Dokter Annisa Fitriani, Penggagas Penelitian Genom Pertama di Indonesia

PURWOREJO, Dokter Annisa Fitriani (26), dokter pada Runah Sakit Ananda Purworejo, mungkin akan jadi dokter pertama di Indonesia yang menemukan cara pendeteksian penanda gen pada penyakit hipertensi kehamilan dan depresi ibu. Bersama beberapa dokter dari UGM dan RSUD Dr Tjitrowardojo, Annisa menginisiasi penelitian genom.
Bekum lama ini Annisa mendapat kesempatan mempresentasikan gagasannya pada sebuah konferensi internasional di Jerman yang diselenggarakan oleh The European Molecular Biology Laboratory (EMBL) bekerjasama dengan The European Molecular Biology Organization (EMBO).
“Tujuan kami maju ke forum internasional agar kita punya kolaborator dari pihak luar, baik pendanaan maupun sharing ilmu dari mereka, yakni bagaimana untuk menyusun itu di Indonesia agar bisa dilakukan,” ungkapnya, Selasa (26/11).

Pada konferensi bertema Precision Health: Molecular Basis, Technology and Digital Health itu, ia mendapat banyak saran dan dukungan agar segera melakukan penelitian di Indonesia. Bahkan ada salah satu profesor di German Research Institute yang menawarkan kerjasama. Untuk itu, ia bersama pihak RSUD dan UGM akan menggodog terlebih dulu bentuk kerjasama yang akan dilakukan.
Mereka, kata Annisa, sangat welcome dan siap membantu, karena di luar negeri sudah 20 tahun berjalan penelitian genom. Sedangkan di Indonesia belum ada. Jadi ini nanti akan menjadi yang pertama di Indonesia.
“Topik penelitian yang dipresentasikan di Jerman tersebut mengenai deteksi penanda gen pada penyakit hipertensi kehamilan (termasuk di dalamnya adalah pre-eklamsia dan eklamsia) yang bertumpang tindih dengan penyakit depresi ibu,” tutur Annisa.

Menurut Annisa, penelitan genom ini sangat penting, karena bisa untuk mencari satu genetik untuk dua jenis penyakit atau lebih. Dicontohkan, untuk penyakit gula yang seringkali tumpang tindih dengan penyakit ginjal dan hipertensi, dengan penelitian genom bisa diketahui gen penyebab dari ketiga penyakit itu sekaligus.
“Misalnya yang menyebabkan gen A, maka kita hanya mengobati gen A saja. Pasien tidak perlu obat banyak, tapi hanya perlu satu obat saja sudah bisa menyembuhkan ketiga penyakit itu. Harapannya ke depan seperti itu,” jelasnya.
Dokter yang lahir 3 Maret 1993 ini berharap, ke depan jika penelitian genom tentang hipertensi kehamilan dan depresi ibu ini terwujud maka akan bisa membantu penurunan angka morbiditas maupun mortalitas ibu hamil di Indonesia. Otomatis angka harapan hidup akan meningkat, kesejahteraan Indonesia secara umum akan meningkat, dan pembangunan juga meningkat.

Menurutnya, selama ini penelitian genom di Indonesia belum pernah dilakukan karena banyak yang berpandangan bahwa itu merupakan masalah jangka panjang dan sangat mustahil untuk dilakukan.

Meski demikian, bagi Annisa, tetap harus ada yang memulainya, karena sesuatu yang mustahil itu bukan berarti tidak mungkin untuk dilaksanakan.

“Awalnya memang rumit, tapi ketika nanti kita bisa berhasil untuk mendeteksi gen-gen dari penyakit-penyakit kompleks yang ada di Indonesia, maka akan sangat membantu kita untuk melakukan pencegahan sedini mungkin,” tandasnya. (A/nas)

Tinggalkan Balasan