Pulang ke Baledono Cari Ketenangan, Aning dan Anak-anaknya Lolos dari Kejaran Tsunami Palu

PURWOREJO, Gempa berkekuatan 7,4 SR yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya Senin (1/10) lalu masih menyisakan duka bagi keluarga korban.
Salah satu korban selamat, Aning Oktaviani (33), asal RT 01 RW 09 Kelurahan Baledono, Kecamatan Purworejo. Beberapa hari lalu Aning kembali ke kampung halamannya.
Ditemui di rumahnya, ibu tiga anak itu menceritakan, pada saat gempa terjadi Aning bersama sejumlah anggota Bhayangkari sedang mengadakan arisan di Cafe Kartika Pantai Selasih yang berada di tepi pantai.
Sekitar 45 menit kemudian terjadi goncangan sehingga semua anggota arisan terlempar. Bahkan karena kuatnya goncangan seluruh orang yang berada di lokasi itu terlempar ke segala arah.
“Anak saya yang nomer satu pegangan tiang baruga, yang nomer dua terlempar, dan yang paling kecil saya peluk erat, “kata Aning.
Menurut Aning dirinya tidak tahu kondisi itu berlangsung berapa menit. Waktu itu yang ada di benak Aning hanya bagaimana dia dan anaknya cari selamat.
“Saya tidak tahu, waktu itu sambil terlempar-lempar saya baca istighfar terus, “ucapnya.

Setelah goncangan mereda, lanjut Aning, dirinya dan anak-anaknya lari keluar menyeberang jalan. Saat itu dari kejahuan Aning melihat gelombang tsunami yang pertama sudah mulai mendekati pantai.
Aning dan anaknya kemudian berusaha berlari menjauhi pantai. Beruntung saat itu ada mobil melintas sehingga Aning dan anaknya bisa menumpang. Namun sayang baru sekitar 10 meter mobil tidak bisa lewat lantaran jalan raya sudah dipenuhi puing bangunan dan tiang listrik.
Sambil menggendong dan menuntun anaknya Aning kemudian berlari ke arah tempat yang agak tinggi dengan melalui bekas reruntuhan gedung. Saat itu Aning meliha gelombang tsunami yang kedua sudah terlihat warnanya hitam.
Sambil menggendong anaknya Aning terus berlari menyusuri jalan Yos Sudarso menuju lapangan Abadi. Secara kebetulan ada mobil yang lewat lagi sehingga Aning bisa menumpang. Pada saat itu gelombang tsunami yang kedua sudah pecah dan menggulung seluruh bangunan dan fasilitas lain.
“Mungkin orang yang di mobil juga mau menyelamatkan diri jadi kita juga dibawa sekalian, “ucap Aning yang mengaku sempat diterjang tsunami sebatas lutut.

Lanjut Aning, selama dalam perjalanan ke Petobo, mobil yang ditumpagi serasa terombang ambing karena terus menerus diterjang goncangan gempa.
“Alhamdulillah setelah berlari dari Pantai Selasih hingga Petobo selama hampir 3 jam akhirnya saya dan anak -anak sampai dengan selamat, “katanya.
Dikatakan Aning, dirinya merantau ke Palu sejak tahun 2006 mengikuti buliknya. Aning bersuamikan Bripka Supandi yang bertugas di Polda Palu. Aning berdomisili di Jalan Sungai Saoso, Palu Barat.
Akibat gempa tersebut Aning kehilangan bu liknya serta keponakannya. Setelah sempat berada di tempat pengungsian selama 5 hari Aning memutuskan pulang ke orang tuanya di Purworejo dengan menumpang pesawat Hercules milik TNI. Sementara suaminya masih berada di Palu.
“Saya ingin menenangkan diri dulu, saya masih trauma. Ada rencana kembali ke Palu tapi nunggu waktu sampai betul-betul aman, “kata Aning. (Wardoyo)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *