Muhammad Abdullah Minta Dukungan Media untuk Perjuangkan Aspirasi MasterBend

PURWOREJO, Pembangunan Bendungan Bener tampaknya masih menyisakan beberapa permasalahan, khususnya bagi warga terdampak. Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Abdullah, SH, anggota DPRD Purworejo yang selama ini aktif mendampingi warga selama proses berlangsung, Sabtu (13/3).

Abdullah yang didampingi Rohman, anggota DPRD yang sama-sama berasal dari Dapil 6, mempertemukan para wartawan dengan perwakilan Masyakarat Terdampak Bendung Bener (MasterBend).

Abdullah menyatakan tekadnya akan terus mendampingi warga terdampak Bendungan Bener untuk memperjuangkan hak-haknya. Abdullah juga minta dukungan media untuk ikut menyuarakan aspirasi mereka.

Di hadapan media, Abdullah menceritakan kronologi proses pembebasan tanah yang akan digunakan untuk proyek prestisius tersebut. Termasuk kesepakatan harga untuk 1.654 bidang tanah yang terdampak.

Hingga akhirnya pada tanggal 14 Desember 2020 terjadi musyawarah pertama dan baru terealisir pembayarannya 12 Februari 2021 untuk 154 bidang milik warga Desa Nglaris senilai Rp 22 miliar.

Dari waktu permbayaran pertama, warga dijanjikan akan kembali diadakan pembayaran tahap berikutnya atau sisanya sebanyak 1.500 bidang pada tanggal 28 Februari. “Nilainya mencapai Rp 320 miliar,” ucap Abdullah.

Perwakilan warga terdampak yang menamakan diri MasterBend

Karena tak kunjung dibayarkan, akhirnya pada tanggal 9 Maret lalu ratusan warga terdampak mendatangi kantor BPN Purworejo untuk meminta kepastian waktu pembayaran. Pihak BPN menjanjikan akan segera mengatasi permasalah tersebut.

“Bila seminggu tidak ada jawaban, kami akan kembali menemui kepala BPN untuk menagih janji. Kalu perlu kami akan menginap di kantor BPN” kata korlap Eko Siswoyo beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu. Menurut Abdullah, salah satu pelaksana proyek yakni PT Waskita Karya dalam melakukan blasting atau peledakan beberapa waktu lalu mengakibatkan kerusakan pada 117 rumah warga, termasuk aula di Bukit Besek juga terkena imbasnya.

Kegiatan blasting juga berdampak pada psikologis warga yang terganggu. Abdullah bahkan menyebut, Polres Purworejo sudah dua kali memberi peringatan tertulis kepada PT Waskita terkait kegiatan blasting yang dilakukan.

“Saya nggak tahu seperti apa SOP kegiatan blasting. Tapi mestinya tidak sampai membahayakan keselamatan dan merugikan warga secara ekonomi, seperti yang terjadi selama ini,” katanya. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *