pantai sebagai obyek wisata favorit yang murah meriah. Tak terkecuali Pantai Jatimalang. Tapi apalah daya, dampak virus corona telah meluluhlantakkan berbagai sektor, termasuk sektor pariwisata dan penyedia jasa kuliner di Pantai Jatimalang.

Pengelola pantai Jatimalang, Sumino (56) yang ditemui di pos pengecekan pengunjung, Kamis (28/5), mengungkapkan, tahun ini pihaknya menutup akses menuju pantai demi keamanan warga dari ancaman virus corona. 

Sumino bertutur, sudah sebulan ini Pantai Jatimalang ditutup untuk umum. Akses menuju pantai dijaga 24 jam dengan sistem shift delapan jam sekali atau tiga shift. Masing-masing shift dijaga oleh empat petugas. 

Cara itu ditempuh untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Walaupun imbasnya pemasukan desa berkurang drastis hingga ratusan juta rupiah pada tahun ini.

Tentang ratusan pengunjung yang masih tetap nekad berusaha masuk ke area pantai, Sumino mengatakan, pihaknya secara persuasif menolak kedatangan mereka. 

“Kalau pemudik malah nurut ketika kami beri pengarahan. Tapi kalau wisatawan lokal malah ngeyel dengan segala macam dalih,” ujarnya. 

Namun dengan ketegasan akhirnya mereka terpaksa berbalik arah. Menurutnya, pengunjung paling banyak datang pada pagi dan sore hari.

Pintu masuk Pantai Jatimalang ditutup

Suasana lengang selain tampak di sepanjang pantai, juga tampak di area utama yakni di halaman Patung Dewa Ruci. Tak satupun pengunjung dan kendaraan berada di sana. Padahal biasanya tempat itu nyaris penuh sesak karena menjadi ikon spot selfi. 

Kepiluan juga dirasakan oleh Rini (50) pemilik warung makan Yu Rini. Wanita yang saat ditemui tengah duduk di kursi rumah makannya yang lengang itu bertutur, sudah sejak tiga bulan lalu ia menutup bisnis kulinernya. Pesanan terakhir yang dibatalkan adalah ratusan boks makanan dari langganannya karena tidak jadi menggelar acara.

Rini lalu membandingkan suasana lebaran tahun lalu. “Biasanya  pengunjung  sampai antri makan di sini Mbak,” tuturnya sambil menatap puluhan meja di hadapannya yang kosong tanpa pembeli. 

Tahun lalu ia bahkan sampai tidak sempat beristirahat hingga larut malam karena pengunjung datang terus menerus.

Sekarang ini bila ada pesanan hanya bisa disampaikan melalui pos pengecekan pengunjung, karena area pantai ditutup untuk umum. Pesanan melalui WA kemudian akan diantar ke pos tersebut.

Meski demikian Rini menuturkan dirinya tidak begitu risau karena banyak pihak yang terdampak. Ia hanya bisa mengambil hikmah bahwa dirinya bisa meluangkan waktu untuk beristirahat.

“Alhamdulillah ada cadangan tabungan yang bisa digunakan untuk menutup kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.

Namun mau sampai kapan situasi seperti ini berlangsung? Entahlah, Rini hanya bisa berharap roda ekonomi segera berputar lagi. (Dia)

Tinggalkan Balasan