Rahman Sudrajad: Sarjana Sastra yang Sukses Kembangkan Sekolah Kesehatan

MEMIMPIN sekolah kesehatan yang baru berdiri, terlebih tidak memiliki basik keilmuan yang sejalur di dalamnya, tentu bukanlah perkara mudah. Hal itulah yang dirasakan Rahman Sudrajad, S.S, M.Pd, Kepala SMK Bhakti Putra Bangsa (Bharasa) Purworejo.

Dari awal berdiri yakni sejak 2016, SMK Brahasa  yang terletak di Jalan Sukarno Hatta atau Ringroad Selatan, Kelurahan Borokulon itu, langsung dipimpin oleh Drajad, panggilan akrabnya. Padahal menurutnya, basik keilmuannya adalah bidang sastra. 

“Memang sebelumnya saya pernah menjabat sebagai kabag keuangan, kabag akademik, serta kabag kemahasiswaan di Akademi Kebidanan (Akbid) Putra Bangsa yang masih satu yayasan dengan  SMK Bharasa ini,” ungkap Drajad saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/2). 

Drajad juga tercatat sebagai pendiri Akbid Bharasa. Alumni SMAN 1 Purworejo (MG) 91 itu, bertutur, sebelum kuliah di Fakultas Sastra Indonesia Undip, ia sempet kuliah di salah satu PTS di Yogya mengambil jurusan ilmu hukum.

Lulus dari Undip tahun 1997, bapak satu orang putri ini lalu melanjutkan studi Akta IV di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Drajad lalu menjadi dosen di STIE Rajawali mengampu mata kuliah Ilmu Budaya Dasar (IBD).

Tak hanya itu, Drajad juga mengajar sekaligus menjadi pengelola di PGTK  Bina Insan. Ia juga tercatat sebagai guru di SMP 3 Kalibawang, Wonosobo.Jadilah dalam satu waktu Drajad mengajar di beberapa tempat sekaligus.

Drajad akhirnya fokus mejadi guru mata pelajaran Sastra Indonesia di satu tempat yakni di SMAN 5  Purworejo selama delapan tahun atau tepatnya mulai tahun 2002 hingga 2010.

Tentang SMK Bharasa, Drajad berkisah, pada awal berdirinya, siswa yang mendaftar sebanyak 100 orang. Jumlah yang fantastis untuk ukuran tahun tahun pertama sekolah yang baru berdiri.

Itu artinya tiga kelas yang ditargetkan langsung terisi penuh, yakni 2 kelas farmasi dan 1 kelas keperawatan.
Beberapa waktu kemudian, Akbid mendapatkan dana pembangunan asrama putri. Setelah berdiri, ternyata banyak siswi SMK Bharasa yang berasal dari berbagai wilayah di Jawa Tengah yang menjadi penghuninya. 

Rahman Sudrajad bersama para guru

Jadilah asrama tersebut menjadi fasilitas pendukung SMK. Asrama ini bahkan menjadi asrama sekolah paling represantif di Purworejo.
Naluri kesastraan Drajad membuatnya ingin menghasilkan tenaga kerja terampil dan terdidik yang humanis.

Pria yang yang hobi berteater itu pernah membuat karya sastra nyeleneh yakni drama manusia catur yang banyak diapresiasi oleh teman-temannya sesama sastrawan.

Di sekolah yang 80% muridnya adalah perempuan itu, Drajad menjalin MoU dengan PT Osselhajaya Jepang dan PT Global Elit Internasional dalam hal penyaluran tenaga kerja terampil ke Jepang dan Timur Tengah. 

“Bulan Maret  mendatang ada 1 orang alumni yang berangkat kerja ke Jepang dengan biaya dari PT Osselhajaya Jepang,” ungkapnya.

Drajad tengah berencana mendirikan  Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bahasa Jepang untuk siswa SMK dan umum. PT Osselhajaya, ujar Drajad, bisa membiayai kalau punya N4, atau semacam akta dimana biayanya sekitar Rp 35 juta. 

Tapi kalau punya N3  yakni mahir  berbahasa Jepang maka biayanya lebih murah yakni hanya Rp 12 juta. 

“Itu yang sedang saya upayakan mengingat SMK Bharasa memiliki seorang guru yang expert berbahasa Jepang,” jelasnya.

Drajad berharap siswa SMK Bharasa berwawasan global dan juga masyarakat lebih meningkatkan kepercayaannya untuk menitipkan putra putrinya ke SMK yang memiliki sarpras dan mutu akademik yang representatif.

Dengan tagline #kampusnya tenaga kesehatan serta berada di di komplek tenaga kesehatan, terlebih kini ditunjang dengan keberadaan Rumah Sakit Tipe C RAA Tjokronegoro, Drajad optimistis kampus SMK Bharasa akan memiliki masa depan yang lebih cerah di masa mendatang.

Sebagai sastrawan sejati, Drajad tetap memiliki keinginan menghantarkan anak-anak berprestasi tidak hanya di bidang akademik tapi non akademik serta keinginan untuk mengembangkan sekolah Sastra. Semoga. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan