Attah Handogo: Jadi Kades Demi Melanjutkan Cita-cita Sang Bapak

LOANO, Menjadi kepala desa tampaknya sudah menjadi garis hidup yang harus dijalani oleh seorang Fatah Kusumo Handogo, SE. Lajang berusia 40 tahun ini pada tanggal 26 Januari lalu dilantik menjadi kepala desa Pergantian Antar Waktu (PAW) Kebongunung, Kecamatan Loano.

Hasil perolehan suaranya cukup fantastis. Dari 157 suara yang berasal dari perwakilan lima dusun, Attah, begitu ia biasa disapa, memperoleh 133 suara. Adapun dua kandidat lainnya masing-masing memperoleh 18 dan 6 suara.

Tentang jabatan barunya sebagai kades, rupanya Attah memiliki kisah tersendiri. Ditemui di Rumah Makan Mbok Sastro pada Senin siang (1/2), Attah bertutur, “Waktu itu, tanggal 8 Mei 1980, Bapak saya tengah mengikuti pilkades. Pada saat proses perhitungan suara, tepatnya pukul 19.00 malam Jumat Kliwon, ibu melahirkan saya di salah satu rumah sakit swasta di Purworejo”. 

Saat itu, beberapa kiai dan tokoh masyarakat Kebongunung ikut menunggui proses kelahiran anak kedua dari pasangan Purwadi-Lani Susanti. Pasalnya, sang ayah sedang berada di arena Pilkades menanti perhitungan suara selesai.

Foto setelah pelantikan

Ternyata kelahiran Attah bersamaan dengan terpilihnya sang ayah sebagai kepala desa, menjadi sebuah benang merah. Setelah 40 tahun atau 15 tahun sehabis bapaknya diganti, Attah terpilih menjadi kades.

Pasangan Purwadi Handogo-Lani Susanti menurunkan tiga anak laki-laki. Pertama, Andi Handogo, yang pernah duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Purworejo dari Partai Golkar. Kedua, Fattah Kusumo Handogo, dan yang ragil Windhy Sanjaya.

Tapi siapa sangka, diantara tiga orang putra Purwadi Handogo, justru Attah, putra nomor dua, yang digadang-gadang dan dipinang oleh tokoh masyarakat untuk maju menjadi kades.

Sang kakak yakni Andi Handogo dan adiknya Widhi Sanjaya Handogo pun akhirnya mendukung dirinya menjadi kades. Menurut Attah, sebenarnya sang kakaklah yang memiliki jiwa kepemimpinan yang baik.

Dari kiri: Andi, Attah, Widhy dan sang ibu Lani Susanti

“Mungkin amanah menjadi kades ini seperti titisan yang diwariskan Bapak kepada saya, mengingat histori yang saya alami saat lahir,” ucap Attah seperti merenung. Ia pun sebenarnya tidak  bercita-cita menjadi kepala desa seperti bapaknya.

Perjalanan sekolah Attah tak semulus yang dibayangkan orang, mengingat dia adalah anak seorang kepala desa. Karena suatu hal, Attah sempat berpindah sekolah. Namun dengan tekad yang bulat dan perjuangan yang gigih, akhirnya Attah berhasil meraih gelar sarjana ekonomi di Yogyakarta.

Selepas kuliah tahun 2005 atau saat berusia 25 tahun, Attah mulai terlihat talentanya. Attah terjun ke dunia bisnis. Ia memutuskan menjadi pengusaha, tepatnya menjadi kontraktor, dan sukses.

Tentang hobinya mengendarai moge yang sudah digeluti sejak tahun 2008 itu, Attah sempat mengajukan permohonan bila dirinya terpilih menjadi kades. “Saya tidak bisa bekerja full di balai desa. Yang penting saat dibutuhkan saya bisa. Mereka setuju,” ujarnya sambil tersenyum.

Saat ditanya alasannya mau menerima permintaan warga menjadi kades, dengan arif Attah menjawab, ” Saya hanya meneruskan cita-cita Bapak dan menghormati para ulama dan tokoh masyarakat yang sudah mendorong saya untuk memimpin Desa Kebongunung”.

Baginya, apa yang sudah dimiliki saat ini sudah lebih dari cukup. “Saya sudah punya rumah, kendaraan, sawah dan harta lainnya. Kalau mau menambah kekayaan, bukan di sini (jadi kades-red) tempatnya,” tegasnya.

Kebongunung yang memiliki lima dusun yakni Ngaglik, Sembuh, Diponayan, Krajan dan Kebongunung itu sebagian  besar masyarakatnya adalah petani penggarap sawah.

Attah sudah berencana menanggalkan status bujangnya

Setelah menjadi kades, Attah akan memprioritaskan pembenahan infrastruktur dan penyelesaian masalah sertifikat tanah. Termasuk penyaluran bantuan yang tepat sasaran seperti Bantuan Langsung Tunai dan Program Keluarga Harapan.

“Saya sanggup menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut karena sudah janji dan ditanting. Jadi ya harus mau,”ucapnya bersungguh-sungguh.

Di desa yang berpenduduk kurang dari 3.000 jiwa itu, Attah berkeinginan untuk mendirikan BUMDes berupa Pertades atau pom bensin desa. Rencananya Pertades yang akan direalisasikan tahun 2022 itu berada di tanah bengkok milik sekretaris desa yang letaknya strategis.

Attah berharap Desa Kebongunung bisa menjadi lebih baik dari waktu sebelumnya. Saat ini dirinya fokus pada pembenahan sistem agar tercipta transparansi anggaran, bersinergi dengan BPD sebagai representasi warga.

Keramahan adalah salah satu ciri khas Attah Handogo

Selain itu juga peningkatan kinerja dari perangkat desa yang akan membantunya mengemban amanah warga. Peran perangkat desa menurut Attah sangat penting dalam memajukan desa. Perangkat desa lah yang secara teknis menguasai pemerintahan desa.

Attah mengaku menyimpan banyak gagasan untuk membangun Kebongunung ke depan. Dia optimistis akan dapat merealisasikan gagasan-gagasan itu karena dukungan besar masyarakat Kebongunung kepadanya.

Attah yakin, niat luhurnya menjadi kepala desa dan ditambah dukungan warga, bakal berbuah kebaikan. Attah juga yakin, Kebongunung ke depan akan makin maju desanya dan sejahtera warganya

“Saya ingin menghidupkan kembali marwah Bapak yang pernah memimpin desa uni selama 25 tahun,” pungkasnya. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan