Ronggowarsito dan Tiga Syarat Kepemimpinan

Oleh: Ahmad Nas Imam

Bonggan kan tan mrelakena
Mungguh ugering ngaurip
Uripe lan tri prakara
Wirya arta tri winasis
Kalamun kongsi sepi
Saka wilangan tetelu
Telas tilasing janma
Aji godhong jati aking
Temah papa papariman ngulandara

Kutipan di atas adalah tembang sinom bait 29 karya pujangga Jawa R.Ng Ronggowarsito, yang termuat dalam buku Wedatama. Terjemahan bebas delapan baris tembang itu adalah: Kesalahan besar orang yang tidak memerlukan landasan kehidupan. Hidup itu landasannya tiga hal: keluhuran budi/kekuatan (wirya), kaya atau sejahtera (arta), dan cerdas/pandai (winasis). Bila tidak memiliki satu dari tiga (landasan) itu, habislah/hilanglah arti sebagai manusia. Masih berharga daun jati kering. Akhirnya menderita jadi gelandangan peminta-minta.

Pesan dari tembang sinom itu kiranya tidak hanya ditujukan kepada pribadi dalam menjalani kehidupannya, melainkan bisa juga untuk sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara. Barangkali bisa pula menjadi referensi untuk memilih calon pemimpin. Dalam budaya Jawa yang menjunjung tinggi keseimbangan, kepemimpinan baik individu maupun kolektif memerlukan tiga hal yang dipesankan Ronggowarsito itu: luhur atau tangguh, kaya dan cerdas.

Di zaman yang serba benda sekarang ini, arta atau kekayaan bukan sekadar alat mencapai kebahagiaan hidup, bahkan telah menjadi kebahagiaan itu sendiri. Kekayaan bukan sebagai jembatan melainkan menjadi tujuan hidup. Oleh karenanya menjadi tidak penting, apakah kekayaan itu dicari dengan cara wirya atau tidak.

Ahmad Nas Imam

Wirya atau keluhuran budi kini banyak diabaikan orang. Lihatlah, betapa banyak orang mengorbankan martabat dan harga diri hanya untuk kekayaan atau kekuasaan. Bahkan belakangan banyak pemimpin kita masuk penjara karenanya.

Wirya kini menjadi sosok yang kesepian. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, orang yang memegang teguh keluhuran budi justru kerap medapat olok-olok: tidak realistis, sok moralis dan sebutan sejenis lainnya.

Kepemimpinan (negara) juga seyogyanya memiliki kecerdasan atau winasis. Namun kecerdasan yang dilandasi watak luhur budi. Bukan winasis yang – seperti kini menjadi tren – sekadar kontes gelar akademis, atau dalam kehidupan kenegaraan (kontes utang luar negeri). Bukan pula winasis untuk membodohi orang lain/rakyat.

Apabila dalam kehidupan ini ketiga landasan itu menyatu dalam sosok kepemimpinan (cerdas, kaya dan berbudi luhur/bermoral), alangkah kokohnya bangunan kepemimpinan itu. Penuh martabat dan harga diri. Tetapi bila tiga kearifan itu diabaikan, tunggulah saatnya menjadi godhong jati aking yang ringkih dan tak berharga. Bahkan bisa papa papariman ngulandara, menjadi miskin dan menjadi peminta-minta (kepada lembaga-lembaga pemberi utang dunia – IMF, World Bank dll).**

Penulis adalah Pemimpin Redaksi Media Online Purworejonews.

*Artikel di atas pernah dimuat di Tabloid Purworejo Pos 15 tahun lalu.

Tinggalkan Balasan