Sate Winong Mustofa, Legenda Kuliner Purworejo yang Eksis Sejak 1968

BANYAK warung sate di Purworejo, tapi cobalah Sate Winong Mustofa, warung sate legend di Desa Winong, Kecamatan Kemiri. Sate dan gulai kambing muda dengan citarasa khas racikan Pak Mustofa, yang telah bertahan sejak 1968 hingga kini. 

Ditemui Purworejonews di warungnya, sang legenda Mustofa (60) mengisahkan, sejak kecil ia hidup bersama kakek dan neneknya yang jualan sate keliling. Terbiasa dengan produksi sate, Mustofa besar akhirnya meneruskan bisnis simbahnya. 

Awalnya Mustofa jualan keliling ke daerah Kutoarjo dengan berjalan kaki dengan gerobak pikul sampai akhirnya menyewa ruko untuk mendirikan warungnya. Tiga kali bisnisnya berpindah-pindah warung, hingga tahun 2009 sampai sekarang tempat menetap di Dusun I, Desa Winong, Kecamatan Kemiri.

Mustofa memiliki empat anak yang semua turut terjun ke bisnis sate Winong. Purworejonews saat berkunjung ke warung juga bertemu dengan anak bungsunya, Ahmad Muslih (30) sedang mengawasi pekerjaan karyawannya yang berjumlah 15. Semua karyawannya merupakan bagian dari keluarga Mustofa, mulai dari sepupu hingga keponakan.

Sang Legenda, Mustofa

Kelezatan Sate Winong Mustofa lain dari yang lain. Bumbu kecap yang dibuatnya adalah asli buatan sendiri dari gula jawa dengan beberapa campuran rempah-rempah seperti bawang merah, bawah putih, laos, dan serai. Bumbu ini biasa diproduksi dua sampai tiga hari dengan sekali produksi bisa mencapai 9 kilogram kecap.

Ahmad menyatakan setiap harinya dapat menyembelih dua hingga tiga ekor kambing yang jika disajikan dapat mencapai ratusan porsi sate dan 50 porsi gulai. Satu porsi sate kambing muda dengan nasi dan minum teh atau jeruk hanya dihargai Rp 40 ribu, begitu pula dengan satu porsi gulai. Setiap harinya warung Sate Winong Mustofa dapat menghasilkan omset Rp 3,5 juta.

Saat dihidangkan ciri khas tampilan Sate Winong Mustofa adalah tanpa tusukan sate, diberi irisan daun jeruk tipis-tipis, potongan tomat, dan bawang merah yang dipotong besar-besar.

Jika pengunjung ingin menggunakan tusuk sate, maka penjual akan menyajikannya. Bagi penyuka makanan pedas, pemilik warung akan menyediakan satu piring terpisah yang berisi sambal kecap pedas yang berisi kecap, potongan cabai dan daun jeruk. 

Sukarti: Rasanya beda

Warung sate yang dibuka pukul 09.00 hingga 18.00 ini biasa dikunjungi oleh pegawai kantor, guru, perangkat desa, keluarga, bahkan wisatawan luar daerah. Sebagai warung kuliner yang sudah terkenal, Sate Winong Mustofa akan konsisten dengan sate Winong.

Sementara itu, harapan Mustofa agar warungnya dapat terus berkembang dan pengunjung semakin meningkat. Meskipun di awal musim pandemi covid-19 pengunjungnya berkurang, namun sekarang mulai rame kembali. Biasanya di musim liburan, Sate Winong Mustofa dapat menyembelih kambing mencapai 10 ekor.

Sukarti (50) pengunjung asal Kemiri, menyatakan sate Winong Mustofa memilik kelezatan yang beda dari sate lain. Katanya, ketika sampai di mulut, sate terasa lebih empuk dan tidak alot. Sementara kecapnya lebih enak dan manis daripada kecap produksi pabrik.

Sukarti mengaku sejak lama sudah menjadi pelanggan Sate Winong Mustofa. Setiap ada tambahan rejeki dan ingin makan sate atau gulai, pasti datang ke tempat itu. Seperti sekarang ini, Sukarti mampir setelah ada urusan di Purworejo. (Siti Fauziah)

Tinggalkan Balasan