Himawan Susrijadi, Kepala SMP Negeri 40: Gagal Jadi Dokter, Sukses Menjadi Guru

PITURUH, Menyandang predikat Kepala Sekolah Berprestasi di saat baru tiga tahun menjabat, bisa jadi merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang Himawan Susrijadi, S.Pd, M.Pd. Kepala SMPN 40 Purworejo itu merupakan Kepala Sekolah Berprestasi tahun 2019 Kabupaten Purworejo.

Sebelumnya, Himawan yang bulan November ini genap berusia 51 tahun juga sudah mendapat berbagai penghargaan sebagai pendidik. Ia pernah meraih Juara 3 Guru Berprestasi se-Kabupaten Purworejo tahun 2008. Lalu meningkat menjadi Juara 2 Guru Berprestasi tahun 2009.

Berikutnya bapak satu anak dan kakek dua cucu itu berhasil meraih Juara 1 Guru Berprestasi tahun 2011. Selain itu Himawan yang memiliki hobi membaca tersebut juga pernah meraih peringkat 7 Guru Berprestasi se-Jawa Tengah mengungguli ratusan guru yang mengikuti kompetisi prestisius bagi pendidik tersebut.

Atas pencapaiannya itu, Himawan yang kini tengah mempersiapkan diri menghadapi Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) merasa bahwa pengalaman tersebut sangat berarti. Level berikutnya, ia akan bertemu dengan guru terbaik se-Jawa Tengah yang akan dijadikannya ajang sharing di bidang pendidikan.

Tapi, siapa sangka, walaupun sangat mencintai profesinya sebagai pendidik, bungsu dari delapan bersaudara ini ternyata semula bercita-cita menjadi dokter. Namun takdir berkata lain.

“Waktu mengikuti seleksi tes kedokteran di hari ke-2, ibu saya meninggal dunia. Saya lebih memilih menghadiri pemakaman ibu daripada melanjutkan seleksi tes di UGM,” kenang Himawan.

Akhirnya, lanjut suami Hindijah Susiaganingrum, SH itu, dirinya memutuskan untuk mengambil Jurusan Fisika di UNIPMA Jawa Timur. Kecintaan Himawan kepada bidang Fisika kemudian menghantarkannya menjadi guru Fisika. Selepas studi S1-nya, ayah dari Fanni Karina Dewanti itu kemudian melamar menjadi guru PNS.

Himawan kini dengan style rambut putih

Soal awal karirnya saat akan menjadi guru, Himawan yang kini bergaya rambut putih ala Ganjar Pranowo itu memiliki pengalaman tersendiri. Dirinya harus menunggu selama dua tahun untuk menjadi PNS.

“Itu karena saya menolak untuk ditempatkan menjadi guru di Pulau Raas, Kabupaten Sumenep, Madura. Dalam peta saya lihat pulau itu begitu terpencil, sehingga saya tidak mengambil kesempatan itu,” ujarnya.

Akhirnya barulah pada tahun 1997 atau saat berusia 28 tahun Himawan diangkat menjadi guru Fisika di SMPN 15 Purworejo (dulu SMPN 5 Purworejo). Selama 20 tahun dirinya mengajar di SMPN 15 Purworejo dengan berbagai jabatan, seperti Waka Kurikulum dan Waka Kesiswaan secara bergantian.

Di usia 48 tahun Himawan yang lebih dari 20 tahun pernah menjadi tutor Universitas Terbuka (UT) dan pernah menjadi ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) Purworejo itu diangkat menjadi kepala sekolah di SMPN 40 Purworejo.
Pernah juga dirinya ditunjuk sebagai Plt Kepala SMPN 8 Purworejo.

Tentang pengalamannya menjabat sebagai Kepala SMPN 8 Purworejo Himawan berujar, walaupun hanya setahun menjadi KS di sana, banyak kejuaraan yang berhasil diraih. Selain itu, ia berkesempatan menandatangani ijazah di dua sekolah dalam waktu bersamaan: ijazah lulusan SMPN 8 dan SMPN 40. Pengalaman itu merupakan kebanggaan tersendiri baginya.

Himawan yang tercatat sebagai warga Aglik Selatan 20 RT 03/07 Semawung Daleman Kutoarjo itu menyelesaikan studi S2 Magister Manajemen Pendidikan UMS Surakarta tahun 2006 atau saat ia berusia 36 tahun.

Di awal kepemimpinannya di SMPN 40 Purworejo, Himawan menerapkan program pembenahan dan penataan sistem, disusul dengan pemenuhan sarpras. Diantaranya berupa renovasi laboratorium komputer, penambahan komputer serta pembangunan gedung komite.

Himawan dan istri

Di musim pandemi saat ini, Himawan menerapkan konsultasi terprogram dan pembelajaran daring dengan 50% siswa hadir di sekolah. Selain itu guru masih harus datang ke rumah siswa.

“Hal ini dilakukan mengingat tidak semua siswa diijinkan untuk mengikuti konsultasi terprogram. Selain itu mereka tidak mempunyai fasilitas pendukung pembelajaran daring,” ungkapnya.

Himawan mengaku, upayanya itu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Menurutnya, sistem pendidikan harus menyentuh hingga ke akar sehingga benar-benar bisa diserap oleh siswa. “Pendekatan psikologis penting untuk memacu siswa secara psikomotorik karena mereka merasa mendapat perhatian,” ujarnya.

Himawan bersyukur, di usianya yang sudah melewati 50 tahun, ia merasa sudah cukup. Kini tenaga dan pikiran dicurahkan untuk mengabdi ke masyarakat.

Terkait harapannya, ia ingin agar SMPN 40 Purworejo dapat maju minimal mendekati dengan sekolah unggulan lain baik secara akademik maupun non akademik. Hinawan menyadari, untuk memajukan sekolah ada empat faktor yang saling mempengaruhi. Keempatnya yaitu sekolah, siswa, budaya (masyarakat), dan pemerintah.

Pengalaman Himawan mengelola sekolah telah mengantarkannya menjadi kepala sekolah berprestasi. Maka menjadi sebuah keniscayaan apabila prestasi itu ditularkan kepada level di bawahnya yakni guru dan juga siswa.

Himawan yang kini tengah menyiapkan PKKS sebagai bentuk penilaian kinerjanya sebagai kepala sekolah yang akan berakhir bulan Mei tahun depan itu berharap, semuanya bisa berjalan dengan lancar sehingga ia dapat menjalankan program-programnya sesuai dengan yang diharapkan. Yakni menjalankan roda pendidikan di masa pandemi sehingga masyarakat dan siswa dapat terlayani dengan sebaik-baiknya.

“Memang di masa pandemi ini kita semua khususnya dunia pendidikan merasakan kesulitan di dalam proses belajar mengajar karena ada sesuatu yang baru yang harus dijalani. Tapi saya yakin dengan ketulusan serta profesionalitas semuanya bisa teratasi.” pungkasnya mantap. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan