Aplikasikan Projek Kearifan Lokal, SMPN 32 Purworejo Gelar Aneka Makanan, Kerajinan, dan Tarian Khas

KEMIRI, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (5P) yang mengangkat kearifan lokal terus digaungkan di sekolah-sekolah, tak terkecuali di SMPN 32 Purworejo. Pada Kamis (6/10), di tengah guyuran hujan, seluruh siswa kelas 7 beserta orang tua mereka mengikuti acara Projek Kearifan Lokal berupa Gelar 5P di sekolah tersebut.

Pengawas Dabin Kukuh Ujianto, M.Pd yang membuka Gelar P5 dengan memotong pita didampingi oleh Kepala SMPN 32 Murtiningsih, M.M.Pd dan waka kurikulum, disaksikan seluruh peserta acara.

Usai pemutaran film tentang aksi nyata pelaksanaan P5 dan seni pertunjukan daerah baik tarian maupun lagu-lagu daerah dari siswa, para peserta juga menyaksikan gelar makanan khas dan kerajinan.

Setelah puas menyaksikan kegiatan tersebut orang tua/wali siswa menerima hasil Penilaian Tengah Semester (PTS) semester gasal di kelas putra putri mereka.

Dalam sambutannya Kepala SMPN 32 Murtiningsih menyampaikan, ini merupakan pertama kali sekolahnya mengadakan Gelar P5. Kegiatan yang digelar oleh siswa kelas 7 itu merupakan implementasi dari Kurikulum Merdeka.

Pengawas Dabin Kukuh Ujianto didampingi KS Murtiningsih saat pembukaan Proyek 5P

“Salah satu ciri Kurikulum Merdeka, selain siswa mempunyai nilai pengetahuan dan keterampilan juga mempunyai nilai P5,” ucap Murtiningsih. Adapun tema yang dipilih adalah Kearifan Lokal.

Kepala sekolah menambahkan, hasil aksi nyata yang dipamerkan berupa olahan makanan khas daerah, membuat kerajinan tangan khas, dan seni pertunjukan lokal. B

“Bapak Ibu bisa menyaksikan hasil karya yang disajikan oleh anak-anak kita. Dari makanan khas daerah disajikan seperti gebleg, tiwul instan dan rengginang ketela. Kerajinan khas daerah menyajikan kerajinan dari bambu, pot bunga dari sabut kelapa. Sedangkan seni pertunjukan daerah menampilkan tarian antara lain dolalak dan lagu,” imbuhnya.

Disamping itu disajikan juga karya batik ecoprint yang menggunakan pewarna alam dari daun-daun yang berasal dari sekitar lingkungan sekolah.

Ditegaskan pula, P5 lebih menekankan pada pembentukan nilai-nilai atau karakter selama proses pembuatan karya. Selama tiga minggu pelaksanaan P5 siswa dilatih untuk menggali informasi yang berkaitan dengan kearifan lokal, melakukan observasi, dan selanjutnya menampilkan aksi nyata secara berkelompok melalui Gelar P5.

Gelaran aneka makanan khas yang dipamerkan dalam Proyek 5P

Menurut Murtiningsih, selama proses pelaksanaan P5 siswa dilatih untuk lebih bernalar kritis, mandiri, kreatif, percaya diri, dan juga gotong royong atau bekerja sama.

Juga melatih pembelajaran sesuai bakat, minat, dan potensi yang mereka miliki. Hal itu karena masing- masing anak memiliki kodrat alam dan kodrat zaman.

Di sisi lain pengawas dabin Kukuh Ujianto menyebutkan, kehadiran orang tua siswa sangat berarti bagi sekolah. “Dengan hadir ke sekolah berarti orang tua atau wali siswa turut andil dalam pembentukan karakter,” katanya.

Adapun karakter yang diharapkan dari proses pelaksanaan P5 adalah berketuhanan, berkebhinekaan global, bernalar kritis, mandiri, gotong-royong, serta kreatif.

“Dari proses pendidikan khususnya dengan P5 diharapkan anak-anak kelak akan menjadi anak-anak yang tangguh, anak-anak yang kuat yaitu anak yang berpengetahuan dan berkarakter Pancasila,” pungkasnya. (Dia)

Tinggalkan Komentar