Kape Kapi Plaosan, Sensasi Menikmati Kopi dan Geblek dari Tepi Sungai Bogowonto

PURWOREJO, Ada tempat nongkrong anyar yang asyik di tepi Sungai Bogowonto. Namanya Kape Kapi. Baru resmi dibuka 12 hari lalu, tapi tempat ini sudah didatangi banyak warga yang penasaran ingin menikmati sensasi menikmati makan dan minum sambil bersantai ngobrol dengan view hamparan sungai yang airnya tenang mengalir.

Lokasinya berada di Kampung Plaosan RT 01/16 Kelurahan Purworejo, Kecamatan Purworejo. Letaknya hanya 1 Km dari pusat kota Purworejo. Arah masuknya bisa dari Gang Buntu Jalan Nyai Laos atau bisa dari jalan turunan seberang samping Kantor Pegadaian Purworejo.

Bagi yang ingin bernostalgia mengingat masa kecil saat bermain di tepi sungai maupun mereka yang suka dengan suasana alam, tempat ini cocok untuk dikunjungi. Apalagi menu yang ditawarkan sangat ramah di kantong.

Harga makanannya mulai Rp 1.000 untuk satu potong perkedel hingga harga termahal yakni sop senerek yang dibandrol Rp 10.000/porsi.  Selain perkedel, kudapan murah meriah lainnya yakni sate telur Rp 3.000.

Juga tempe mendoan isi tiga potong berukuran besar hanya dihargai Rp 5.000. Menu lainnya yakni pecel, geblek, dan kentang goreng.

Harga minuman pun sama murmernya, dari Rp 2.000 untuk teh hangat atau es teh, hingga Rp 10.000 untuk aneka minuman kekinian. Paling direkomendasikan yakni telang moctail yang dibandrol seharga Rp 5.000.

“Ibaratnya punya uang Rp 5.000 sudah bisa dapat ‘teman’ buat nongkrong sambil menikmati semilir angin di tepi sungai. Meskipun kalau tidak beli apa-apa, hanya numpang duduk-duduk saja juga boleh,” kata Eko Widi Santoso (39), pengelola Kape Kapi saat ditemui Purworejo News, Rabu (20/10) sore.

Kape Kapi kata Eko, merupakan rangkaian dua  buah kata yakini  kape dan kapi. “Kape merupakan bentuk pengucapan mudah dari kata kafe (tempat minum kopi). Adapun kapi dalam Bahasa Jawa berarti penyangga awal,” terangnya.

Waktu penyajiannya pun tidak lama. Hanya menunggu sekitar lima menit, makanan dan minuman yang dipesan sudah langsung datang. Hal itu menurut Eko, merupakan adaptasi baru setelah sebelumnya pengelola Kape Kapi kewalahan melayani pengunjung.

Eko berkisah, semula lokasi yang kini dijadikan tempat kongkow asyik itu merupakan tempat pembuangan sampah oleh warga Plaosan. “Sekitar empat bulan lalu kami menyulapnya menjadi sebuah lahan untuk melepas penat,” terangnya.

Eko sang kreator Kape Kapi

Tadinya tempat itu hanya ditujukan  warga sekitar untuk bersantai di tepi sungai. Tapi ternyata banyak warga dari luar Kampung Plaosan yang datang ke tempat itu dan ingin ada menu makan dan minum.

Akhirnya tempat itu menjadi kafe dadakan yang dikelola seadanya. “Karena SDM belum siap, kami banyak mendapat komplain,” kata Eko.

Tak dinyana, animo masyarakat untuk berkunjung ke Kape Kapi begitu besar. Jadilah 20 pemuda yang ada di kampung itu dikerahkan untuk melayani pengunjung. Semula bermodal pengetahuan pelayanan seadanya.

“Tapi Alhamdulillah kami belajar dari komplain para pengunjung serta tekad kami untuk memberikan pelayanan terbaik. Akhirnya kami bisa mengubah pola pelayanan yang jauh lebih baik dari waktu sebelum kami resmi buka,” kata Eko.

Di  lokasi itu, selain disediakan 40 kursi panjang dan 30 meja di area open space, juga tersedia ruang in door yang bisa digunakan untuk pertemuan sekitar 50 orang. Tempat itu, kata Eko, semula dimanfaatkan sebagai sanggar oleh warga sekitar.

Tiga pengunjung putri sedang berswafoto dengan latar belakang Sungai Bogowonto

“Untuk reservasi pertemuan kegiatan sosial gratis. Sedangkan untuk pertemuan biasa ada charge makanan yang sebagian atau semua diambil dari kami. Biaya tempat bisa dinegosiasi sesuai banyaknya tempat yang pakai dan jumlah orang. Intinya fleksibel,” imbuh Eko.

Bersama Ponidi, rekan kerjanya, Eko mengeluarkan modal untuk membangun lokasi itu, termasuk memanfaatkan rumah kosong milik warga yang sudah tidak dipakai. Digunakan untuk dapur, kasir, sekaligus ruang untuk para kru Kape Kapi berinteraksi.

Bagi Eko, Kape Kapi merupakan tempat nostalgia menikmati masa kecil bermain di sungai. Di tempat itu pula, pengunjung masih bisa menyaksikan anak-anak  Kampung Plaosan berenang di tepi sungai.

Juga para pemancing yang berdatangan untuk mencari ikan sebagai hiburan. Ini menjadi pemandangan tersendiri bagi pengunjung yang datang untuk kongkow bersama.

Di saat musim banjir, lanjut Eko, ada bonus pemandangan yakni melihat arus sungai yang deras dan kadang banjir. Adapun di musim kemarau pengunjung bisa memberi makan ikan di sungai saat air jernih.

Pemandangan Kape Kapi di waktu malam

Meski tidak menyuguhkan view saat sunset, pada malam purnama pun pengunjung bisa merasakan sinar bulan yang jatuh berkilauan di air sungai sambil merasakan hembusan semilir angin malam.

Konsep back to nature dengan keasyikan seperti itulah yang membuat Eko tidak berhasrat untuk memasang jaringan wifi di Kape Kapi.

“Saya tidak ingin nuruti kemauan jaman. Sebab kalau ada jaringan wifi, mereka akan asyik dengan HP masing- masing, sehingga kebersamaannya menjadi semu,”  terang Eko.

Tak hanya itu, Eko dan Ponidi juga berencana akan membuat link dengan kampung di seberang sungai yakni Kampung Kedungdsari.

Konsepnya, kata Eko, yakni naik gethek (rakit dari bambu untuk menyeberang sungai) dari Plaosan ke Kedungsari. Di sana (Kedungsari) juga akan disediakan tempat kuliner makanan khas desa tersebut, yaitu gethuk.

Banyak pula pengunjung dari kalangan milenial

“Ini sedang kami konsep,” kata Eko didampingi Ponidi. Selain itu mereka juga ingin menggarap lahan di tepi sungai sebagai area camping ground.

Kalau air sungai meluap pun, kata Ponidi, sudah bisa diantisipasi. Hal itu karena seluruh kru yang merupakan warga Plaosan sudah hafal dengan karakter sungai Bogowonto yang seolah menjaga nadi kehidupan mereka.

Baik Eko maupun Ponidi menyadari bahwa konsep yang mereka suguhkan bertumpu pada kondisi alam. Kalau hujan, otomatis pengunjung tidak bisa kongkow di tepi sungai yang open space.

Tapi pihaknya sudah mengantisipasinya. Yakni dengan menyediakan tempat berteduh di ruang pertemuan. Juga di pawon yang memang disediakan untuk pengunjung bila ingin menikmati sensasi berada di depan tungku api.

Demi menjaga kualitas dan kenyamanan pengunjung, Eko membekali mereka yang bertugas mengelola parkir untuk bersikap profesional dan jujur.

Ruang pertemuan yang dapat menampung 50 pengunjung

“Parkir motor harus Rp 1.000 sedangkan parkir mobil Rp 2.000. Kalau uangnya lebih harus dikembalikan, kecuali bila diberi oleh pemilik kendaraan,” tegas Eko yang menerapkan sistem open management kepada semua kru Kape Kapi.

Kape Kapi buka mulai pukul 10 pagi hingga pukul 10 malam. Eko merekomendasikan pengunjung agar datang pada sore hari. Tak ayal, pengunjung membludak pada sore hari.

“Selain cuaca tidak panas, pengunjung juga lebih asyik bercengkrama sambil menikmati semilir angin sore. Atau datang saat malam purnama untuk menikmati sinar bulan di sini,”  kata Eko.

Meski bukan berkonsep wisata, Kape Kapi nyatanya bisa membuat pengunjung bisa mendapatkan atmosfer rekreasi murah meriah berupa kearifan lokal yang disuguhkan melalui hamparan sungai Bogowonto dengan segala aktivitas warga sekitarnya.

Seperti namanya, Eko pun berharap Kape Kapi dapat menjadi tonggak perekonomian warga khususnya warga Kampung Plaosan Blumbangan yang merupakan masa kecil Eko dan seluruh pengelola tempat tersebut. (Dia)

4 comments

  1. Mantap kang Eko
    Kalau perlu kopi Sunda saya ada semua baik greenbeans maupun roastedbeans
    Saya asli GG Semar ( mas nya Aris)
    Usaha saya pengolahan kopi … Ada arabica fullwash , semiwash , natural anaerob , honey juga ada robusta

  2. Selamat Mas Eko atas kreatifitas buka kape kapi, inovasi2 baru unt manfaatkan alam dg lingkungan serta naturalisme. Kuliner: gethuk ireng Tilompo Mas bs dijajakan sbg camilan ndesani ( era th 70 an )

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *