SMK Bharasa Purworejo Menjawab Kebutuhan Akan Tenaga Farmasi dan Keperawatan

PURWOREJO, Bagi sebagian siswa lulusan SMP, melanjutkan sekolah yang memiliki ketrampilan khusus atau SMK menjadi pilihan utama. Terutama bagi mereka yang begitu lulus ingin langsung bekerja. SMK masih dinilai sebagai solusi untuk mengatasi masalah pengangguran karena kurikulumnya berbasis ketrampilan.
Selain juga masih terbukanya kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK menjadikan SMK banyak diminati oleh lulusan SMP khususnya dari masyarakat menengah ke bawah. Itu terjadi di daerah manapun tak terkecuali Purworejo.

Di Kabupaten Purworejo ada beberapa SMK yang membekali siswanya dengan ketrampilan khusus, salah satunya adalah SMK Bhakti Putra Bangsa (Bharasa) yang terletak di Jalan Lingkar Selatan Borokulon Kecamatan Banyuurip, Purworejo. Tepatnya di seberang RSUD Tipe C RAA Tjokronegoro.

SMK Bharasa yang berdiri sejak tahun 2015, memiliki dua jurusan yakni Farmasi dan Keperawatan. Waka Kesiswaan, Kusumandari M.Pd (Bu Ndari) menjelaskan, pada tahun pelajaran ini SMK Bharasa memiliki 258 siswa. Terdiri atas 104 siswa jurusan Farmasi dan 154 siswa jurusan Keperawatan.

Ndari merinci, kelas XII ada 89 siswa terdiri atas 39 siswa jurusan Farmasi dan 50 siswa jurusan Keperawatan. “Siswa putranya hanya kurang dari 10%,” ujarnya.

Untuk mengampu para siswa, sekolah ini memiliki 21 guru dan 3 karyawan. Dari jumlah tersebut ada 4 guru bergelar S2 dan sebagian besar sedang menyelesaikan studi S2 mereka.

Kepala SMK Bharasa Rahman Sudrajad, M.Pd

Untuk mendukung kegiatan di luar belajar, siswa SMK Bharasa mengikuti kegiatan ekstra kurikuler baik wajib maupun pilihan. Selain Pramuka, ekskul wajib lain adalah PMR yang harus diikuti seluruh siswa sebagai konsekuensi sebagai sekolah berbasis kesehatan.

Adapun ekskul pilihan yakni Hadroh, MTQ, drumband, tari, silat, Jet Kun Do, PIKR, KIR, Paskibra, teater, kepecintaalaman Sipali serta atletik.

Ndari menjelaskan, sekolah mendatangkan pelatih yang kompeten di bidangnya untuk mengampu kegiatan ekskul. Seperti pelatih ekskul atletik yang merupakan atlet handal yakni Digdo Novianto.

Terbukti Digdo mampu menghantarkan siswa siswi SMK Bharasa di berbagai event bergengsi seperti Borobudur Run serta menyumbangkan medali pada beberapa lomba. Demikian juga dengan ekskul pecinta alam yang dilatih oleh Wahid Purwanto yang kompeten di bidangnya.

Selain itu juga ada kegiatan keagamaan yakni Rohis (rohani Islam) yang rutin mengadakan Jumat Berbagi dimana setiap 2 Jumat sekali, tiap anak membawa 1 nasi bungkus yang didistribusikan kepada kaum duafa.

Meski baru berusia 5 tahun sekolah ini sudah mampu mengukir prestasi baik di bidang akademik maupun non akademik. Selain atletik, prestasi di bidang non akademik lainnya antara lain yakni juara 1 lomba teater yang pesertanya puluhan SMA dan SMK di Kabupaten Purworejo.

Asrama siswa 4 lantai

Prestasi akademik antara lain, Juara 1 LKS Farmasi Kabupaten Purworejo dan masuk 10 besar tingkat provinsi, serta Juara 2 LKS Keperawatan tingkat kabupaten.

Rahman Sudrajad, M.Pd, Kepala SMK Bharasa Purworejo mengungkapkan, letak SMK Bharasa di pinggiran kota yang jauh dari kebisingan, membuat SMK Bharasa nyaman sebagai tempat belajar.

Rahman menjelaskan, satu kelas maksimal berisi 32 siswa. Setiap kelas dilengkapi fasilitas berupa kursi kursi lipat, 2 kamar mandi, 4 kipas angin serta LCD . Untuk kelas XII fasilitas tersebut masih ditambah dengan TV LED untuk mendukung proses belajar mengajar.

Terkait dengan kurikulum siswa, SMK Bharasa menerapkan sistem kompetensi pada tiap jurusannya. Kompetensi jurusan Farmasi meliputi pembuatan salep gatal, sabun cair dan padat, bedak tabur, mampu membaca resep dokter serta menyediakan obat yang dimaksud.

Selain itu menggerus puyer dan melipat kertas puyer, serta bisa membuat bahan dasar obat sirup batuk. Uji kompetensinya yakni mampu membaca resep dan meraciknya serta pelayanan farmasi.

Siswa praktik di laboratorium

Adapun kompetensi jurusan Keperawatan meliputi tindakan keperawatan, tensi, tinggi berat badan, oral higienis (sikat gigi pasien), memandikan dan mencuci rambut pasien, mengganti dan memasang infus serta menyiapkan alat persalinan.

Di SMK Bharasa siswa juga dibekali teori menyuntik tapi tidak boleh praktek menyuntik sendiri.

Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilakukan saat siswa duduk di kelas XI semester 2 selama 4 bulan. PKL merupakan syarat kenaikan kelas yakni siswa harus lulus PKL. Saat PKL, siswa melakukan praktik di Puskemas serta rumah sakit swasta yakni RS Permata, RS Amanah Umat, serta RS Purwa Husada. Adapun praktik di laboratorium dilakukan sejak siswa duduk di kelas X.

Menurut Rahman, SMK Bharasa berhati-hati dalam menerapkan kurikulum karena berkaitan dengan nyawa manusia.
Rahman melanjutkan, SMK Bharasa yang sudah 2 kali meluluskan siswanya juga didukung dengan fasilitas berupa laboratorium komputer, keperawatan, dan farmasi.

Para siswa PKL di rumah sakit

Beberapa waktu terakhir ini SMK Bharasa mendapat bantuan Ruang Praktik Siswa (RPS) dari Kemendikbud sebesar Rp 250 juta yang digunakan untuk membangun RPS untuk jurusan Farmasi.

Fasilitas menarik yang masih belum dimiliki sekolah lainnya adalah asrama putri dengan kapasitas 200 kamar. Di gedung asrama berlantai 4 yang terletak di samping sekolah itu siswa hanya membayar Rp100.000 hingga Rp175.000 perbulan.

SMK Bharasa juga memberikan beasiswa bagi siswa berprestasi yang diberikan saat kenaikan kelas. Untuk siswa yang meraih Juara 1 di kelas, pihak sekolah membebaskan SPP selama 6 bulan.

Sedangkan bagi siswa Kelas X yang memiliki nilai tertinggi akan dibebaskan SPP selama 3 bulan. Siswa tidak mampu juga mendapatkan beasiswa baik dari pemerintah maupun yayasan. Rahman merinci ada sekitar 15 persen siswa yang menerima beasiswa.

Siswa-siswi yang telah diwisuda

Sekolah memfasilitasi siswa yang akan langsung bekerja dengan menyalurkannya ke BKK.

Prospek lulusan dari jurusan Farmasi antara lain menjadi Asisten Apoteker (AA) di apotek baik pemerintah maupun swasta. Adapun jurusan Keperawatan biasanya bekerja di home care, klinik kecantikan maupun baby care.

Disamping itu sekitar 15 % lulusan SMK Bharasa yang melanjutkan kuliah. Khusus bagi siswa yang akan melanjutkan kuliah di Akademi Kebidanan Bhakti Putra Bangsa Purworejo yang masih satu yayasan, akan mendapat keringanan biaya uang gedung berkisar Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

SMK Bharasa menerapkan jam belajar selama 6 hari dimulai mulai pukul 07.00 sampai pukul 14.30 dengan porsi praktik mencapai 70% . Saat ini SMK Bharasa mendapat akreditasi predikat B dan akan berusaha ditingkatkan menjadi A pada 2 tahun mendatang.
“SPP Rp 150.000 perbulan sejak berdiri hingga kini tidak mengalami kenaikan. Biaya pendaftaran ulang Rp 2 juta dibayar hanya saat awal masuk sudah termasuk seragam dan biaya praktek laboratorium. Dengan biaya murah serta fasilitas beasiswa dan sarana yang mendukung, tidak ada alasan untuk siswa yang ingin mendapatkan ketrampilan khusus dan langsung bekerja untuk menolak sekolah di SMK BPB,” tandas Rahman. (Yudia Setiandini)

Tinggalkan Balasan