Bermula dari STM Kosgoro, Kini SMK PN dan PN 2 Jadi SMK Swasta Terpopuler di Purworejo

TANGGAL 10 November 2019 lalu SMK Pembaharuan atau SMK PN genap berusia 51 tahun. Sepanjang setengah abad mengarungi samudra pendidikan, SMK PN mampu bertahan melewati badai tantangan dan hempasan ombak. Bahkan SMK PN kini berkembang hingga menjadi SMK terbesar di Purworejo.
Ketua Pembina Yayasan Pembaharuan, Drs Ari Edi Prasetiyo, MBA, mengungkapkan, SMK PN didirikan sebagai STM Kosgoro pada 10 November 1968 oleh empat aktivis Ikatan Sarjana Kosgoro (ISKO) Purworejo, yaitu S Hardjono, B.Sc.E, Ir Bambang Sugeng, Soewarno, BA dan Suradji, BA. Tapi dua tahun kemudian nama Kosgoro diganti menjadi STM Pembangunan Negara dan disingkat STM PN.

Diawali pada 9 November 1968 malam ketika keempat aktivis ISKO sedang mengikuti malam tirakatan jelang peringatan Hari Pahlawan. Di tengah-tengah perbincangan mengenai program pembangunan yang saat itu gencar dilakukan pemerintah, keempat tokoh itu kemudian sepakat mendirikan lembaga pendidikan menengah teknik. Dan benar’, esok harinya mereka mendeklarasikan berdirinya STM Kosgoro.

Para siswa kelas industri

“Sejarah pendirian STM PN tidak lepas dari dinamika perkembangan politik di Indonesia. Diawali dari hasil Pemilu 1955 yang gagal merumuskan ideologi negara, berlanjut ke pergolakan politik tahun 1965 dan dimulainya Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) oleh pemerintah Orde Baru,” ungkap Ari Edi yang tercatat sebagai salah satu tokoh penerus perjuangan para pendiri SMK PN.
Setelah itu perubahan demi perubahan terjadi. Pertama, perubahan dari STM Kosgoro menjadi STM Pembangunan Negara. Lalu pada tahun 1987, karena alasan kesamaan nama dengan STM Pembangunan milik pemerintah, STM Pembangunan Negara diganti lagi dengan sebutan STM Pembaharuan dan singkatannya tidak berubah yaitu STM PN.

Awalnya STM PN yang masih menggunakan gedung SD Kliwonan itu hanya membuka dua jurusan, yaitu Teknik Bangunan Gedung dan Listrik. Dua jurusan itu dibuat untuk menghasilkan tenaga-tenaga terampil siap kerja yang saat itu sangat dibutuhkan oleh pemerintah.

Lalu pindah lagi ke gedung Benglap milik TNI di Jalan Mayjen Sutoyo. Setelah yayasan memiliki tanah di kawasan Ksatrian, pada 1975 dibangunlah gedung baru dengan tiga ruang kelas di lokasi yang sekarang ini. Tahun 1978 gedung baru itu diresmikan oleh Ketua DPRD sekaligus Ketua DPD Golkar Jateng, H Widarto.

Seiring dengan berjalannya waktu, SMK PN Purworejo makin diminati sebagai sekolah kejuruan yang bermutu. Setiap tahun ajaran baru jumlah pendaftarnya selalu surplus. Padahal pemerintah memberlakukan pembatasan jumlah kelas. Akhirnya tahun 1994 SMK PN Purworejo kemudian dikembangkan menjadi SMK PN dan SMK PN 2 .

Praktik siswa kelas Multi Media

Saat ini SMK PN Purworejo memiliki total siswa sebanyak 1.039 siswa dengan rincian 467 siswa SMK PN dan 572 siswa di SMK PN 2. SMK PN terdiri atas 22 kelas dengan 5 jurusan yakni Teknik Gambar Bangunan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Multimedia, Teknik Permesinan, dan Kendaraan Ringan.

Adapun siswa PN 2 juga dengan 22 kelas terbagi dalam 4 jurusan yakni jurusan Teknik Audio Visual (TAV), Permesinan, Otomotif Kendaraan Ringan, serta Teknik Sepeda Motor.
Sugiri, S.Pd, Kepala SMK PN Purworejo mengatakan, pembagian ke PN atau PN 2 berdasarkan pilihan siswa pada saat pendaftaran. Adapun rombongan belajar (rombel) dibagi menjadi dua yakni rombel kelas teori dimulai pukul 06.45 hingga 14.20 dan rombel kelas workshop yang dibagi dua yakni pukul 06.45 hingga 12.40 dan pukul 13.00 hingga 18.00.

Sugiri menuturkan, jurusan yang paling banyak diminati adalah Teknik Otomotif Kendaraan Ringan sebanyak 3 kelas. Namun demikian keterserapan tertinggi malah pada jurusan Bangunan dan Listrik dan sebagian besar terserap di sektor informal.

SMK PN memiliki laboratorium paling lengkap untuk meningkatkan kualitas proses belajar siswa. Terbaru yakni laboratotium Multimedia Desain Grafis.

Siswi-siswi SMK PN PN 2 juga trampil dalam bidang seni budaya

Untuk menampung lulusannya, SMK PN menjalin kerjasama dengan beberapa industri terkenal seperti Panasonic, Showa, Yayasan Toyota Astra, serta pabrik sparepart mobil Chemco.
Chemco bahkan telah menjamin lulusan yang terserap 100% dengan kelas khusus. Tahun ini, ujar Sugiri, merupakan tahun ketiga kerjasama dengan Chemco yang mensyaratkan tinggi badan minimal 165 cm untuk putra dan 160 cm untuk putri.

Kepala SMK PN 2, Rakhmi Widayati, Sos, menambahkan, dengan SPP murah serta pemberian beasiswa bagi siswa yang punya KIP sekitar 20% dari jumlah siswa, SMK PN dan PN 2 bertekad terus meningkatkan mutu serta keterserapan di dunia kerja.

Caranya diantaranya dengan membekali karakter siswa melalui berbagai kegiatan di luar sekolah seperti organisasi pecinta alam Cintaldo serta drumband yang menjadi favorit di Purworejo.

SMK PN dan PN 2 juga mampu menggaet siswa berasal dari luar kota sebagai bukti nyata adanya pengakuan dari masyarakat tentang kelebihan sekolah ini. Bahkan banyak siswa yang berasal dari wilayah tertentu di Wonosobo yang secara turun temurun memilih SMK PN dan PN 2 sebagai tempat menimba ilmu. (Nas/Dia)

Tinggalkan Balasan