Lebih Dekat dengan Siti Maryam: Gagal Jadi Polwan, Sukses Jadi Kades Wonoroto

MENJADI kepala desa tampaknya sudah menjadi suratan takdir berdasar garis keturunan bagi Siti Maryam, SIP, Kepala Desa Wonoroto Kecamatan Purworejo. Betapa tidak, jabatan kepala desa sudah dijalani Siti selama 16 tahun berturut-turut, dan dalam hitungan bulan masa jabatan ketiganya akan berakhir.

Bukan itu saja. Ternyata mbah canggah, mbah buyut, kakek, hingga bapaknya pernah menjabat sebagai kepala desa secara turun temurun di desa yang memiliki luas 102 hektare itu. Siti Maryam menggantikan bapaknya, Agusman yang menjabat kades dalam dua periode atau 16 tahun pada masa itu. 

Hanya sayangnya, saat periode kedua kurang setahun berakhir, Agusman meninggal dan digantikan sementara oleh sekdes. Barulah pada Pilkades berikutnya Siti akhirnya benar-benar terpilih sebagai kades secara demokratis di desa yang memiliki 340 kepala keluarga dengan jumlah jiwa sebanyak 1.099 itu.

Kepada Purworejonews yang menyambanginya di balai desa, hari Selasa (13/10), Siti berkisah. Pada awalnya sebenarnya ia ingin menjadi  polwan. Tapi apa daya, jodoh sudah keburu datang setelah wanita yang memiliki tinggi badan 167 cm itu lulus SMA. “Akhirnya cita-cita saya kandas karena keburu menikah,” ujarnya renyah.

Jadilah di usia 19 tahun Siti yang lahir tanggal 4 September tahun 1971 itu resmi menjadi Nyonya Laksmono Susilo dan menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga. Namun di saat dirinya memasuki usia 33 tahun, alur hidupnya berubah. 

“Setahun sebelum berakhir masa jabatannya, bapak saya meninggal. Saat itu dari empat anaknya, hanya saya yang memungkinkan untuk menggantikan bapak sebelum digelar Pilkades,” kenang anak kedua dari empat bersaudara itu.

Siti Maryam disiplin terapkan protokol kesehatan

Ternyata pada Pilkades yang diadakan tahun 2004, Siti Maryam berhasil benar-benar terpilih sebagai kades hingga kini. Selama 16 tahun, ibu tiga anak itu telah merasakan pahit getir menjadi seorang kades wanita.

Tetkait dengan perjuangan hidup dan keberhasilannya selama menjadi kades, Siti tidak ingin jumawa memuji dirinya sendiri. Ia sering meminta kepada Amin Yusyanto (Kaur Perencanaan Ekonomi dan Pembangunan) untuk menuturkan apa yang sudah dilakukan dirinya untuk desa yang mayoritas berprofesi sebagai buruh tani itu.

“Bu Siti ini wanita yang tangguh. Sering pada tengah malam, dengan ditemani perangkat, dia menelusuri bendung sungai untuk mengecek saluran air irigasi pertanian,” ucap Yan, panggilan untuk Yusyanto, yang mendampingi Siti saat wawancara berlangsung.

Dikatakannya, Desa Wonoroto memiliki enam dusun yakni Dusun Karang Pencil, Karang Kulon, Krajan, Majan, Kemandungan dan Karang Mulyo. Dari 102 hektare luas desa, 42 hektare diantaranya adalah lahan pertanian.

Yan menyebutkan, Siti pulalah yang menggagas obyek wisata outbond sekaligus lintasan jalur sepeda dan motor bernama Jurang Mulyo sepanjang 1.600 meter. 

Walaupun baru dibuka tanggal 22 September lalu atau belum genap satu bulan, obwis Jurang Mulyo sudah dipakai tiga kegiatan yang berbeda. Bahkan pada akhir Oktober ini ada even cross country berskala nasional yang akan digelar di sana.

Siti Maryam bersama suami dan kedua puteranya

Siti merinci, ada dana yang masuk ke kas desa senilai lebih dari Rp 1 miliar. Dana itu yang berasal dari Dana Desa (DD) sebesar Rp 698 juta dan Alokasi Dana Desa (ADD) senilai Rp 341 juta. Adapun BUMDes mendapatkan penyertaan modal dari DD sebesar Rp 108 juta yang dikelola untuk Jurang Mulyo dan pembangunan 16 unit kios.

Kios itu sebagian akan disewakan. “Sebagian lagi untuk toko milik rakyat,” ucap Siti.

Selain itu juga ada lahan seluas 1.750 m2 yang dimanfaatkan untuk ditanami dan menghasilkan kas desa setiap tahun senilai Rp 1,5 juta.

Siti bersyukur, meski tinggal di desa, saat ini semua warganya tinggal di rumah permanen layak huni. Hal itu karena Siti giat menyodorkan proposal ke pemerintah pusat maupun provinsi agar mendapatkan fasilitas untuk kesejahteraan masyarakat.

Yusyanto kembali menyebut bahwa saat ini tidak ada lagi jalan becek di seluruh pelosok Desa Wonoroto. Selain itu juga adanya peningkatan SDM dengan makin banyaknya masyarakat yang dibekali keterampilan untuk meningkatkan kesejahteraan.

Siti Maryam (tengah) bersama perangkat

Meski demikian Siti menyebut, dirinya belum maksimal dalam menyejahterakan warganya. Siti yang hobi memasak itu berprinsip untuk melakoni hidup dengan tidak muluk-muluk. 

“Yang penting semua usaha yang saya lakukan harus dapat menyejahterakan warga saya,” tegasnya.

Saat ditanya yang akan dilakukannya bila tidak lagi menjadi kepala desa, Siti mengungkapkan keinginannya membuka rumah makan untuk menyalurkan hobinya.

Meski memiliki pengalaman politik serta punya pengaruh yang besar dalam menggalang massa, Siti sama sekali tidak tertarik untuk terjun ke dunia politik.

“Dadi bakul sego mawon malah penak mboten kakean pikiran,” ucapnya enteng.

Bayu Hargyo Putro, atlet beekuda

Seperti diketahui, menjelang masa pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati lalu, nama Siti Maryam sempat santer dikabarkan akan dicalonkan sebagai Wabup. Sejumlah kepala desa telah mendaftarkan nama Siti Maryam ke salah satu parpol. Namun proses tersebut tidak berlanjut.

“Untuk sementara saya ga ikut-ikutan di Pilkada lah. Saya mau konsentrasi ngurusi warga saja,” ucap Siti Maryam sambil tersenyum.

Bisa jadi itu karena Siti sudah hidup mapan dari penghasilan suaminya yang merupakan pengusaha peternakan kuda yang sukses. Anak keduanya Bayu Hargyo Putro bahkan lebih memilih masuk ke sekolah berkuda dan menjadi atlet berkuda di DIY. 

Itulah sebabnya, Siti tidak mengejar materi. Yang dilakukannya saat ini adalah mengupayakan agar BUMDes yang sedang dikelola dapat berkembang dan dapat dirasakan hasilnya oleh semua warga. “Doakan njih,” pintanya. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan