Mahasiswa KKN Undip Menjawab Solusi Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi Covid-19

KUTOARJO, Pada awal bulan Maret, di Indonesia dihebohkan adanya warga yang terpapar Covid-19. Berita tentang warga yang terpapar meluas sehingga membuat masyarakat menjadi mulai khawatir. Covid-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona baru. 
Virus dan penyakit baru ini tidak diketahui sebelumnya.

Wabah ini di mulai di Wuhan, Tiongkok pada bulan Desember 2019. Virus ini mengakibatkan segala aktivitas yang dilakukan oleh semua orang menjadi terhambat. Orang-orang yang bekerja dianjurkan WFH (Work From Home), siswa maupun mahasiswa juga dianjurkan belajar di rumah.

Pemerintah membatasi kegiatan yang dilakukan di luar rumah, berkerumun dan melakukan kontak langsung dengan orang asing. Sementara itu kebutuhan pokok sehari-hari harus dipenuhi di tengah situasi pandemi. 

Oleh karena itu dibutuhkan sebuah usaha untuk mencukupi kebutuhan hidup. Diantaranya yaitu membudidayakan ikan dan sayuran dalam ember (Budikdamber).

Budikdamber adalah budidaya ikan dan sayuran dalam satu ember yang merupakan sistem akuaponik (polikultur ikan dan sayuran) (Febri et all., 2019). Sistem akuaponik sudah berkembang saat ini banyak menggunakan lahan yang luas dan rumit dalam pembuatannya.

Taufiq memberi solusi Budikdamber

Budikdamber menjadi sistem akuaponik baru sederhana yang tidak memerlukan area yang luas dan tentu lebih murah dan mudah dalam proses pembuatannya.

Situasi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah merubah semua gaya kehidupan masyarakat. Dampak adanya pandemi dapat mengancam ketahanan pangan keluarga, terutama dalam memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. 

Di tengah ancaman virus corona yang masih sangat tinggi, masyarakat harus dapat memenuhi kebutuhan konsumsi pangan yang memadai juga harus dapat memiliki ketahanan tubuh yang baik agar dapat selalu sehat dan bugar secara fisik maupun mental.

Teknik Budikdamber dapat dilakukan oleh masyarakat dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak terlalu luas. Melalui teknik budidaya semacam ini mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga, hal ini disebabkan masyarakat tidak hanya melakukan budidaya ikan namun juga bercocok tanam secara akuaponik. 

Teknik Budikdamber menggunakan ikan yang memiliki karakteristik tahan dengan oksigen rendah seperti lele, nila, patin, sepat, betok, gabus dan gurame.

Ember sebagai media budidaya ikan lele

Dalam Budikdamber kali ini menggunakan ikan lele, karena Ikan lele termasuk ikan yang tahan terhadap kualitas air yang minim atau kualitas air yang kurang baik. Bahkan ikan lele dapat hidup pada kondisi oksigen yang sangat rendah.

Hal ini karena ikan lele mempunyai alat bantu pernafasan berupa arborescent yang dapat mengambil oksigen langsung dari udara.
Tahap yang dilakukan untuk budidaya ikan lele dan sayuran dalam ember sebagai berikut:

Alat dan bahan yang diperlukan:

1. Ember ukuran 40 liter atau ukuran lain yang mampu menampung ikan. 2. Benih ikan lele yang tahan terhadap kualitas air. 3. Benih kangkung atau benih sayuran dataran rendah (bayam, sawi, tomat, dll). 4. Gelas plastik ukuran 250 ml. 5. Keran. 6. Arang batok kelapa atau arang kayu. 7. Cutter. 8. Solder atau paku.

Cara pembuatan:

1. Sediakan gelas untuk tempat bibit kangkung sebanyak 6-8 buah, lubangi dengan solder pada bagian samping dan bawah gelas. 2. Untuk bibit kangkung bisa diperoleh dari kangkung cabut yang dipotong bagian batangnya dan digunakan bagian batang sampai akar atau menggunakan bibit hasil dari penyemaian.

Pembibitan tanaman sayuran seperti kangkung

Sementara bibit sayuran lain seperti bayam, sawi, dan tomat diperoleh dari hasil penyemaian. Bibit sayuran ditaruh pada arang yang disediakan di gelas plastik. 

Fungsi arang untuk menyerap nutrisi di area perairan dan berguna bagi tanaman. Jika ukuran benihnya kecil, bisa ditaruh dalam kapas, lalu tutup. Jika ingin menanam kangkung atau sayuran lain yang sudah disemai terlebih dahulu, sayuran dimasukkan bersama akar dengan ukuran bibit sebesar kurang lebih 10 cm.

3. Isikan arang batok kelapa sebanyak 50 – 80 persen ukuran gelas.
4. Lubangi ember yang sesuai ukuran gelas plastik sebanyak 6-8 lubang dengan menggunakan solder atau paku yang dipanaskan dan dirapihkan hasil penyolderan menggunakan cutter. Dilubangi juga bagian bawah ember untuk pemasangan keran yang berfungsi sebagai pembuangan kotoran ikan di dasar ember.

5. Isi ember dengan air sebanyak 35 liter diamkan selama dua hari.
6. Isi ember dengan bibit ikan lele ukuran 5 – 12 cm (semakin besar semakin baik) sebanyak 40 – 50 ekor. Banyaknya jumlah ikan menyesuaikan ukuran ember.
7. Setelah itu, rangkai gelas plastik yang sudah terdapat bibit sayuran dalam ember.

Di Desa Kepuh, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, masyarakatnya rata-rata masyarakat menengah ke bawah sehingga mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi di masa pandemi Covid-19. 

Sementara itu salah satu bentuk menjaga ketahanan tubuh dari covid-19 adalah dengan mengonsumsi makanan yang bergizi.

 

Inilah Budikdamber karya mahasiswa KKN Undip

Mahasiswa KKN Undip memberikan solusi kepada masyarakat Desa Kepuh dengan teknik Budikdamber untuk dapat digunakan sebagai solusi masalah tersebut. Penggunaan Budikdamber masih tergolong sedikit. 

Oleh karena itu, teknik budidaya semacam ini layak untuk dikembangkan pada masa pandemi seperti sekarang. Hasil yang didapatkan dari Budikdamber dapat digunakan sebagai peningkatan gizi pangan di masyarakat.

Strategi memperkuat ketahanan pangan dimasa pandemi Covid-19 tidak hanya tanggung jawab pemerintah, namun juga diperlukan peran serta masyarakat bersama-sama dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga. 

Salah satu cara dalam rangka memperkuat ketahanan pangan yaitu dengan menciptakan sendiri media yang menghasilkan pangan, salah satunya dengan teknik Budikdamber. Ketahanan pangan bergizi tercukupi, masyarakat menjadi sehat, imunitas tubuh kuat dan tidak mudah terserang penyakit seperti virus Covid-19. (**)

Referensi : Febri, Suri Purnama, F. Alham, A. Afriani. 2019. Pelatihan BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan Dalam Ember) di Desa Tanah Terban Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Proceeding Seminar Nasional Politeknik Negeri Lhokseumawe, Vol.3 (1).

Penulis : Taufiq Hidayat/Oseanografi/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan/Universitas Diponegoro (Mahasiswa KKN Tim 1 Undip Th. 2021).
Dosen Pembimbing KKN : Dr.rer.nat Thomas Triadi Putranto, ST, M.Eng

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *