Essay: Politik Furbizia

Gelaran Final Piala Dunia 2006 di Jerman mempopulerkan kata furbizia (seni berbuat culas), istilah untuk menyebut perilaku culas dan brengsek, tatkala Italia bertemu dengan Australia di babak 16 besar. Peristiwa itu lalu dikenang oleh banyak pecinta sepakbola di seluruh dunia.

Saat itu tim sepakbola Australia sedang dalam era emas karena memiliki sejumlah pemain hebat yang merumput di Liga Inggris. Sebut saja Mark Bresciano, Tim Cahill, Lucas Neill, dan Mark Viduka.

Sementara Italia bertabur bintang dunia seperti F Cannavaro, Del Piero, Marco Materazzi, Francesco Totti, Buffon dan sederet bintang lainnya. Italia di bawah asuhan pelatih si rambut perak Marcello Lippi, sedang Australia ditangani Guus Hiddink.

Kedua tim bertarung sengit dan hingga menit ke-90 sama-sama tidak mampu menciptakan gol. Australia diuntungkan dengan masih memiliki 11 pemain dan masih punya kesempatan mengganti 2 pemain, sementara Italia dalam posisi terjepit: tinggal 10 pemain setelah Marco Materazzi diganjar kartu merah oleh wasit Luis Medina Cantalejo dan tidak ada kesempatan mengganti pemain jika terjadi perpanjangan waktu.

Di ujung pertandingan babak kedua itulah Italia menggunakan senjata furbizia untuk mengakhiri perlawanan tim Negeri Kanguru. Penyerang Italia, Fabio Grosso, sengaja memainkan bola di kotak pinalti, sambil menunggu kesempatan yang tepat untuk memainkan “drama”.

Dan benar, tatkala Grosso menggiring bola, back Australia, Bresciano, mencoba mencegahnya dengan melancarkan tekel. Itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu. Grosso langsung beraksi dengan mengaitkan kakinya ke daerah punggung Bresciano sambil menjatuhkan badan.

Priittt!! Wasit asal Spanyol itu menunjuk memberikan hadiah tendangan pinalti kepada tim Azzuri. Francesco Totti yang masuk menggantikan Alessandro Del Piero berhasil mengonversinya jadi gol. Italiapun lolos ke babak perempat final.

Perilaku furbizia di lapangan bola sangat sering kita lihat, dan itu sangat menyakitkan. Melakukan diving di kotak pinalti dan berhasil memperdaya wasit adalah sebuah kekonyolan.

Perilaku furbizia semacam itu bertentangan dengan semangat sportifitas dan fair play yang menjadi ruh olahraga. Tapi nyawa olahraga itu acapkali dikalahkan oleh ambisi kemenangan atau juara.

Apakah perilaku furbizia juga dilakukan di dunia politik? Jawabnya: sangat mungkin. Demi mempertahankan atau ambisi meraih kemenangan (kekuasaan), apa yang dilakukan oleh Fabio Grosso boleh jadi akan dilakukan juga di arena politik. Dalam situasi terjepit, seseorang membuat manuver agar lawan mendapat kartu merah.

Semoga peristiwa pembakaran bendera parpol di Jakarta itu bukan sebuah furbizia. Wallahu alam bishowab. *** (Ahmad Nas Imam, Pemred Media Online Purworejo News)

Tinggalkan Balasan