Bedah Buku Moderasi Beragama: Konten Ujaran Kebencian Lebih Dominan Dibanding Judi Online dan Pornografi

PURWOREJO, Moderasi beragama sangat diperlukan karena adanya fenomena persoalan ujaran kebencian dan gesekan akibat SARA yang makin seru. Terutama pasca Pilgub DKI yang berujung konflik dan saling benci dengan mengatasnamakan agama. Data dari Kominfo RI menyebutkan terjadi peningkatan yang signifikan pada konten berisi ujaran kebencian di internet. Padahal awalnya didominasi oleh konten judi online dan pornografi.

Hal itu dikemukakan oleh Kasubag TU Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Rizki Royadu Taufik saat membuka acara bedah buku “Moderasi Beragama” dan sarasehan di STAINU Purworejo. Acara yang diadakan Selasa (12/7) itu merupakan kerjasama STAINU dengan Balitbang dan Diklat Kemenag RI.

Lebih rinci Rizki mengatakan, di akar rumput, perbedaan pilihan pada pilpres lalu telah mengakibatkan banyak efek. Misalnya perceraian suami istri atau pertengkaran dengan tetangga atau teman di grup.

“Itulah sebabnya kami bersama dengan Kominfo RI, Menhan, serta Badan Intelejen Negar (BIN) menggagas buku Moderasi Beragama yang saripatinya berasal dari agama yang sudah ada di Indonesia,” kata Rizki di hadapan peserta acara.

Ketua STAINU Mahmud Nasir menyerahkan buku kepada Rizki Riyadu Taufik

Rizki lalu merinci empat poin dasar dalam buku setebal 163 halaman itu. Yakni  menghargai perbedaan. Hal tersebut sudah dilakukan selama berabad-abad, terutama antar umat Islam sendiri, yakni antara NU dan Muhammadiyah.

Poin kedua yakni menolak kekerasan, yang sudah dilakukan sejak dahulu kala. Rizki menyebutkan bahwa tidak ada konflik agama yang menyebabkan hilangnya suatu kekuasaan.

“Hilangnya kerajaan Mataram di jaman agama Hindu bukan karena konflik agama melainkan akibat konflik politik,” ucapnya.

Poin ketiga, menghargai kearifan lokal berupa budaya alami yang tidak usah ditolak mentah-mentah. Poin terakhir yakni menegakkan dan taat terhadap hukum. Saat menerima Indonesia sebagai negara kita, kata Rizki, maka konsekuensinya kita harus menerima semua aturan yang ada.

“Empat poin itulah yang berusaha dihidupkan agar efek ujaran kebencian dapat diredam. Apalagi tidak lama lagi kita akan menghadapi pemilu 2024 yang pemanasannya sudah dimulai dari sekarang,” kata Rizki.

Peserta acara bedah buku di aula STAINU

Dalam bedah buku yang dihadiri mahasiswa dan pengurus NU itu dihadirkan tiga pembicara. Yaitu R. Mibtadin, RR Nurul Qomariyah, dan HM Djamal dengan moderator Abdul Aziz, dosen STAINU.

Ketua PCNU KH Farid Solihin pun mengapresiasi STAINU yang mengadakan acara tersebut. Baginya acara bedah buku merupakan kontribusi yang diberikan STAINU kepada masyarakat untuk menjaga kondusifitas.

“Keragaman bangsa merupakan amanat Allah yang wajib dirawat oleh semua masyarakat.
Toleransi saat inipun sudah dimodernisasi dan
dikembangkan melalui pendidikan keluarga,” katanya.

Ketua STAINU Mahmud Natsir berharap agar acara bedah buku yang digelar di kampusnya  dapat menambah kerukunan internal maupun eksternal antar umat beragama. (Dia)

Tinggalkan Komentar