Muhibah Budaya Mataraman Makin Mempererat Hubungan Purworejo-Yogyakarta

PURWOREJO, Rangkaian Muhibah Budaya Mataraman Yogyakarta di Kabupaten Purworejo yang digelar selama lima hari berturut-turut (18-22/2), ditutup dengan Malam Budaya yang digelar Sabtu malam (22/2) di Pendopo Kabupaten.

Kegiatan yang digelar sebelumnya berupa pelatihan menulis aksara Jawa secara digital, workshop seni, karawitan, pameran museum, dan pagelaran wayang kulit telah mempererat hubungan antara Purworejo dan Yogyakarta yang sejatinya memiliki keterikatan histori yang erat.

Malam budaya dihadiri oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga merupakan Gubernur DIY, Bupati Purworejo H Agus Bastian, SE, MM, dan Wakil Bupati Purworejo, Hj Yuli Hastuti, SH, Wakil Ketua DPRD Purworejo Kelik Susilo Ardani, SE, Sekda Said Romadhon.

Selaku tuan rumah, Bupati Purworejo Agus Bastian SE,MM berharap, kegiatan muhibah budaya dapat berlanjut di tahun-tahun berikutnya.

“Yogyakarta mempunyai catatan sejarah tersendiri bagi warga masyarakat Purworejo, salah satunya karena Bagelen yang merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Purworejo memiliki kedekatan dengan Kerajaan Mataram,” ungkap bupati.

Tari Beksan Nyakrakusuma

“Tidak hanya itu. Bahkan istri raja Mataram memberikan hibah Masjid Santren di Bagelen yang sampai sekarang masih digunakan untuk beribadah oleh masyakarat Purworejo,” kata Bupati.

Bupati juga berharap nantinya akan ada kerjasama di bidang ekonomi dengan pemerintah Yogyakarta yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bupati juga mengucapkan terimakasih atas kegiatan mubibah budaya yang sangat bermanfaat karena banyak ilmu yang didapat. Apresiasi terhadap seni dan budaya di Purworejo, lanjut Bupati, diwujudkan dengan dibangun gedung kesenian dan amphiteater yang digunakan secara periodik baik seni modern maupun tradisional.

Di hadapan Sri Sultan, Bupati juga menyampaikan, salah satu tarian khas Purworejo yang telah dipatenkan yakni Dolalak yang sudah tampil melanglang Nusantara dan sudah tampil di Swedia.

Adapun Gubernur Yogyakarta Sri Sultan HB X mengungkapkan, kegiatan muhibah budaya ibarat merangkai kembali mata rantai sejarah antara Purworejo dan Yogyakarta.

Beksan Golek Menak karya Sri Sultan Hamengku Buwono IX

“Di masa perang Diponegoro, Purworejo merupakan basis pertahanan yang tangguh di bawah komando panglima termuda berusia 17 tahun, Sentot Alibaysah Prawirodirjo. Demikian pula saat perang kemerdekaan, Purworejo menjadi basis pertahanan Tentara Rakyat Indonesia,” ungkap Sultan.

Menurut Sultan, kawasan segitiga Dulongmas bila bertaut dengan Joglosemar akan dapat membentuk kawasan budaya yang tangguh.Tidak hanya dari segi keprajuritan saja, tapi dari segi seni baik tari, karawitan, maupun macapat.

Dalam acara itu baik Bupati Purworejo maupun Gubernur DIY saling bertukar cinderamata. Berbagai tarian seperti Tari Golek Menak yang merupakan hasil workshop, ditampilkan.

Tidak hanya Bupati, hadirin pun tampak menikmati suguhan Tari Beksan Nyakrakusuma yang ditarikan oleh empat penari putra, serta Tari Beksan Menak Putri Kridha Warastra; suguhan kedua beksan itu menjadi penutup acara. (Dia)

Tinggalkan Balasan