PPDB SMP Berakhir, 8 SMP Negeri Belum Memenuhi Kuota

PURWOREJO, Pengumuman hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMP tahun ajaran 2021/2022 secara online telah usai dilakukan Kamis (24/6) kemarin. Meski begitu, masih ada beberapa SMP baik negeri maupun swasta yang belum memperoleh siswa sesuai dengan kuota.

Dari 43 SMP negeri yang ada di Kabupaten Purworejo, delapan diantaranya belum memenuhi kuota atau daya tampung sekolah tersebut.

Kepala Bidang Pendidikan SMP pada Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Purworejo Drs Frikly Widhi Dewanto, MM menyebutkan, ke-8 SMPN itu adalah SMPN 24 (Kaligesing), SMPN 26 (Popongan), SMPN 29 (Loano), SMPN 35 (Bayan), SMPN 37 (Bener), SMPN N 39 (Kaligesing), SMPN 42 (Bruno), dan SMPN 43 (Gebang ).

“Dari total 239 kuota yang belum terpenuhi atau sisa daya tampung, paling banyak berasal dari SMPN 39 yakni 58 kursi,” ungkap Frikly Widhi Dewanto atau kerap disapa Dodi, saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (25/6) siang.

Frikly Widhi Dewanto

Asusmsinya, dengan jumlah tiap
kelas atau rombel berisi 32 siswa, maka di SMPN 39 masih kekurangan sekitar dua rombel. Menurutnya, kondisi itu hampir sama dengan tahun lalu.

Sebagai upaya pemenuhan kuota, pihaknya memberikan waktu untuk calon siswa melakukan pendaftaran secara offline. Hal itu menurutnya, sebagai salah satu solusi akibat ketiadaan akses internet di tempat tinggal mereka.

Tidak hanya itu, di SMP swasta juga masih banyak yang kekurangan siswa. Dari 43 SMP swasta di Purworejo, Dodi memperkirakan ada tiga hingga lima sekolah yang terindikasi akan tutup karena tidak mendapat calon siswa.

Berkurangnya minat ke SMP negeri, menurut Dodi, salah satunya juga disebabkan munculnya sekolah swasta berbasis religi yang memberikan kualitas yang lebih baik.

SMP Negeri 37 di Bener

“Sekarang ini sudah muncul beberapa sekolah swasta yang peminatnya membludak melebihi minat ke SMP negeri,” ucapnya.

Selain itu mereka sudah mulai melakukan rekrutmen jauh sebelum SMP negeri melakukan proses pendaftaran sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Ditanya tentang kemungkinan regrouping, Dodi menjawab, hal itu akan menjadi alternatif terakhir bila tidak bisa diambil solusi lain.

“Tidak mudah memindahkan sekolah ke sekolah lain karena faktor geografi dan psikologi yang harus betul-betul dijadikan pertimbangan,” pungkasnya. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *