Wahyu Argono Irawanto: Dirut Bank Purworejo Empat Periode

TANGGAL 1 November mendatang usianya genap 54 tahun. Kepalanya sudah mulai ditumbuhi uban, tanda usianya tak muda lagi. Tapi lelaki kelahiran Magelang 1 November 1965 itu telah memecahkan rekor sebagai direktur utama BUMD terlama di Purworejo sepanjang sejarah.

Ya, dialah Wahyu Argono Irawanto, yang pada 27 September lalu untuk kali keempat mendapat tugas memimpin Bank Purworejo, perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Purworejo yang kini memiliki aset Rp 243 miliar. Sebuah capaian yang tidak mudah dan tidak sembarang orang mampu meraih kesempatan itu.

Dihubungi pNews di ruang kerjanya, Senin (30/9), Wahyu pun bercerita perjalanannya sehingga “terdampar” di Purworejo dan berhasil menjadi banker berprestasi.

PadaMaret 2007 Wahyu Argono Irawanto untuk kali pertama dipercaya oleh Pemkab Purworejo menakhodai bank yang dulu bernama Bank Pasar itu sebagai direktur utama. Berkat tangan dinginnya, Bank Pasar itu kini berkembang pesat hingga seperti sekarang.

Sebelum jadi orang nomer satu di Bank Purworejo, ayah dua putera itu sempat malang melintang di dunia keuangan. Berawal sebagai pegawai di Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Magelang. Tak sabar menunggu pengangkatan sebagai PNS, tahun1991 Wahyu muda masuk ke sebuah BPR di Magelang.

Tahun 1993 Wahyu hijrah lagi ke BPR lain dan ditempatkan di kantor cabang Kutoarjo. Di sinilah alumnus STIE IEU Yogyakarta ini selama 3 tahun mengenal Purworejo dan selanjutnya pindah lagi ke Magelang.

Tahun 2007 kursi Direktur Bank Purworejo kosong dan Wahyu pun mncoba peruntungan.Ternyata Dewi Fortuna berpihak padanya. Wahyu pun dilantik jadi direktur. Namun jabatan direktur hanya diduduki selama sebulan. Oleh Bupati Purworejo Mahsun Zain dia diangkat sebagai direktur utama.

Sejak kendali Bank Purworejo di tangan Wahyu, pertumbuhan BUMD itu terus mengalami peningkatan yang signifikan. Berdasarkan Laporan Hasil Evaluasi Kinerja Keuangan PD BPR Bank Purworejo, selama kurun waktu 2015 sampai dengan 2018 menunjukkan perkembangan yang signifikan yang ditunjukkan dari beberapa komponen keuangan.

Realisasi aset dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 tumbuh sebesar Rp 98 M lebih dengan rata-rata pertumbuhan aset sebesar 20,85%.

Realisasi Tabungan dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 tumbuh sebesar Rp 32.134.809.106 dengan rata-rata pertumbuhan tabungan sebesar 36,67 %. Realisasi Deposito dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 tumbuh sebesar Rp 14.674.410.000 dengan rata-rata pertumbuhan deposito sebesar 12,08 %.

Realisasi Total Dana Masyarakat dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 tumbuh sebesar Rp 46.809.219.106 dengan rata-rata pertumbuhan Dana Masyarakat sebesar 20,08 %.

Sementara itu realisasi Kredit Umum dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2018 tumbuh sebesar Rp 79.056.037.240 dengan rata-rata pertumbuhan Kredit Umum sebesar 44,40 %.

“Capaian itu didapat dengan kerja keras dari seluruh karyawan Bank Purworejo yang selalu menjaga kepercayaan masyarakat,”jelas Wahyu.

Lalu apa yang akan dilakukannya selama periode keempat ini? Wahyu mengaku sudah menyiapkan rencana strategi 2020-2024.

Dijelaskan, pesatnya pertumbuhan di era teknologi saat ini, mengharuskan perusahaan untuk mampu memenuhi kebutuhan para nasabah dan calon nasabah. Dengan demikian, perusahaan harus menyusun Rencana Strategis jangka panjang dari tahun 2020 sampai dengan tahun 2024 dengan melakukan berbagai kajian, evaluasi, optimalisasi, serta menganalisa kondisi pasar yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakaat saat ini dan mendatang.

Rencana Strategis itu meliputi peningkatan kualitas standar mutu pelayanan perusahaan, peningkatan kuantitas dan kualitas SDM di semua bidang, pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang pengembangan perusahaan (Website, Sosial Media, Payment Point Online Banking (PPOB), Automatic Teller Machine (ATM), Mobile & SMS Banking, dll).

Lalu peningkatan bidang pemasaran melalui perluasan akses & jaringan kantor (Kantor Cabang, Kantor Kas, Pelayanan Mobil Keliling, & Unit Pelayanan), evaluasi, inovasi dan optimalisasi produk Bank Purworejo (Tabungan, Deposito, Kredit) sesuai dengan kondisi dan perkembangan pasar.

Meningkatkan pelayanan kepada kelompok-kelompok pelaku UMKM di wilayah Kabupaten Purworejo, merencanakan penerbitan fasilitas kredit sanitasi dan air bersih sebagai upaya mendukung program kerja pemerintah dan lain-lain.

Rencana strategis yang visioner yaitu melakukan konversi dari BPR konvensional ke BPR Syariah. Rencana tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa pola pemikiran (mindset) masyarakat di era sekarang cenderung lebih menguntungkan menggunakan jasa keuangan syariah.

“Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. BPR Syariah akadnya jelas, yaitu bagi hasil. Tidak ada istilah bunga dan ada zakat 2,5%. Itulah pertimbangan kami mengkonversi BPR konvensional ke BPR Syariah,”tandas Wahyu.

Diungkapkan, dua tahun pertama periode keempat ini seluruh karyawan belajar tentang BPR Syariah. Tahun ketiga diharapkan perubahan Perda, lalu tahun keempat menyelesaikan perizinan dan tahun kelima launching. (Ahmad Nas Imam)

Tinggalkan Balasan