Tari Cing Po Ling: Dari Ki Demang Kesawen Sampai Mbah Simun

Laporan: Siti Fauziah, Reporter Purworejonews

PITURUH, Kabupaten Purworejo memiliki berbagai potensi kesenian tradisional, salah satunya tari Cing Po Ling dari Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh. Berbicara tentang Cing Po Ling tak bisa dilepaskan dari nama Simun (82), seniman tua perawat tarian yang tumbuh dan berkembang di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, sejak sekitar tiga abad lalu.

Ditemui di rumahnya, Kamis (13/8), Mbah Simun, Ketua Grup Cing Po Ling Tunggul Wulung, Kesawen, panjang lebar menceritakan lahirnya tari Cing Po Ling yang sudah berusia ratusan tahun. Ia mengaku merupakan generasi ketujuh dalam sejarah perjalanan Cing Po Ling. 

Generasi awal dipimpin oleh Singo Wiryo pada abad XVIII yang semasa hidupnya berprofesi sebagai polisi Desa Kesawen, lalu diteruskan putranya Wiryo Sentono, Sisworiono, Wiryo Pranoto, Setiorjo, dan generasi keenam Sukirno.

Kostum penari Cing Po Ling, tempo dulu

Simun kepada Purworejonews, menyatakan, penamaan Cing Po Ling berasal dari gabungan tiga nama pengawal setia Ki Demang Kesawen, yaitu Cing dari nama Krincing, Po dari nama Dipo dan Ling dari nama Keling.

Alkisah, ratusan tahun silam terdapat tiga prajurit keraton di Kutoarjo yang bernama Krincing, Dipo, dan Keling melakukan kesalahan dan dicopot oleh raja. Lalu, ketiganya meminta perlindungan kepada Ki Demang Kesawen. 

Di lain waktu, terdapat pisowanan atau pertemuan yang mengharuskan Ki Demang Kesawen menghadirinya. Demi keamanan dirinya selama di jalan, Ki Dewang Kesawen dikawal oleh tiga mantan prajurit keraton tersebut. 

Melihat hal tersebut, raja dan ratu memberikan ancaman pencopotan jabatan bagi Ki Demang Kesawen sebab ketiga pengawalnya dianggap merongrong keamanan keraton. Mereka juga melarang kepada Krincing, Dipo, dan Keling untuk bekerja bersama Demang.

Penampilan Cing Po Ling, tari jalanan

Simun melanjutkan, waktu itu kondisi keamanan di jalan sangat rawan, maka Ki Demang dan ketiga prajuritnya menghiraukan amarah raja dan ratu.

Guna mengelabui pihak keraton, akhirnya prajurit menyamar dengan berpenampilan menjadi rombongan penari yang membawa perlengkapan tarian dan alat musik. Selain itu, jumlah pengawal pun ditambah. 

Tarian diiringi alat musik berupa terompet, bende, kecer dan dilengkapi dengan pengawal pembawa bendera. Peralatan yang dibawa sendiri berfungsi sebagai senjata. 

Pelengkap karo tetabuhan tari iku sebenere sulapan saka senjata prajurit (Perlengkapan dan alat musik tari itu bentuk sulapan dari senjata prajurit),” ucap Simun. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan