Nasib PO Bus di Musim Covid-19: Moda Transportasi Boleh Beroperasi Lagi, Penumpang Tetap Sepi

PURWOREJO, Dibukanya kembali moda transportasi oleh Kementerian Perhubungan mulai tanggal 7 Mei lalu telah membawa konsekuensi pembukaan kembali jadwal perjalanan baik dengan menggunakan bus, kereta, maupun pesawat.

Seperti yang terjadi di wilayah Purworejo yakni dengan beroperasinya kembali moda bus dari dan menuju Jakarta dan sekitarnya.

Seperti dituturkan owner PO Bus Sumber Alam (SA), Anthony Steven Hambali atau yang biasa disapa Tony, yang dihubungi Purworejonews, Selasa (12/5). Menurut Tony, sejak diberlakukannya Peraturan Menhub Nomer 25 Tahun 2020, pihaknya baru melakukan dua kali perjalanan baik dari barat (Jakarta) maupun dari timur (Yogyakarta). 

Namun demikian Tony mengakui, belum banyak penumpang yang memanfaatkan kesempatan itu. Tony meyakini, syarat yang dinilai terlalu ketat mengakibatkan busnya belum banyak diminati. 

“Padahal tahun sebelumnya hari gini sudah mulai ramai terutama yang dari barat,” keluhnya.

Bus Sinar Jaya menunggu penumpang di Terminal Bus Purworejo

Syarat yang dianggap memberatkan itu, lanjutnya, yakni menunjukkan surat keterangan sehat dari puskesmas atau RS serta surat keterangan jalan dari RT/RW/kelurahan bagi yang tidak memiliki kepentingan dinas. 

Akibatnya, sampai saat ini Tony baru membuka rute dua hari sekali yakni hari Senin, Rabu, dan Jumat untuk keberangkatan dari arah timur. Adapun dari arah barat  hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.

Meski demikian Tony mengungkapkan, harga tiket sudah naik dibandingkan hari biasanya, yakni Rp 500.000 dari Jakarta serta Rp 250.000 dari Yogyakarta. Dengan adanya penerapan social distancing, kapasitas bus SA yang semula untuk 50 penumpang, kini hanya diisi 25 penumpang.

Demikian pula halnya dengan bus Sinar Jaya. Menurut karyawan agen bus Sinar Jaya, Eka, sejak dibukanya kembali transportasi publik, penumpang bis Sinar Jaya belum mengalami kenaikan yang signifikan. 
Berbeda dengan bus SA, bus Sinar Jaya yang mulai beroperasi kembali sejak kemarin, rutin setiap hari melakukan perjalanan baik dari dan ke arah Barat.

“Meskipun penumpangnya baru satu dua, tapi tetap kami layani setiap hari,” ujar Eka.

Anthony

Dari tarif normal Rp 115.000, Bus Sinar Jaya membandrol tarif Rp 400.000 dari arah barat. Sedangkan dari arah timur Rp 325.000. “Biasanya hari gini sudah ramai penumpang si. Tapi ya mau bagaimana lagi, kondisinya seperti ini,” ucap Eka. 

Meski demikian baik Eka maupun Tony keduanya mengeluhkan kebijakan pemerintah yang dianggap membingungkan. Bagi mereka, akan sulit mendapatkan keuntungan dengan kebijakan seperti itu.

Selain itu, dengan adanya kebijakan seperti ini mau tidak mau calon penumpang putar otak untuk dapat mudik. Bisa jadi, menurut Tony, calon penumpang “bermain mata” dengan petugas kelurahan agar mereka mendapat surat keterangan.

“Kenapa pemerintah tidak memfasilitasi calon penumpang bus dengan mengadakan rapid tes di terminal saja? Toh kalau hasil tesnya negatif mereka bisa pulang, tapi kalau hasilnya reaktif mereka langsung ditindaklanjut,” saran Tony.

Dengan cara itu, lanjut Tony,  akan memudahkan calon penumpang serta meringankan beban pemerintah daerah yang harus menanggung biaya hidup warganya akibat tidak mendapatkan pekerjaan. (dia)

Tinggalkan Balasan