Wagiman, Generasi Ketiga Dawet Ireng Jembatan Butuh

BUTUH, Dawet ireng menjadi minuman yang sudah tidak asing di Purworejo. Salah satu lapak dawet ireng yang paling populer yaitu Dawet Ireng Jembut atau Dawet Ireng Jembatan Butuh milik Wagiman. Lapaknya berada di tepi jalan raya Kutoarjo-Kebumen, di Desa Butuh, Kecamatan Butuh. Lapak itu menjadi jujugan pencinta dawet ireng, termasuk para pejabat.

Ditemui di warungnya Senin (14/9), Wagiman menyebut warungnya sudah berdiri sejak 1960 yang terletak di timur Jembatan Butuh. Wagiman sendirian melayani pembeli, tanpa dibantu karyawan seperti umumnya warung yang sudah mapan.

Wagiman mengaku sebagai generasi ketiga dari keluarganya yang berjualan dawet. Ia bercerita bahwa kakeknya, Amad Dastri, pertama kali merintis dawet ireng dengan mendirikan gubug sederhana tepat di bawah pohon bambu timur Jembatan Butuh. 

Namun, sejak 1982 warung pindah di depan rumahnya. Sedangkan generasi kedua adalah orangtua Wagiman yakni Nawon dan Sulastri.
Sejak 2005 Wagiman menggantikan orangtua berjualan dawet. Setiap hari ia mulai memproduksi dawet pukul 03.00 pagi.

Dibutuhkan waktu satu jam untuk memperoduksi dawetnya. 
Dalam sehari, Wagiman biasanya megeluarkan modal sebesar Rp 200.000. Modal yang dikeluarkan digunakan untuk membeli bahan seperti sagu, gula merah, kelapa, dan oman (batang padi yang dibakar).

Kata Wagiman, produksi dawet selalu menggunakan kayu dan alat tradisional milik orangtuanya.

Sedina gawe sagu sekilo luwih sitik. Kene mesti nganggo sagu, durung tahu tepung liyane (Sehari produksi sagu satu kilo lebih sedikit. Di sini pasti pakai sagu, belum pernah pakai tepung lainnya),” jelasnya.

Wagiman menjelaskan dawet produksinya tidak diberi pengawet. Sehingga sekali produksi dawet harus langsung dikonsumsi pada hari yang sama. Jika dagangannya tidak habis, dawet digunakan untuk pakan bebek dan kadang dibuang.

Lapak dawet ireng milik Wagiman, terbuka

Dawet ireng disajikan dalam mangkuk dawet dengan harga satu porsi Rp 5.000. Sekali produksi dapat menghasilkan ratusan mangkuk. Wagiman mengaku berjualan selama empat jam dalam sehari dan omset kotor sebesar Rp 500.000 hingga Rp 750.000. Sebagai pelengkap dawet, Wagiman juga menyajikan tape yang dijual Rp 1.000/bungkus.

Wagiman mengaku tidak punya karyawan melainkan dikelola sendiri bersama istrinya. Ia menuturkan setiap hari berjualan mulai pukul 09.00 sampai 13.00. Siang harinya, warung akan digunakan untuk berjualan dawet ireng milik ponakannya, Kirdianto mulai pukul 13.00 hingga 17.00.

Dereng enten setahun deweke bakulan dawet. Yo itung-itung dadi penerus lah. (Belum ada satu tahun dia jualan dawet. Yaa hitung-hitung jadi penerus lah),” ujarnya.

Saat ditanya alasan tidak berjualan berdampingan dengan ponakannya, kata Wagiman nanti dikhawatirkan tumpang tindih antara dagangannya dengan dagangan keponakannya . Sebab Kirdianto produksi dawet sendiri di rumahnya. 

Dadi panggonan podo, pabrike bedo. Tapi rasane menurut kula yo podo wae. (Jadi tempatnya sama, pabriknya beda. Tapi rasanya menurut saya ya sama saja),” ungkap Wagiman.

Di sisi lain, Wagiman menuturkan pandemi Covid-19 memberikan pengaruh besar terhadap omset yang diterimanya. Menurutnya omset turun lebih dari 50%.

Selain itu, sebelum covid, setiap minggu ia menerima pesanan untuk hajatan atau acara besar lainnya. Namun, masa pandemi dawetnya langka pemesanan sebab adanya larangan mengadakan acara.

Dawet Ireng, khas Purworejo

Pas awal-awal covid sementara dawet nganggo gelas plastik sekali pakai lah. Dadi modal nambah, penghasilane kurang. (Waktu awal-awal covid sementara dawet disajikan dengan gelas plastik sekali pakai. Jadi modal naik, tapi penghasilan berkurang),” jelas Wagiman sambil menyajikan dawet untuk pelanggannya.

Meski melegenda, Wagiman menuturkan belum berkeinginan membuka cabang atau membangun warung lebih modern. Sebab ia mengikuti keinginan ibunya. 

Ibu kan tasih Sugeng, dadi yo isih nang ngisor naungane ibu lah, mpun sepuh. Wong tua kan kepengine sing sederhana-sederhana wae ora neko-neko. (Ibu kan masih hidup jadi ya masih di bawah naungan ibu lah, sudah sepuh. Orang tua kan pinginnya yang sederhana-sederhana saja tidak aneh-aneh),” ujarnya.

Tukang parkir warung Dawet Jembut, Ucok, menyampaikan dalam sehari pengunjung ratusan mulai dari wilayah Purworejo dan sekitarnya seperti Kebumen, Wonosobo, Magelang. Bahkan menurutnya dari luar Jawa Tengah banyak yang mampir mencicipi Dawet Jembut.

Nek nyong wis suwe, ket 2007. Sing teka akeh sing nganggo mobil, motor. Do rombongan. (Kalau saya sudah lama sejak 2007. Yang datang banyak naik mobil, motor. Pada rombongan),” ungkapnya.

Sementara itu, seorang pengunjung, Trijo, warga Prembun, Kebumen mengaku sudah lama menjadi pelanggan Dawet Jembut sejak masih berjualan di bawah pohon bambu. 

Uwis bola-bali nek liwat kene mampir mesti entek rong mangkok. Dawet ireng kan wis nyebar nang ndi-ndi, tapi tetep wae khas kene. (Sudah berkali-kali kalau lewat mampir pasti habis dua mangkuk. Dawet Ireng kan sudah menyebar dimana-mana, tapi tetap saja khas di sini),” ujarnya. (Fau)

Tinggalkan Balasan