Senjakala Kopada: Dulu Primadona, Kini Merana Dilibas Zaman

PURWOREJO, Era kejayaan transportasi umum Kopada di Purworejo tampaknya sudah hampir berakhir. Pada awal kehadirannya tahun 1987 hingga akhir tahun 2010, Kopada masih menjadi primadona angkutan umum jarak dekat dan menengah yang sangat dibutuhkan dan menjadi satu-satunya alternatif.
Kala itu okupansi atau tingkat keterisian bisa 100% alias terisi penuh.

Seperti dituturkan oleh Londo (43), mantan supir dan kernet Kopada yang kini menjadi pengurus paguyuban Koperasi Supir Angkutan Purworejo (Kopasup). 

Londo berkisah, pada awal kehadirannya, Kopada benar-benar ditunggu oleh calon penumpang.

“Dulu penumpang sampai antre dan menunggu Kopada. Sekarang, Kopada yang menunggu penumpang,” kenang Londo.

Masih menurut Londo, saat ini untuk jalur tergemuk yakni rute Purworejo-Kutoarjo ada 114 armada. Dari jumlah itu, paling banter dalam sehari-harinya hanya 80 yang jalan.

Hari Minggu paling sepi karena hanya sekitar 50 armada yang berangkat. Apalagi bila hujan, banyak Kopada yang hanya jalan satu tangkep/putaran kemudian balik kandang karena sepinya penumpang.

Memang dari waktu ke waktu, moda transportasi berpenumpang maksimal 12 orang itu terus mengalami penurunan baik dari jumlah penumpang serta jumlah armada yang beroperasi.

Londo

Data Koperasi Kopada yang kantornya berada di Jalan Urip Sumoharjo Purworejo menyebutkan, dari 43 trayek yang ada, Kopada memiliki 29 trayek, yakni trayek nomer 1 hingga 10 dan trayek nomer 27 hingga 43. Sisanya dimiliki Primkopad, Primkopol, serta koperasi lain.

Dari 29 trayek itu, ada 4 trayekyang resmi divakumkan karena sepinya penumpang sejak tahun 2008. Keempat trayek itu yakni trayek 33 rute Purworejo- Dewi-Tanjungunganom,  trayek 35 rute Purworejo -Jenar – Wingkoharjo. Berikutnya jalur 39 rute Purworejo – Jenar – Angkruk Ketip – Kembangkuning – Wunut, serta trayek 42 rute Purworejo -Kaliwatu Kranggran.

H Achmad Thoha, ST, MM, Ketua Kopada Purworejo sekaligus pengusaha angkutan kota mengungkapkan, masa jaya Kopada telah berakhir dalam sepuluh tahun terakhir ini. 

“Diawali dengan kemudahan menyicil sepeda motor sehingga orang beralih naik sepeda motor sebagai kendaraan pribadi. Kemudian diperparah dengan kehadiran ojek online dalam dua tahun terakhir ini, membuat nasib Kopada makin terpuruk,” ujar Thoha.

Sebagai pemilik Kopada, Thoha mengeluhkan sepinya penumpang serta menurunnya setoran. 
“Jalur Kaligesing bahkan setoran hanya Rp 20.000 hingga Rp 30.000 sehari,” ujarnya.

Kopada kini hanya mengandalkan penumpang yang tidak menggunakan jasa ojol alias penumpang “konvensional” serta anak sekolah. 

“Bila anak sekolah libur, apalagi pengaruh virus corona saat ini, ya kami gigit jari,” ujar Zamzami (58) yang sudah puluhan tahun menjadi supir Kopada. 

H Ahmad Thoha

Tak jarang ia dan juga rekan-rekan lainnya pulang tanpa membawa hasil, karena uang yang ada hanya cukup untuk setoran berkisar Rp100.000.

Di sisi ain, pengusaha juga mengeluhkan Kopada yang mangkrak karena berhenti beroperasi, tapi sulit dijual.

Zamzami berkisah, dulu setiap Kopada pasti mempunyai kernet yang bertugas mencari penumpang dan menarik uang dari penumpang. Tapi sudah sejak 10 tahun lalu fungsi kernet dirangkap oleh supir karena tidak mampu membiayai dua orang dalam satu armada.

Sekarang waktunya banyak dihabiskan untuk “ngetem” menunggu penumpang di seputaran Plasa. Modal satu atau dua penumpang yang didapat saat ngetem dianggap sudah cukup sebagai modal melanjutkan perjalanan.

Sebagai pengusaha Kopada dan pemangku kepentingan di koperasi Kopada, Thoha berharap agar pemerintah daerah memenuhi kewajiban sesuai dengan amanat peraturan Menteri Perhubungan nomor 73 tahun 2019 yang menyatakan subsidi angkutan orang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota untuk jenis angkutan perkotaan atau angkutan pedesaan.

Ia juga berharap agar pemerintah bersikap adil dalam menegakkan peraturan wajib Kir bagi angkutan penumpang seperti Kopada, tapi tidak bagi angkutan penumpang berplat hitam.

Selebihnya ia hanya pasrah menunggu senjakala Kopada yang semakin redup ditelan zaman. (**)

Tinggalkan Balasan