Yuk Kunjungi Lorong Mahoni, Destinasi Wisata Selfi yang Eksotis dan Romantis

PURWODADI, Walaupun sudah bertahun-tahun eksis, Lorong Mahoni yang terletak di tepi Jalan Daendels, Desa Nampurejo, Kecamatan Purwodadi, masih tetap menyimpan pesona untuk dikunjungi. Itu karena puluhan pohon mahoni dengan tinggi sekitar 30 meter yang berjejer rapi di kedua sisi sepanjang hampir 300 meter mampu menjadi magnet tersendiri bagi para penggemar spot foto eksotis.

Mahoni (Swietenia Mahagony Jacq) yang berasal dari keluarga Meliaceae, merupakan tanaman yang berasal dari Hindia Barat dan mulai ditanam di Indonesia mulai tahun 1800-an atau saat zaman Belanda. Adapun pohon mahoni yang kini menjadi “penghuni” Lorong Mahoni konon sudah ada sejak lebih dari 50 tahun lalu.

Dari beberapa referensi disebutkan bahwa sudah beberapa judul film yang mengambil lokasi di tempat yang teduh ini. Selain itu, karena lokasinya yang terkesan romantis, beberapa kali Lorong Mahoni yang dalam Google Map disebut dengan Deret Mahoni ini dijadikan lokasi pre wedding bagi pasangan yang akan melangsungkan pernikahan.

Pesona utama dari Lorong Mahoni memang terletak pada kokohnya puluhan batang pohon mahoni berusia puluhan tahun. Pohon-pohon itu seolah menjadi penjaga abadi pembatas jalan rabat beton yang menjadi akses warga Desa Nampurejo menuju jalan raya Daendels.

Deretan pohon mahoni yang berdiri kokoh sejak lebih dari 50 tahun

Pada sisi tertentu, pohon mahoni yang termasuk dalam kategori tanaman keras itu tampak eksotis terkena pantulan cahaya matahari di pagi atau sore hari. Beberapa akar pohon yang menjulur ke luar tanah juga dapat menjadi spot yang cukup bagus untuk foto.

Saat Purworejonews menyempatkan berkunjung ke sana pada Jumat (18/9) pagi menjelang siang, tampak beberapa pengunjung yang memang sengaja datang untuk berfoto.

Seperti Siti Nur (29) beserta dua temannya yakni Fitri (29) dan Ika (30) tampak ceria saat berfoto bersama (welfi) atau sendiri-sendiri (selfi) dengan memakai tongsis yang sengaja mereka bawa.

Ketiganya merupakan guru SD Tlogorejo Purwodadi. Walaupun tinggal di lokasi yang tak jauh dari Desa Nampurejo, mereka mengaku baru sekali ini berkunjung ke Lorong Mahoni.

“Sengaja ke sini melihat lokasi dan ternyata cukup bagus buat foto,” ujar Ika.

Tak hanya itu. Pada saat siang menjelang, terlihat beberapa rombongan ibu-ibu yang baru pulang dari senam menyempatkan diri berswafoto di sana.

Lorong Mahoni, surga bagi selfi mania

Tampak wajah-wajah sumringah dari mereka yang berpose di tengah jalan atau di antara mahoni yang berbaris layaknya para punggawa.

Keberadaan Lorong Mahoni sebagai destinasi wisata alam, kini ditunjang dengan keberadaan Rumah Makan Lorong Mahoni yang terletak tepat di “pintu gerbang” selatan Lorong Mahoni.

Menurut penuturan Sumpeno (49) pemilik Rumah Makan Lorong Mahoni yang baru buka sekitar dua bulan lalu, Lorong Mahoni ramai dikunjungi wisatawan pada Sabtu dan Minggu, baik dari dalam maupun luar kota.

“Mereka ada yang datang dalam rombongan seperti gowes atau wisata bandara yang lalu mampir ke sini,” ujar Sumpeno.

Itulah sebabnya, bersama Denok istrinya, Sumpeno tak ragu berinvestasi dengan membuka rumah makan seluas 2.000 m2 yang dilengkapi dengan fasilitas mushola, toilet, gazebo, dan area parkir yang sangat luas di tepi jalan Daendels.

RM Lorong Mahoni, satu-satunya rumah makan di lokasi wisata itu

Rumah makan bernuansa ungu milik Sumpeno yang buka mulai pukul 6 pagi hingga 9 malam itu tampaknya menjadi satu-satunya rumah makan yang representatif. Selain karena fasilitasnya, menu yang disajikan pun beragam dan terjangkau harganya.

Sebut saja paket nasi lele + teh yang hanya dipatok Rp 10.000 atau paket nasi ayam goreng +teh Rp 13.000. Selain juga menu masakan Jawa termasuk ayam kampung.

Menurut Sumpeno, untuk memudahkan para pengunjung dalam mengisi perut, pihaknya juga menyediakan paket nasi dos yang dapat dipesan melalui WA 0822 2018 1145.

Jadi, tak perlu ragu lagi untuk berkunjung ke Lorong Mahoni untuk sekedar melepas penat di pagi atau sore hari saat libur. Letaknya hanya sekitar 20 Km dari kota Purworejo dan mudah diakses dari jalan raya. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan