Peristiwa “Begal Payudara” di Butuh Diselesaikan Secara Restorative Justice

BUTUH, Kasus tindak asusila berupa “begal payudara” yang diduga dilakukan oleh S (25) warga Desa Ketuk, Kecamatan Butuh, berakhir damai. Polisi menempuh jalur restorative justice. Yakni alternatif menyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku atau korban dan pihak lain yang terkait.

Hal itu karena keluarga korban memaafkan pelaku. Juga keluarga pelaku dan warga serta pihak Polsek Butuh sepakat akan melakukan pengawasan dan pembinaan kepada pelaku.

Kanitreskrim Polsek Butuh Ipda Setyono, SH saat ditemui di kantornya, Minggu (14/3) menjelaskan kronologi peristiwa asusila yang dilakukan pelaku kepada Puji Nugrahaningrum (25) warga Desa Kaliwatubumi, Kecamatan Butuh, Sabtu pagi (13/3) sekitar pukul 06.30.

“Waktu itu korban naik motor pulang dari warung membeli sayur. Di jalan yang sepi, korban berpapasan dengan S yang tanpa diduga meremas payudara korban. Meski kaget, korban tidak langsung mengejar pelaku yang juga mengendarai motor. Korban langsung melaporkan kejadian itu kepada suaminya, Priyo Wicaksono (25),” terang Ipda Setyono.

Mendapat pengaduan istrinya, Priyo lalu mengejar pelaku yang saat itu diketahui mengendarai motor RX King tanpa plat nomor dan memakai kemeja bermotif bergaris. Setelah dilakukan pengejaran, pelaku akhirnya tertangkap dan dibawa ke Polsek Butuh.

Di sana, petugas kemudian memanggil pihak desa serta keluarga pelaku dan juga korban. Di hadapan petugas, pelaku mengaku sudah melakukan perbuatan serupa sebanyak tiga kali kepada orang dan tempat yang berbeda.

Ipda Setyono, SH

Yakni tanggal 9, 10, dan 13 Maret, masing- masing di SAC Kutoarjo, Jalan Lingkar Selatan Desa Kunir Kecamatan Butuh, dan terakhir di Desa Kaliwatubumi.

Atas peristiwa tersebut akhirnya dilakukan upaya restorative justice. Pertimbangannya, karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun, tepatnya 2 tahun 8 bulan.

Adapun tujuannya adalah untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, dan bukan pembalasan.

Atas peristiwa itu, ketiga korban yang dihadirkan memaafkan perbuatan yang dilakukan pelaku atas dasar kasihan. Hal itu mengingat kondisi pelaku yang berlatar belakang keluarga yang tidak mampu dan kedua orang tuanya bercerai sehingga ia tinggal sendiri.

“Bapak pelaku juga berjanji akan menjaganya dengan tidak memberi motor yang sebelumnya sering dipakai pelaku. Pihak desapun berjanji akan mengawasi pelaku yang berstatus pengangguran itu,” ucap Setyono.

Disebutkan, pelaku yang tidak tamat SMP itu itu juga memiliki kewajiban lapor ke Polsek Butuh dua kali seminggu selama tiga bulan berturut-turut. Apabila seminggu tidak lapor, kata Setyono, maka wajib lapornya diperpanjang tiga bulan lagi.

Hal yang tak kalah penting yakni pihak kepolisian dalam waktu dekat akan memeriksakan kondisi kejiwaan pelaku ke poli kejiwaan dan psikiater. “Dalam minggu ini kami akan periksa kondisi kejiwaan pelaku untuk mengetahui langkah selanjutnya,” pungkas Setyono. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *