Saat Penerimaan Rapor, SMK Kesehatan Sebar Angket Pembelajaran Tatap Muka

PURWOREJO, Pandemi yang masih belum berakhir tak menyurutkan niat SMK Kesehatan untuk meneruskan tradisi penerimaan rapor secara langsung dengan dihadiri orang tua siswa. Meski harus dilakukan dengan menerapkan prokes ketat dan dibagi dalam beberapa kloter, penerimaan raport semester ganjil tahun 2020/2021 diadakan selama empat hari mulai Senin hingga Kamis (14-17/12).

Waka kurikulum SMK Kesehatan Setiawan Adi Nugroho, S.Pd.Gr mengungkapkan, sistem penerimaan raport kali ini dilakukan selama empat hari, “Satu hari untuk dua kelas yang dibagi dalam empat sesi yang dimulai pukul 8 hingga 12 siang atau masing-masing sesi selama satu jam,” ungkap Adi.

Dengan sistem seperti itu menurut Adi, semua kelas dan jurusan dapat terbagi secara adil. Hari Senin ini, lanjut Adi, yakni untuk kelas 12 Keperawatan 1,2,3 dan kelas 12 farmasi 1.

Adi menyebut, penerimaan rapor dilakukan secara tatap muka
adalah untuk menyampaikan beberapa hal kepada orang tua. Salah satunya yakni angket terkait dengan bersedia tidaknya sistem pembelajaran secara tatap muka yang rencananya akan diadakan mulai semester genap bulan Januari mendatang.

Hasil angket itu akan diisi langsung oleh orang tua atau wali murid saat penerimaan rapor. Selain itu penerimaan rapor secara langsung juga merupakan bentuk interaksi antara orang tua dan guru.

Diakui Adi, hasil pemjelajaran secara daring belum bisa tercapai secara penuh karena ada standar kompetensi minimal yang belum terpenuhi, seperti pada mapel Matematika dan Bahasa Inggris.
Selain itu, juga menurunnya kualitas pendidikan karakter siswa selama mereka mengikuti PJJ.

“Kami berharap pembelajaran bisa seperti semula dengan konsekuensi menerapkan prokes ketat. Sekolah kami ada satgas covid yang bertugas mengingatkan siswa untuk selalu memakai masker,begitu juga guru. Pembelajaran langsung akan dapat mengembalikan marwah pendidikan karakter seperti sebelum pandemi,” pungkas Adi.

Hal senada disampaikan salah satu orang tua siswa, Erningsih (52). Menurutnya, lebih baik anaknya belajar di sekolah karena bila ada kesulitan bisa langsung bertanya ke guru. Selain juga menghemat pengeluaran untuk pembelian paket internet. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *