Kades Krandegan, Dwinanto: Gagasan dan Inovasinya Melambungkan Desanya

DESA KRANDEGAN, Kecamatan Bayan boleh jadi bisa dinobatkan sebagai desa paling gemilang karena paling kreatif dan inovatif di antara ratusan desa yang tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo. Banyak prestasi disandang oleh desa berpenduduk 900 kepala keluarga itu.

Diantara prestasi itu antara lain dinobatkan sebagai juara satu Kampung Siaga Candi oleh Polda Jawa Tengah. Inovasi kegiatan yakni Telu Nulung Siji, irigasi gratis, pengelolaan zakat dan sedekah, dapur umum, meja anti lapar, mobil anti lapar, pasar bergerak, bantuan cair langsung, wifi gratis, dan berobat gratis.

Teranyar, desa yang memiliki luas
161 hektare itu berinovasi di bidang teknologi informasi berupa toko online, pembayaran online, layanan surat-menyurat online, dan bahkan ojek online.

Semua prestasi dan inovasi yang diraih itu tak lepas dari peran Kepala Desa Dwinanto, SE yang menjadi kades sejak tahun 2013. Ditemui di halaman kantor desa hari Sabtu (10/10) Dwinanto pun berkisah.

Dikatakan Dwi, sejak SMA sebenarnya ia bercita-cita menjadi pegawai pajak. Hal itu karena dirinya termotivasi oleh salah satu warga di Desa Krandegan yang bekerja sebagai pegawai pajak dan hidup sukses sehingga bisa membantu banyak orang di desa itu.

Itulah sebabnya, selepas SMA tahun 1997 dengan penuh percaya diri Dwi mendaftar ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Berbekal nilai tinggi yakni sebagai Juara 2 se-Kabupaten Purworejo, Dwi yakin dirinya pasti diterima. Tapi apa daya, nasib baik belum berpihak padanya.

Juara I Kampung Siaga Candi tingkat Polda Jateng

“Padahal teman-teman yang nilainya jauh di bawah saya malah diterima,” kenang suami Fitriyana Ambarini, S.TP itu.

Sempat nglokro beberapa waktu, Dwi akhirnya memilih kuliah di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi UNS Solo. Kuliah ditempuh 4,5 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,4. “Sebenarnya IPK saya bisa lebih dari itu. Tapi saya sempat sakit selama satu semester sehingga IP-nya hanya 2,6,” ujar bapak dua anak itu.

Selepas kuliah, Dwi yang hobi jalan-jalan itu pulang kampung. Ia menemani ibu dan adiknya sementara bapaknya bekerja di Jakarta menjadi pegawai Perumka (sekarang PT KAI-red).

“Selepas kuliah saya tidak pernah mendaftar kerja. Saya langsung merintis usaha di bidang jasa komputer dan rental mobil,” ungkap Dwi yang lahir di Jakarta tanggal 5 Juli 1979 itu.

Saat menjadi pengusaha rental mobil, Dwi sempat terpuruk ketika dirinya ditipu sehingga 10 mobilnya melayang dibawa pihak yang tidak bertanggung jawab. Waktu itu, kenang Dwi, ia memiliki 15 mobil rental.

“Saya harus menanggung cicilan pembayaran tiap bulannya karena bentuk kehilangan seperti itu tidak ditanggung oleh pihak leasing. Itu adalah masa titik nadir kehidupan saya,” ujar Dwi sedih. Menurut Dwi, sampai sekarang masih ada tiga mobil yang tidak kembali.

Profesi sebagai pengusaha itupun dijalaninya selama 11 tahun. Hingga akhirnya pada tahun 2013 berbekal dukungan dari warga serta mantan kepala desa Krandegan, Dwi ikut berkompetisi dalam bursa Pilkades Krandegan. Tak dinyana ia berhasil mendapat 75% suara dari calon lainnya. Jadilah di usia 34 tahun Dwi pertama kali menjabat sebagai Kades Krandegan.

Dwinanto (lima dari kiri) tak segan-segan berbaur dengan warganya

Enam tahun berikutnya yakni tahun 2019 ia kembali dipercaya warga mengemban tugas sebagai kades. Kali ini Dwi mendapat kemenangan mutlak. Dari tiga calon, ia mendapat kemenangan 90% dengan catatan tanpa tim sukses dan bagi uang.

Dwi menuturkan pengalamannya pertama kali masuk kantor di awal jabatannya sebagai kades. “Waktu itu ada 13 perangkat desa dan tidak satupun yang bisa mengoperasionalkan komputer. Jadilah waktu saya habis untuk membuat laporan pertanggungjawaban karena tidak ada perangkat desa yang melek komputer.”

Selain itu, bila dirinya terpaksa harus melakukan dinas luar, maka sang istrilah yang menghandel urusan kantor.

“Jadilah istri saya Bu kades yang sesungguhnya,” ujar Dwi geli. Kondisi itu berlangsung hingga tahun 2019 saat sebagian perangkat desa yang pensiun diganti dengan yang muda sehingga dirinya bisa berekspansi.

Sejak tahun 2019 itulah Dwi mulai tancap gas menciptakan inovasi dan kreasi. Meski demikian, Dwi yang menikah tahun 2004 itu mengaku bahwa kunci kemenangannya sebagai kades adalah program irigasi gratis yang digulirkannya tahun 2013.

“Sekarang petani tidak pernah kekurangan air. Ibaratnya ditinggal tidurpun air sudah mengalir ke sawah masing-masing petani.” Disebutkan, luas Desa Krandegan yakni 161 hektare, 70 hektare diantaranya adalah lahan pertanian.

Menurut Dwi, Krandegan merupakan satu-satunya desa di Purworejo yang menerapkan program irigasi gratis. Itu karena dananya sebesar Rp 80 juta ditanggung melalui program CSR salah satu donatur dari Jakarta.

Gubernur Jateng kunjungi Desa Krandegan beberapa waktu lalu

Rinciannya, kata Dwi, dari 3 kali panen biaya yang ditanggung yakni 2 kali panen karena yang sekali panen yakni saat musim hujan. Melalui program irigasi gratis, ada 300 kepala keluarga atau sekitar 1.200 jiwa yang menikmati fasilitas itu.

Dwi juga membawa pola manajemen karyawan perbankan BUMN ke dalam lingkup kerjanya. Setiap Senin hingga Jumat, ia mengadakan brifing pagi mulai pukul 08.30 selama setengah jam. Setelah itu pelayanan baru dibuka.

Kalau Dwi terpaksa harus mengikuti dinas luar, tugasnya digantikan oleh sekdes dan dipantau melalui saluran komunikasi HP. Selain itu,
untuk mendisiplinkan perangkatnya, Dwi menetapkan sistem denda bila ada perangkat desa yang telat masuk kerja. “Telat 5 menit denda Rp 5.000. Telat 10 menit Rp 10.000,” ujarnya.

Saat ini Dwi tengah gencar menggerakkan BUMDes yang bergerak di bidang digital. “Ini karena di Purworejo belum ada. Selain itu juga program pemerintah pusat tentang desa digital tahun 2024. Purworejo juga punya program smart village sehingga nantinya belanja produk digital meningkat,” kata Dwi

Alasan lain yang tak kalah penting yakni sektor ini tidak mengambil ceruk ekonomi warga. Menurut Dwi, dengan adanya program digitalisasi BUMDes, warga tidak terganggu, bahkan terbantu. Ditambah lagi, BUMDes digital tidak padat modal.

“Coba kalau bangun toko atau pom mini, pasti butuh modal besar tapi belum tentu keuntungannya juga besar,” ungkapnya.

Program aplikasi layanan digital yang jadi unggulan Desa Krandegan kini sudah dipesan puluhan desa lain di Purworejo. Diantaranya Desa Wirun, Kepuh, Tunggorono, dan Desa Sumber.

Bagi Dwi, membantu dan meringankan orang lain pada hakikatnya membantu diri sendiri
yakni memberikan kepuasan batin. Tampaknya, impian Dwi untuk menjadi pegawai pajak agar dapat membantu banyak orang sudah melebihi ekspektasinya dengan menjadi seorang kepala desa yang sarat prestasi dan inovasi.

Meski demikian, Dwi masih menyimpan keinginan. “Saya berharap agar jangan tergantung pada saya, tapi bergantung pada sistem sehingga diharapkan nanti masyarakat bisa berjalan sesuai sistem walaupun saya sudah tidak ada,” pungkasnya. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan