Banjir di Grabag dan Butuh Mulai Surut, Dapur Umum Ditutup

GRABAG, Wakil Bupati Yuli Hastuti SH bersama Wakil Ketua DPRD Kelik Susilo Ardani, SE meninjau wilayah terdampak bencana banjir di sejumlah desa di Kecamatan Grabag dan Butuh, Senin (21/1). Lokasi yang ditinjau yaitu Desa Trimulyo, Desa Rowodadi, dan Desa Bendungan wilayah Kecamatan Grabag, serta meninjau Desa Kedungmulyo Kecamatan Butuh.

Wabup Yuli Hastuti yang didampingi Camat Grabag Ahmad Jaenudin, SIP, meninjau dapur umum di Desa Bendungan. Turut mendampingi Kasi Rehabilitasi bencana alam dan sosial Dra Dede Yeni Iswantini yang juga sebagai Ketua TP PKK Kecamatan Grabag.

Yuli Hastuti mengatakan, meski dapur umum hari ini dinyatakan ditutup menyusul banjir yang sudah mulai surut. Namun yang juga harus menjadi perhatian adalah penanganan paska bencana banjir. Terutama melakukan antisipasi, kemungkinan-kemungkinan warga yang terdampak banjir terserang penyakit gatal-gatal, pusing, diare, atau yang lain.

“Kami harap Dinas Kesehatan memantau dan melakukan penanganan paska banjir. Termasuk pemenuhan obat-obatan, sehingga masyarakat tetap terjaga kesehatannya,” harapnya.

Demikian juga untuk sembako yang masih ada di Posko dapur umum, Yuli Hastuti meminta sembako yang sisa supaya dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Walaupun dapur umum sudah ditutup, namun bantuan sembako yang masih ada merupakan haknya masyarakat yang terkena banjir. Kami dari pemerintah kabupaten, insyaallah akan terus melakukan pemantauan hingga paska banjir, untuk memastikan masyarakat benar-benar diopeni dengan baik,” tutur Yuli Hastuti.

Kelik Susilo Ardani mengatakan, pada prinsipnya banjir di 4 desa ini merupakan permasalahan tahunan. Tentunya harus ada beberapa solusi dengan kajian-kajian. Antara lain pintu air yang ada di sungai Kedungmulyo sangat mendesak untuk dilebarkan, juga normalisasi sungai karena selama ini belum selesai. Termasuk pembangunan pintu air Bojong di Desa Aglik, Grabag untuk segera diselesaikan.

Sedangkan untuk wilayah Butuh, lanjut Kelik Ardani perlunya normalisasi Sungai Dlangu agar segera direalisasikan. Termasuk perbaikan pengaturan klep air di pintu-pintu air, karena klep pengaturan pintu air banyak yang rusak.

Kalau kerusakan didiamkan, lanjutnya, menjadikan air masuk ke permukiman penduduk. Bahkan ada keluhan dari warga, tentang pintu airnya yang terlalu kecil sehingga pembuangan airnya juga kecil.

“Tentunya dalam waktu dekat kita duduk bersama membahas dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), karena Sungai Dlangu kewenangan nasional. Kami ingin secepatnya pembahasan bisa dilakukan, agar dapat merumuskan kebijakan antara Pemerintah Daerah dengan pemerintah pusat. Sehingga diharapkan banjir tahunan ini bisa ada solusinya dan tidak berulang,” tandas,” Kelik Ardani.

Sementara itu Camat Jaenudin menjelaskan, kondisi terakhir wilayah banjir di wilayahnya yakni air di pemukiman sudah surut, tinggal 3 rumah yang tergenang air lebih dari 10 cm. Sedangkan secara umum warga sudah dapat melaksanakan kegiatan dengan normal.

“Atas dasar ini maka Dapur Umum dinyatakan ditutup. Namun untuk bantuan tetap akan diterima baik berupa sembako, obat-obatan, alas tidur, maupun alat kebersihan. Nantinya akan disalurkan sesuai kebutuhan warga dan yang berhak memperoleh bantuan,” jelas Jaenudin. (Nas)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *