Pukat: Cermin Keluarga Sederhana tapi Tegas dalam Pendidikan Keluarga

Oleh: Dini Srijayanti

Nun di sebuah kampung kecil sederhanan yang menjunjung tinggi kerja sama dan saling tolong menolong. Siapa pula yang tidak mengenal tokoh Bapak (Pak Syahdan) dan Mamak (Ibu Nur). Bapak dan Mamak dikaruniai empat anak yaitu Ayuk Eli, Pukat, Burlian, dan
Amelia.

Salah satunya Pukat, anak kedua yang memiliki keistimewaan yaitu pintar. Pukat, dalam novel Pukat karya Tere Liye, digambarkan selalu berusaha menemukan jalan keluar, dan ide cemerlang di setiap kesempatan.

Seperti yang dikatakan orang-orang, salah satunya kakak tertua Bapak, yaitu Wak Yati yang selalu bilang bahwa Pukat memiliki jawaban dari setiap pertanyaan. Dengan bermain teka-teki yang belum dijawab, Pukat berjanji untuk menjawab walaupun di atas pusaran Wak Yati.

Keluarga Bapak hidup penuh dengan kesederhanaan dengan perangai tidak tercela yang selalu ditanamkan. Begitu pula dengan Mamak yang selalu mengajari disiplin dalam segala hal.

Seringkali sikap galak Mamak membuat salah paham, sehingga Pukat beranggapan bahwa Mamak membencinya. Tidak bisa dipungkiri kalau Pukat tetap anak-anak yang memiliki kebiasaan seperti anak kampung lainnya seperti bandel, susah diatur, bertengkar dan sebagainya.

Namun, semua anggapan Pukat tidak terbukti. Ketika Pukat tidak menuruti perintah Mamak, Pukat tidak boleh makan malam dan tidur di luar. Akibatnya Pukat jatuh sakit.

Dan semua terbukti bahwa dugaan Pukat salah. Ternyata Mamak sangat menyayanginya. Terlihat ketika Pukat sakit, Mamaklah yang menungguinya hingga sembuh.

Seperti kejadian sebelumnya, Bapak sudah memberikan pengertian kalau Mamak tidak akan pernah membenci darah dagingnya sendiri.

Walaupun Mamak tegas dalam segala hal itu, Mamak ingin Burlian dan Pukat belajar menghargai proses, dengan belajar langsung membuka
lahan. Hal tersebut bertujuan bahwa setiap butir nasi itu berharga.

Bersyukur dan tidak mengeluh
atas segala nikmat-Nya, dengan tidak membuang seenaknya rejeki yang sudah diberikan Tuhan
Maha Pengasih.

Pukat adalah anak laki-laki tertua dari empat bersaudara dalam tetralogi serial anak-anak Mamak, karya Tere Liye. Novel ini menceritakan kehidupan Pukat di kampung yang menjunjung
tinggi nilai-nilai kebaikan dalam menjalani kehidupan.

Novel ini sangat menarik dan bagus terutama untuk bacaan anak-anak usia SD. Karena sebagian besar dari cerita ini mengenai masa kecil Pukat di kampung yang penuh kesederhanaan.

Selain itu, novel ini dapat menjadi cerita teladan untuk semua
kalangan usia, bahasa yang digunakan pun mudah dicerna sehingga pembaca dapat memahami
alur cerita tersebut dengan mudah.

Pembaca pun bisa ikut merasakan sedih bahkan tertawa sendiri ketika membacanya. Namun, ada beberapa penggunaan bahasa Belanda yang tidak disertai dengan artinya. Meskipun penggunaannya sedikit, tapi dapat mengganggu pembaca
dalam merangkai cerita.

Pesan moral yang disampaikan penulis mengenai persahabatan, kejujuran, dan kesederhanaan bisa dijadikan contoh di dalam kehidupan nyata pembaca. Semangat dan
ketekunan tokoh Pukat yang berjuang agar dapat meraih mimpinya walaupun ia hanya berasal
dari keluarga sederhana patut dicontoh oleh generasi muda lainnya untuk meraih cita-citanya. ***

Penulis lahir di Purworejo, 30 September 2000, tinggal di Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi. Saat ini penulis tengah mengikuti pelatihan jurusan Tata Rias di Panti Pelayanan Sosial Anak Dharma Putera Purworejo. E-mail: dinisrijayanti3@gmail.com

Tinggalkan Balasan