Bertemu 2 Jam, PKL Alun-alun dan Pemkab Berdamai

PURWOREJO, Pemkab Purworejo dan Pedagang Kaki Lima (PKL) Alun-alun akhirnya berhasil mencapai kesepakatan damai. Paguyuban PKL Perdamaian dicapai setelah kedua belah pihak bertemu di Ruang Asisten I Sekda, Jumat (26/1) sore.

Pihak Pemkab diwakili Asisten II Gandi Budi Supriyanto Ssos, Plt Kepala Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kendrasmoko Ssos Msi dan JPN selaku kuasa hukum Pemkab.

Sedangkan PKL diwakili oleh Ketua Paguyuban PKL Pendowo Tri Kurniawantoro, pendamping Hery Priyantono dan beberapa perwakilan lainnya.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan itu juga dihadiri oleh unsur Satpol PP Damkar, unsur Kodim, Polres serta sejumlah pengurus Primkopad.

Kesepakatan damai ini akan ditindaklanjuti dengan penandatangan akte perdamaian, yang rencananya akan dilakukan sebelum sidang berikutnya di Pengadilan Negeri.

Nantinya, setelah akte perdamaian ditandatangani, PKL bisa langsung masuk ke lokasi Romansa Kuliner Purworejo. Dan selama waktu menunggu penandatanganan akte perdamaian, para pedagang sanggup tidak menggelar dagangan di kawasan relokasi sementara yang memang sudah dilarang.

Dalam pertemuan tersebut, pada intinya PKL menginginkan berada dalam naungan pembinaan Pemkab. Selain itu, PKL berharap tidak dibebani biaya yang memberatkan.

Terhadap kekhawatiran tersebut, pihak Pemkab menjelaskan bahwa nantinya akan dimotivasi agarr membentuk koperasi PKL.

Melalui koperasi tersebut, otomatis PKL masih tetap dibina oleh DinKUKMP, dan tidak akan dilepas begitu saja. Selain itu, mereka juga akan tetap difasilitasi dalam berhubungan dengan perbankan.

Sedangkan mengenai biaya yang harus dikeluarkan, ternyata tidak sebanyak yang ditakutkan pedagang.

Dari perhitungan berdasarkan NJOP tahun 2018, setiap PKL hanya akan mengeluarkan biaya sekitar Rp 7.000 sampai Rp 10.000 perhari.

Namun demikian biaya itu belum akan dibebankan, karena selama satu tahun ke depan PKL dibebaskan dari biaya sewa shelter.

Selain itu juga bebas pajak restoran selama tiga bulan, yang sebenarnya pajak itu dibebankan kepada pembeli.

PKL juga bisa berjualan selama 24 jam, berbeda dengan selama berada di Alun-aluni yang hanya bisa berjualan pada malam hari. Sehingga diharapkan pendapatan yang diperoleh bisa lebih banyak lagi. (Nas)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *