Andhi Prasetyawan, Calon Kades Trirejo: Kades Bukan Pekerjaan, Melainkan Pengabdian

MENINGGALNYA Kepala Desa Trirejo, Kecamatan Loano, Dwi Darwaman (Wawan) di tengah masa jabatannya, 6 Maret lalu, mengakibatkan desa mengalami kekosongan kepemimpinan. Sisa masa jabatan empat tahun mengharuskan adanya kepala desa baru melalui mekanisme pemilihan pergantian antar waktu (PAW).

Salah satu calon yang digadang-gadang mampu menjadi pengganti almarhum Wawan yakni Andhi Prasetyawan. Sosok pria 40 tahun itu dikenal kalem dan santun. Saat ditemui di rumahnya di Desa Trirejo RT 3 RW 2, bapak tiga orang putra itu memang terkesan pendiam.

Andhi merupakan putra asli kelahiran Desa Trirejo. Rumah asri yang kini ditempati, menurutnya, merupakan rumah orang tuanya yang kemudian “disusuki” dan kini ditinggali bersama istri dan tiga putranya, yakni Rendy Aditya Saputra (19), Lintang Surya Nagari (18), dan Abhifandia Anelo (1).

Ketika ditanya jarak kelahiran putra pertama dengan kedua yang sangat dekat, Andhi menjawab, “Biar sekalian,”. Tapi ketika ditanya jarak kelahiran putra kedua dengan ketiga yang sangat jauh, dengan tersipu Andhi menjawab, “Kebobolan”.

Meski begitu, dirinya bersyukur, putra ketiganya justru memiliki pertumbuhan yang pesat bahkan cenderung lebih cerdas dibanding dengan teman seusianya. “Alhamdulilah, semua ada hikmahnya,” ujarnya santai.

Andhi bersama istri dan tiga putranya

Sulung dari dua bersaudara itu pun berkisah tentang perjalanan hidupnya. “Saya bukan berasal dari keluarga mampu meskipun mbah saya merupakan seorang Glondong .  Selepas SMA saya sempat berkelana ke Jakarta, bekerja serabutan,” kenangnya.

Setelah menikah, iapun kembali  ke Purworejo dan kembali bekerja seadanya. “Saya pernah bekerja di pom bensin dan juga jadi supir. Semua saya lakukan yang penting halal”.

Roda kehidupan Andhi mulai berputar ke atas mulai 11 tahun lalu yakni ketika dirinya diajak “main kayu” oleh tetangganya, Pak Solahudin. Waktu itu dirinya baru sebatas bertugas mencari kayu, dari desa ke desa. Di sana Andhi ikut selama tiga tahun sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sendiri.

Berbekal pengalamannya, Andhi kini terbilang  sukses menjalankan bisnis pengolahan kayu yang diberinya label Karya Kayu. Setidaknya ada tiga tempat pengolahan kayu yang didirikan, salah satunya di Wadaslintang.

Selain berbisnis, Andhi juga menyalurkan hobi grass track dan mewariskan kepada putra sulungnya, Rendi, yang sudah mulai membalap sejak kelas V SD.

Andhi dan bonsai pohon serut kesayangannya

Puluhan piala kejuaraan tampak berjajar di lemari khusus. Sebagian merupakan piala hasil lomba Rendi, dan sebagian lagi merupakan piala hasil dari joki motor yang dipinjamkannya kepada pembalap Banten.

Hobi lainnya, yakni mengoleksi bonsai. Ada cukup banyak bonsai menghiasi halaman rumahnya. Dengan merendah Andhi menyebut hobi yang mulai ditekuninya delapan tahun lalu  itu sebagai selingan saja. Di samping rumahnya yang luas, berjejer puluhan bonsai berukuran besar berharga hingga puluhan juta per pohon.

Salah satunya bonsai pohon serut yang dibelinya seharga Rp 40 juta dan pernah diikutkannya dalam kontes bonsai di Wonosobo dan meraih pita merah atau kategori baik sekali.

Dengan kesuksesannya kini, bukan hal yang sulit bagi Andhi untuk tebar pesona dalam “pertarungan” ajang pilkades PAW Juli mendatang. Tapi Andhi tetap memilih bersikap lembah manah dengan prinsip kejujuran yang dipegang teguh.

“Waktu itu memang saya diminta oleh tokoh masyarakat agar bersedia menjadi Kades menggantikan almarhum. Saat itu saya sampaikan pinangan itu kepada kedua orang tua, mertua dan juga istri. Saat mereka merestui, saya baru menerima tawaran itu,” ucap Andhi.

Kejujuran adalah prinsip hidup yang jadi pegangan Andhi

Putra Bapak Sutarjo dan Ibu Tuti Rahayu itu memang bukan orang baru di Desa Trirejo. Andhi lahir dan dibesarkan di desa yang memiliki lima dukuh dengan 15 RT dan lima RW itu. “Sekolah saya di SDN Trirejo, SMP-nya di SMPN 3  (sekarang SMPN 4), dan SMAnya di SMK PN,” tutur penyuka sayur lodeh ini.

Terkait dengan almarhum Wawan, Andhi yang berperawakan tinggi itu menyebut, dirinya menjadi relawan saat Wawan mencalonkan diri menjadi kades. Begitu Wawan meninggal dan warga mendorongnya untuk maju, barulah Andhi mulai memikirkan langkah selanjutnya.

“Selama ini saya sama sekali tidak terpikir untuk jadi kades. Baru sekarang inilah. Itupun karena dorongan banyak pihak,” ucap Andhi merendah.

Meski begitu, dirinya sudah punya skala prioritas program kerja.  Yakni menghidupkan kembali pasar rakyat/pasar tradisional di Sejiwan yang dulu pernah jaya.

Bagi Andhi, jabatan kepala desa merupakan ladang pengabdian, bukan pekerjaan. “Insya Allah pekerjaan saya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya sekeluarga,” begitu katanya.

Andhi begitu dekat dengan bonsai-bonsainya

Selain itu, dengan menjadi kepala desa, ia bisa menyalurkan keinginannnya untuk  mengurangi pengangguran melalui kegiatan semacam pelatihan ketrampilan.  Termasuk juga mendongkrak perekonomian masyarakat melalui pasar tradisional dan juga pasar hewan di Desa Trirejo.

Sejauh inipun Andhi telah menyerap aspirasi masyarakat, salah satunya agar membangun balai desa yang representatif. Juga membenahi saluran irigasi. “PR-nya banyak. Tapi Insya Allah bisa diselesaikan bersama masyarakat,” kata Andhi.

Senada dengan Fatah Kusumo Handogo (Attah), Kades Kebon Gunung, Kecamatan Loano yang masih sepupu dengannya, Andhi juga  berjanji akan mengutamakan kepentingan musyawarah untuk mufakat dan tidak otoriter.

Filosofi hidupnya yakni mengutamakan kejujuran,  benar-benar dijalaninya. Hal itu pun ditanamkan kepada keluarganya. Ia mengaku merintis usaha dari minus sehingga sadar betul arti kejujuran. Termasuk nantinya dalam pengolahan dana desa, menurutnya, harus transparan.

Sebelum benar-benar “bertarung” dengan calon lainnya, saat ini Andhi tengah melakukan sosialisasi terkait Pilkades PAW, dimana pemilihnya hanya 10% dari pemilih yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal itu karena masih banyak warga yang kurang paham dengan prosentase pemilih dalam proses pemilihan kades kali ini.

Dari 2.200 DPT yang ada, nantinya hanya 10% atau 220 warga Desa Trirejo yang punya hak suara. Kita tunggu saja hasilnya. (Dia)

 457 kali dilihat,  11 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *