Baru Sepertiga RS dan Klinik di Purworejo yang Lapor Penanganan Kasus TBC

PURWOREJO, Di Kabupaten Purworejo terdapat delapan rumah sakit (RS) baik pemerintah maupun swasta dan 23 klinik swasta. Namun selama ini baru tujuh RS dan satu klinik yang melaporkan kasus Tuberkulosis (TBC) ke Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo. Ini menunjukkan masih banyak klinik yang belum melaporkan pasien tuberkulosis yang ditemukan dan diobati.
Fakta itu terungkap dalam forum pembentukan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia untuk Penanggulangan Tuberkulosis (KOPI TB) Kabupaten Purworejo, di Auditorium RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo, Kamis (29/8). Pertemuan diikuti oleh 55 peserta berasal dari Bagian Kesra Setda, Bappeda, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, KOPI TB Provinsi Jawa Tengah, RSUD Dr Tjitrowardojo, Dinas Kesehatan dan organisasi profesi.
Dalam forum itu diungkapkan, rendahnya temuan kasus TBC di Kabupaten Purworejo antara lain disebabkan belum adanya organisasi profesi dalam penanggulangan tuberkulosis. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pendekatan khusus bagi praktisi dengan membentuk Koalisi Organisasi Profesi.

Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Program tuberkulosis merupakan salah satu program yang masuk ke dalam Standar Minimal Prosedur (SPM) dan mempunyai beberapa indikator yang harus dicapai.

Kabupaten Purworejo masih rendah baik dalam capaian SPM maupun capaian per indikator. Target SPM Kabupaten Purworejo sebanyak 9.984 (Sembilan ribu sembilan ratus delapan puluh empat) suspek dan sampai dengan semester I tahun 2019 baru mencapai 2.292 (dua ribu dua ratus Sembilan puluh dua) (23%) dan ini masih jauh dari target yang ditetapkan.

Organisasi profesi sudah terlibat dalam kegiatan penanggulangan TBC namun masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga perlu diadakan koalisi yang terintegrasi dan saling bekerjasama.

Direktur RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo Drg Gustanul Arifin, M.Kes mengatakan, penyebab TB multi faktor sehingga jika tidak melibatkan semua pihak maka mustahil melakukan pencegahannya secara maksimal. Untuk mengeliminasi harus dapat menemukan kasus TB sebanyak-banyaknya dan mengobatinya sesuai standar agar tidak terjadi penularan yang baru.

“Masing-masing organisasi profesi wajib melakukan penjaringan terhadap pasien yang memiliki ciri-ciri gejala TB kemudian dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut,”pungkasnya. (R)

Tinggalkan Komentar