Inilah Siswa-siswi Berprestasi Tingkat Nasional dari SMK Nurussalaf Kemiri

TEGAS NURADILLAH JA’FAR adalah satu dari empat siswa SMK Nurussalaf Kemiri yang berhasil mengukir prestasi di tingkat nasional. Ya, dialah atlet arung jeram yang tahun 2019 lalu mempersembahkan medali perak dan perunggu atas nama tim Jawa Tengah dalam Kejurnas Arung Jeram di Jambi.

Dilla, demikian panggilan akrab Tegas Nuradillah Ja’far, adalah siswi kebanggan SMK Nurussalaf Kemiri, sekaligus kebanggan Purworejo. Dialah satu-satunya wakil Purworejo dalam kontingen arung jeram Jawa Tengah dalam Kejurnas Arung Jeram di Jambi.

“Saya terpilih jadi kontingen Jawa Tengah melalui seleksi yang dilaksanakan oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Jateng untuk Kejurnas di Jambi tahun 2019,” tutur Dilla yang ditemui di sekolahnya, Sabtu (22/2).

Di Jambi, siswi kelas XII Jurusan Teknik Komputer Jaringan 2 itu turun di empat nomor bersama tiga rekannya yang berasal dari Banjarnegara, Purbalingga dan Solo. Mereka turun di kategori Yunior Woman

Tapi Dilla dan kawan-kawan hanya berhasil meraih medali di dua nomor, yaitu juara II di nomor Sprint dan juara III di nomor Down River Race (DRR).

Tegas Nuradillah Ja’far

Meski saat tampil di Kejurnas Arung Jeram di Jambi tidak atas nama sekolah, namun Dilla merasa sekolahnya lah yang membuat dia bisa berprestasi. Pasalnya, ia dimasukkan ke FAJI Purworejo oleh sekolah sebagai ekstra kurikuler. 

Dari situlah anak kedua dari keluarga Ahmad Ja’far itu berlatih arung jeram hingga membawa harum nama SMK Nurussalaf bahkan nama Purworejo di kancah nasional.

Lain Dilla lain pula Imam Syamsul Khoirullah, Bagus Nurdiansyah dan Aan Bagas Pangestu. Ketiga siswa SMK Nurussalaf Kemiri itu berprestasi tingkat nasional di bidang perfilman.

Ketiganya berhasil menjadi nominator dalam Gelar Karya Film Pelajar yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhir tahun 2019 lalu di Jakarta. 

Melalui karya film dokumenter berjudul Sambatan, mereka berhasil menembus lima besar kategori film dokumenter, menyingkirkan ratusan karya lainnya dari seluruh Indonesia. 

Sambatan berdurasi tujuh menit, menggambarkan tradisi gotong royong warga dalam kegiatan membongkar rumah di Desa Penungkulan, Kecamatan Gebang,” kata Imam Syamsul Khairullah didampingi Waka Kesiswaan Sudrajat Robikiantoro, S.Pd, Sabtu (22/2).

Imam Syamsul Khoirullah, Bagus Nurdiansyah dan Aan Bagas Pangestu

Sambatan adalah sebuah tradisi yang menyimpan kearifan lokal, salah satu nilai sosial yang, menurut Imam, mampu menjadi tiang penyangga kerukunan dan dan kebersamaan warga. Itulah pesan yang ingin disampaikan kepada penonton film dokumenter tersebut.

Berbekal kamera Sonny A 6000 dari sekolah dan sebuah drone sewaan, ketiganya selama beberapa hari menggarap Sambatan. Mereka bahkan harus rela menginap di rumah warga untuk mengambil gambar dari kegiatan masak-masak, kenduri dan diakhiri dengan membongkar rumah.

Dalam film dokumenter itu, Imam berperan sebagai penulis skenario. Sedangkan sutradara merangkap produser yaitu Bagus Nurdiansyah. Aan Bagus Pangestu bertindak sebagai editor.

“Kami mendapat ilmu tentang perfilman melalui kegiatan ekstra kurikuler di sekolah yang diampu Pak Donny,” jelas Imam, kelas XII Jurusan Teknik Kendaraan Ringan itu.

Siswa berprestasi lainnnya yaitu Fajar Muhsodiq, kelas XII Teknik Komputer Jaringan. Dia berhasil menjadi juara III dalam lomba Mobile Robotic tingkat Jawa Tengah yang digelar di Purwokerto, 27-30 Oktober 2019.

Fajar Muhsodiq (kiri)

Dalam lomba tahunan untuk siswa SMK itu Fajar menyajikan robot yang mampu mengambil benda sesuai dengan barcode. Sayang, saat penilaian, robot ciptaannya tidak tampil maksimal: robot berjalan terus melewati garis stop.

“Saya menggunakan program Robotino Versi 3 yang diajarkan di kelas X dalam mata pelajaran Pemrograman Dasar,” jelas Fajar yang berangan-angan membuat program robot yang dapat bergerak mengikuti garis.

Prestasi Fajar, Dilla, Imam maupun lainnya, adalah buah dari tempaan guru-guru berdedikasi di SMK Nurussalaf Kemiri. Mereka telah membuktikan, meskipun sekolahnya berada jauh dari kota, mereka mampu berprestasi bahkan ke tingkat nasional. (Ahmad Nas Imam)

One comment

Tinggalkan Balasan