| Kue Lompong, Jajanan Oleh-oleh Khas dari Purworejo |
|
| Ditulis oleh Administrator | |
| Sabtu, 09 Juni 2012 | |
PURWOREJO, Kendati Kabupaten Purworejo bukan daerah tujuan utama wisatawan, namun memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah. Banyak jajanan khas yang sudah berusia 1111, dapat dinikmati para wisatawan baik domestik maupun manca negara. Makanan khas Purworejo itu, di antaranya kue lompong, sejenis kue basah manis yang terbuat dari adonan tepung beras ketan, gula kelapa, gula pasir dengan isi bulir kacang tanah di dalamnya. Kue lompong menjadi menarik karena bentuknya seperti kue mata sapi tetapi berwarna hitam. Warna hitam pada kue ini berasal dari tanaman lompong atau lumbu atau talas yang dilumatkan dan dicampur ke dalam adonan kue. Yang khas dari kue lompong adalah kemasannya: dibalut dengan klaras pisang (daun pisang kering). Sentra pembuatan kue lompong ada di Kelurahan Pangenrejo dan Pangen Jurutengah dan sebagian Kledung Kradenan. Kendati di luar desa tersebut ada yang membuat, namun skalanya kecil. Pemasaran hingga luar kabupaten seperti Yogyakarta, Muntilan, Magelang. Makanan itu tidak menggunakan campuran bahan kimia seperti pewarna dan pengawet, sehingga masih aman dikonsumsi. Cara pengolahannya pun masih sederhana dan tradisional, belum tersentuh teknologi modern. Meiske Lystya Permatasari, (28), warga Jl Tentara Pelajar no. 24, produsen kue lompong, ketika ditemui mengungkapkan bahwa ia membuat kue lompong sejak puluhan tahun silam. Keahliannya diperoleh dari kakeknya semasa masih hidup. Kemudian dilanjutkan ibunya, Ruth Ekayanti, yang sampai sekarang juga masih memproduksi. Setelah ia berkeluarga dan menempati rumah sendiri, ia juga membuat dan memasarkan hasil usahanya. Tiap hari ia mampu menghabiskan tepung beras ketan sekitar 15 kg. Tiap satu kg beras ketan, membutuhan kacang tanah sekitar 7 ons. Ia dibantu 6 orang pekerja. Cara membuatnya, adonan tepung beras ketan diberi garam secukupnya, kemudian diaduk hingga kalis. Dibentuk bulat lalu diisi adonan pecahan kacang tanah yang dibumbui gula kelapa. Setelah itu dipipihkan. Warna hitam sebagai ciri kasnya, menggunakan tanaman lompong atau talas yang dibakar. Setelah itu dibungkus menggunakan daun pisang kering (klaras) yang telah dibesirhan dan sedikit dilumuri minyak kelapa. Bahan pembungkus ini ternyata belum bisa digantikan bahan lain, seperti plastik maupun daun bambu. Ia mengaku pernah mencoba beberapa alternatif bungkus, namun tidak bisa selalu lengket. Demikian juga klarasnya harus kering secara alami. Daun pisang kering dengan cara dijemur, teryata membuat kue mudah busuk. Bungkusan diikat tali dari oman (gagang padi). Bahan tersebut sampai saat ini tetap dipertahankan sebagai ciri kasnya. Baru dikukus selama 2 jam. Pihaknya juga mencampurkan bumbu rempah-rempah, namun ia rahasiakan, sebagai ciri kas kue buatannya. Produksinya telah didaftarkan di Dinas Kesehatan Kabupaten Purwoejo dan mendapatakan regster perusahaan industri rumah tangga (PIRT) Kue ini bisa bertahan hingga dua minggu bila tidak dimasukkan dalam lemari pendingin. Bila dimasukan di lemari pendingin bisa mencapai satu bulan. Bila mengeras ia menyarankan dikukus kembali. Ia membuat dua ukuran kue, besar dan kecil. Tiap satu kg beras ketan bisa dibuat sekitar 45 bungkus ukuran kecil, dan 55 ukuran besar. Pemasarannya dititipkan ke toko-toko penjual jajanan khas dan harga murah meriah. Yaitu 1000 rupiah untuk kue lompong bungkus ukuran kecil, dan 1.500 untuk ukuran besar, serta 2000 rupiah untuk penjualan di luar kota. Kue lompong buatannya diberi embel-embel nama Purworejo dibelakangnya, ternyata lumayan sukses menarik minat konsumen. Terbukti dengan jumlah jaringan pemasarannya yang kini mencapai 50 toko yang tersebar di wilayah Purworejo, Secang, Magelang dan Yogya. Biasanya penjualan kue Lompong akan meningkat menjelang masa liburan sekolah dan lebaran.* |