Lulusan Teknik UGM, Raden Sumadi Bertahun-tahun Hidup di Dalam Gubuk Derita

KUTOARJO, Raden Sumadi (82), warga RT 03 RW 06 Dusun Aglik Selatan Kelurahan Semawung Daleman, Kecamatan Kutoarjo, nyaris harus menghabiskan masa tuanya di gubuk derita. Kakek renta yang mengaku lulusan Teknik UGM ini lama hidup sebatang kara dalam keprihatinan.

Keberadaan Mbah Raden sempat mengundang perhatian banyak kalangan dan menjadi viral di media sosial. Pihak Pemerintah Kelurahan setempat bersama Dinas Sosial dan salah satu keponakan Raden Sumadi pun akhirnya memutuskan memasukkan Sumadi ke panti jompo.

“Tanggal 15 Februari 2018 kami mengadakan rapat koordinasi dan sepakat memasukkan ke Panti Pelayanan Sosial Usia Lanjut Adi Yuswo Purworejo,” kata Suwantoro SIP, Lurah Semawung Daleman, Minggu (18/2).

Sudah 3 hari ini Raden Sumadi tinggal di Panti Jompo yang berada di depan Hotel Suronegaran Purworejo. Sejumlah pihak pun berdatangan untuk menyampaikan empatinya.

“Tadi pagi saya menjenguk Mbah Raden di panti. Kata petugas banyak tamu di sana,” ungkapnya.

Kisah hidup Mbah Raden penuh nestapa dan menyisakan kepiluan. Hingga berusia renta, kakek yang belum pernah menikah ini tak pernah memiliki rumah. Bahkan, Mbah Raden harus tinggal sendirian di gubuk reot berukuran 2 x 3 meter tanpa aliran listrik.

Gubuk tempatnya berlindung dari sengatan matahari dan hujan hanya berlantai tanah. Dinding dari anyaman bambu yang sudah rapuh dan berlubang ditambal dengan plastik seadanya.

Perkakas kotor dan pakaian kumal bercampur jadi satu dengan barang-barang lain yang tak terpakai di atas pembaringan kecil yang hanya terbuat dari anyaman bambu.

Untuk dapat bertahan hidup, kakek ini hanya mengharapkan pemberian dan belas kasihan para tetangganya. Bukan tak mau hidup layak, tetapi karena himpitan ekonomi.

”Karena nggak punya uang, ya mau gimana lagi. Orang tua dan kakak-kakak saya semuanya juga sudah meninggal,” kata kakek yang mengaku lulusan teknik UGM itu.

Meski tinggal di gubuk sempit dengan segala keterbatasan, Mbah Raden mengaku jarang sakit. Resepnya sederhana, yakni selalu gembira dan mensyukuri apa yang ada.

Ketua RT setempat, Setyo Widodo, menyatakan bahwa Kelurahan telah beberapa kali memberikan bantuan, baik berupa sembako maupun bantuan lain. Pihak Kelurahan juga pernah memberikan bantuan material melalui program PNPM agar digunakan untuk membangun rumah Raden Sumadi.

Namun, justru bantuan tersebut diduga disalahgunakan oleh orang lain yang masih kerabatnya.

“Kami terus bantu, tetangga juga memperhatikan dan memberi makanan,” ujar Widodo.

Untuk mencegah hal itu terulang, pihak Kelurahan menyarankan agar siapapun yang hendak memberikam bantuan harus melalui aparat pemerintah setempat.

“Bagi yang mau bantu juga biar tersalurkan dengan benar,” jelasnya. (W5)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *