Akibat Cuaca Tak Menentu, Tahun Ini Tidak Ada Panen Raya Durian di Somongari

PURWOREJO, Musim durian kali ini, Purworejo yang selama ini terkenal dengan duriannya terutama dari Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, gagal panen raya. Penyebabnya, cuaca yang tidak menentu sehingga bunga durian tidak berproduksi secara maksimal.

Pernyataan itu disampaikan oleh Bagyo (54) Kapela Desa Somongari yang juga dikenal sebagai pemasok durian. Bagyo menyebutkan, pada musim panen durian kali ini hanya 5% pohon yang berbuah. Lainnya tidak berbuah karena bunganya rontok oleh curah hujan yang turun tak menentu.

“Biasanya satu pohon bisa menghasilkan 200 hingga 300 buah durian. Tapi kali ini hanya menghasilkan sekitar lima buah tiap pohon. Dari 100 pohon yang saya miliki, hanya panen sekitar 500 buah durian. Padahal biasanya sampai puluhan ribu durian. Penyebabnya, hujan yang datang tidak menentu, jadi bunganya tidak maksimal, banyak yang rontok,” ungkap Bagyo.

Bagyo, Kades Somongari

Menurutnya, akibat sedikitnya pasokan durian, harganya menjadi mahal. Selain itu musim durian menjadi lebih pendek dari biasanya. Tahun lalu biasanya mulai bulan November dan puncaknya pada bulan Januari hingga bulan Maret masih berlangsung.

Tapi kali ini, menurut Bagyo, hanya berlangsung dari bulan Desember hingga akhir Januari. Bulan Februari ini sudah tinggal sedikit. Desa Somongari selama ini memang dikenal sebagai sentra durian lokal. Tidak hanya di Kabupaten Purworejo, tapi juga se-Jawa Tengah.

Durian lokal Somongari yang terkenal cita rasanya yang pahit legit itu dipasok ke beberapa daerah. Seperti Semarang, Purwokerto, dan tentu saja Yogyakarta yang secara geografis lebih dekat.

Penjual durian di Desa Somongari

Desa berpenduduk 900 KK itu sebagian besar warganya, atau lebih dari 80% memang mempunyai pohon durian yang diwariskan secara turun temurun. Paling tidak, menurut Bagyo, satu KK minimal punya 20 pohon durian lokal yang ditanam di kebun-kebun yang berada di seputar rumah.

Durian lokal dengan kualitas super, kata Bagyo, dijual dengan harga Rp 75.000 di tingkat petani. “Dijamin ukurannya jumbo dan rasanya khas, pahit legit,” tuturnya.

Ia berharap, pada musim durian berikutnya dapat mengalami panen raya, seiring dengan harapan berakhirnya pandemi Covid-19. (Dia)

 752 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *