Nuryadin: Si Tangan Dingin Spesialis Bidan Sekolah

SPESIALIS bidan sekolah. Julukan itu tampaknya tepat diberikan kepada Nuryadin, S.Sos, M.Pd, Kepala SMK Kesehatan Purworejo. Karena, lewat tangan dinginnya telah lahir banyak sekolah berbasis religi maupun ilmu kesehatan, yang tidak hanya eksis, tapi juga berkembang pesat dan berprestasi.
Terhitung dalam beberapa tahun terakhir, pria kelahiran Bantul 1 Oktober 1971 itu telah mendirikan banyak sekolah mulai TK hingga SMK di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Diantaranya TK Unggulan Sadewa Wates, SD Unggulan Aisyiyah Bantul, dan SD Muhammadiyah Prambanan pernah dibidani pendiriannya oleh Nuryadin. Selain itu juga SMK Kesehatan Wonosari, SMK Kesehatan Bina Tama Sleman, dan tentu saja SMK Kesehatan Purworejo, tempat ia kini menjadi kepala sekolah.
Bagi Nur, terjun secara total di dunia pendidikan tampaknya merupakan “panggilan jiwa” dari dusun kelahirannya Mertosono Kulon, Banguntapan, Kabupaten Bantul, yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai guru. Meski demikian, Nuryadin kecil tidak bercita-cita menjadi guru.
“Saya ingin menjadi tentara.Tapi karena lingkungan serta hobi berorganisasi, membuat saya tertarik jadi guru,” kenang Nuryadin, di kampus 2 SMK Kesehatan Purworejo di Jalan Jenderal Sudirman Gang Kemuning, Selasa (10/12).

Masa remajanya dihabiskan dengan berkhidmat di banyak kegiatan organisasi. Alumni STM Muhammadiyah 2 Yogyakarta itu juga menjadi aktivis dan membuat berbagai unit usaha. Hal itu, kata Nuryadin, membuatnya kaya akan pengalaman serta mengasah berpikir kreatif.

Saat menempuh studi, baik sarjana maupun pasca sarjana, Nuryadin sangat aktif mengikuti berbagai organisasi khususnya organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah. Beragam jabatan di organisasi makin membuat Nuryadin matang dalam berkreasi dan berinovasi. Saat kuliah pun ia nyambi menjadi guru di sebuah sekolah kejuruan di Yogya.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Purworejo pada tahun 2014, bapak dua anak itu menjadi bidan atas lahirnya SMK Kesehatan Purworejo. Hebatnya lagi, dia langsung menduduki jabatan sebagai kepala sekolah.

Nuryadin, S.Sos, M.Pd

“Pada tahun pertama jumlah murid hanya 64 orang yang terbagi dalam 2 kelas, dalam 2 jurusan yakni Farmasi dan Keperawatan. Letak sekolah masih di Jalan Kesatrian,” kenang Nuryadin.

Tahun berikutnya jumlah kelas terus bertambah. Sampai saat ini SMK Kesehatan Purworejo yang dipimpin Nuryadin telah memiliki 450 siswa. Mereka terbagi dalam 15 kelas terdiri atas 9 kelas jurusan Keperawatan dan 6 jurusan Farmasi.
Melalui kerja keras serta dukungan kepercayaan dari Yayasan, Nuryadin berhasil menyulap Gedung SMP Pancasila 2 menjadi SMK Kesehatan di lokasi yang memiliki lahan lebih luas di Jalan Kemuning Purworejo.
Nuryadin selalu memberikan support kepada guru dan siswanya agar mereka berorientasi pada prestasi. Ia berprinsip bahwa tidak ada murid bodoh. Itulah sebabnya ia selalu menekankan disiplin kepada 35 guru SMK Kesehatan.
Nuryadin sadar, sebagian besar siswanya pada awalnya adalah anak yang bermasalah baik berasal dari keluarga yang bermasalah maupun lingkungan yang salah.
“Tugas sekolahlah untuk memberikan suasana nyaman bagi siswa sehingga mereka betah dan dapat berubah menjadi pribadi yang percaya diri,” ujar Nuryadin bersemangat.
Upaya Nuryadin untuk memaksimalkan prestasi siswa tidak sia-sia. SMK Kesehatan Purworejo mengalami progress yang signifikan dari waktu ke waktu baik dalam hal akademik maupun non akademik.
Meski demikian Nuryadin masih memiliki satu mimpi yang ingin dapat segera diwujudkannya. Yakni mengembangkan SMK Kesehatan menjadi sekolah yang berada di lingkungan alam yang sejuk dan asri dengan aliran sungai yang bergemuruh di sekitarnya.
“Di sanalah anak-anak akan mendapatkan ilmunya dengan model pembelajaran luar kelas sehingga mereka dapat lebih fresh dan mentransformasikan ilmunya menjadi lebih bermakna,” ujar Nuryadin. Ia mengaku telah memiliki pandangan lokasi atas keinginannya itu.
Dengan berbekal semangat yang kuat serta pengalaman yang dimiliki, Nuryadin bertekad dapat mewujudkan mimpinya itu. “Karena Allah sesuai dengan persepsi hambaNya,” pungkas Nuryadin dengan optimistis.
Semoga impian Nuryadin dapat terwujud dan dapat memberikan inspirasi bagi yang lain. Aamiin.** (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan