Menjaga Nasionalisme di Tengah Pandemi

Oleh : Diani Sabila Nur

TANGGAL 17 Agustus adalah hari sakral bagi bangsa Indonesia, dimana hari itu merupakan momentum bersejarah yang mengingatkan masyarakat akan makna kemerdekaan dan nasionalisme. Berbagai perayaan, karnaval, dan pergelaran biasanya dilakukan untuk menyambut hari tersebut. 

Masyarakat selalu punya cara sendiri untuk memperingatinya. Namun, yang tak pernah luput dari sorotan Hari Kemerdekaan adalah lomba-lomba 17 Agustusan. Dengan berbagai macam lomba dan hype yang dibawanya, kegiatan ini sukses mengingatkan kembali akan pentingnya hari kemerdekaan. 

Selain itu, lomba-lomba tersebut sangat bermanfaat untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, terkhusus bagi anak. Mengikuti lomba dan ikut merasakan suasana menyambut hari kemerdekaan juga merupakan salah satu media untuk menanamkan dan memupuk nasionalisme bagi anak. 

Sayangnya, perayaan kemerdekaan Indonesia yang biasanya berlangsung semarak dan massal, kini menghadapi dilema, yaitu pandemi. Perayaan akbar, lomba-lomba yang menjadi ajang berkumpulnya masyarakat, dan deretan kegiatan menyambut kemerdekaan yang biasanya digelar mau tidak mau harus ditiadakan. 

Covid-19 “sukses” membuat pemerintah membatalkan perayaan besar-besaran  Peringatan ke-75 Hari Kemerdekaan Indonesia. Kesempatan untuk memupuk rasa nasionalisme dan semangat kemerdekaan seolah-olah hilang dengan ditiadakanya acara-acara tersebut.

Padahal, di masa pandemi ini, nasionalisme dan semangat kemerdekaan harus tetap tumbuh di masyarakat.


Cara yang Beda

Dengan adanya pandemi covid-19, perayaan Hari Kemerdekaan kali ini cukup berbeda. Pemerintah mengungkapkan bahwa perayaan Hari Kemerdekaan kali ini akan meminimalisir pertemuan orang secara langsung dan lebih banyak dialihkan dalam acara virtual. Hal ini tentunya juga harus dipatuhi oleh masyarakat. 

Lalu apakah dengan cara yang berbeda ini akan mengurangi rasa nasionalisme dan semangat kemerdekaan? Jawabannya tentu tidak. Benar bahwa acara-acara konvensional hari kemerdekaan akan ditiadakan, namun hal tersebut tidak membatasi masyarakat untuk membuat cara-cara baru menjaga rasa nasionalisme yang ada. 

Manteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wisnuutama, sudah menyatakan bahwa perayaan kemerdekaan Indonesia ke-75 akan lebih banyak kegiatan virtual. Hal ini sudah menjadi bukti, bahwa pemerintah tidak begitu saja menghilangkan hype hari kemerdekaan. 

Pemerintah sudah merencanakan sedemikian rupa, agar semangat kemerdekaan dan nasionalisme di 17 Agustus ini tetap dirasakan masyarakat. 

Bahkan, pemerintah sudah mempersiapkan cara ini jauh-jauh hari, diantaranya dengan membuat logo Hari Kemerdekaan Indonesia dan memasangnya mulai 1 Juli. 

Melihat kondisi sekarang, langkah pemerintah untuk meniadakan kegiatan secara langsung dan mengganti ke acara virtual sudah efektif. Pemerintah tetap berupaya agar masyarakat dapat merasakan makna dari Hari Kemerdekaan itu sendiri, walaupun caranya berbeda dari biasanya. Hal tersebut harusnya menjadi cerminan bagi masyakat Indonesia dengan mengikuti cara- cara tersebut. 

Masyarakat tetap mampu memupuk rasa nasionalisme dan semangat kemerdekaan dengan cara mereka sendiri. Dengan memanfaatkan teknologi sekarang, mengadakan lomba-lomba agustusan secara virtual bisa dilakukan. 

Merancang lomba yang sarat akan makna kemerdekaan bisa dipilih sebagai alternatif menggantikan lomba-lomba agustusan sebelumnya. Cara ini dapat dipilih dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. 

Cara lain adalah dengan meramaikan hype hari kemerdekaan melalui Sosial Media. Sosial media bukan hal baru sekarang ini, masyarakat dapat memanfaatkan platform tersebut dengan membuat dan menyebarkan konten yang berbau nasionalisme.

 

Diani Sabila Nur, penulis

Banyak yang dapat dilakukan, seperti membuat video-video kreatif yang mengingatkan akan makna kemerdekaan dan nasionalisme, membuat tulisan-tulisan inspiratif , dan masih banyak lagi.

Penggunaan sosial media yang bijak ditambah lagi dengan momentum yang pas  akan membuat gebrakan tersendiri di benak masyarakat. 
Memasang bendera dan atribut-atribut hari kemerdekaan juga tetap bisa dilakukan oleh masyarakat, terkhusus daerah yang belum terjangkau teknologi. Ini adalah cara lama yang harus dipertahankan masyarakat.

Walaupun dengan suasana corona, pemasangan bendera dan atribut-atribut kemerdekaan akan membantu menciptakan suasana hari kemerdekaan.

 
Persamaan Nasib

Jika ditengok lagi kebelakang, paham nasionalisme di Indonesia sendiri muncul karena adanya keinginan masyarakat untuk terbebas dari belenggu penjajah. Masyarakat perlu lepas dari ketidakadilan dan memerdekakan wilayahnya.

Antara pribadi yang satu dengan pribadi yang lain memiliki tujuan dan nasib yang sama, hingga muncullah pergerakan dan keinginan yang kuat untuk memerdekakan Indonesia. 

Dengan berjalannya waktu, paham nasionalisme dan semangat kemerdekaan tidak hanya membara ketika Indonesia dijajah, atau ketika Indonesia memiliki sengketa perebutan wilayah.

Namun, paham tersebut beradaptasi sedemikian rupa karena keinginan untuk mencapai dan mempertahankan cita-cita bangsa. 

Begitupun saat ini, di masa pandemi. Musuh kita sekarang memang bukan penjajah, melainkan virus dan keegoan diri sendiri. Namun, masyarakat bangsa ini masih memiliki tujuan dan nasib yang sama, yaitu menyudahi pandemi. 

Covid-19 dan dampak yang dibawanya memang menghilangkan beberapa tradisi yang ada, namun bukan berarti bisa melunturkan nasionalisme dan semangat kemerdekaan begitu saja.

Dengan adanya corona dan tepatnya momentum Hari Kemerdekaan, harusnya hal ini menjadi peringatan untuk membangkitkan rasa nasionalisme.

Kita memiliki nasib yang sama, mengusir pandemi ini dari wilayah Indonesia. Jadi, mari bekerja sama dengan mematuhi peraturan yang sudah dibuat, mengedepankan protokol kesehatan, dan mendukung satu sama lain demi tercapainya tujuan terbebasnya bangsa dari corona.

Sekali lagi, tradisi boleh beda, suasana boleh tak sama, namun nasionalisme perlu terus dijaga!***

Penulis adalah mahasiswi Sampoerna University yang masih duduk di Semester 5 di Jurusan Industrial Engineering. Lahir di Temanggung, 3 Desember 1999 tinggal di Pabelan, Pancuranmas, Secang, Magelang.

.

Tinggalkan Balasan