Menu Content/Inhalt
Halaman Utama arrow Pertanian arrow Purworejo Diharapkan Jadi Penyangga Beras Jateng Selatan

Tajuk Rencana

Ahmad Nas Imam

Benarkah Boediono Melakukan Metaforfosis?

  Tampilnya Prof Dr Boediono sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono membuktikan betapa kukuhnya pendirian SBY dalam memilih pasangan chemistrinya. Hujan kritik -- bahkan ancaman perpecahan mitra koalisi -- yang menyertai deklarasi SBY Berbudi, tak sedikit pun menggoyahkan pendirian SBY.

Baca selengkapnya... 

Google Search

Webpurworejonews.com

Iklan Ayam Pelung

 

 

 

 

Purworejo Diharapkan Jadi Penyangga Beras Jateng Selatan Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Ahmad Nas Imam   
Jumat, 03 September 2010
Presiden SBY saat memanen padi di PurworejoPURWOREJO, Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain, M.Ag mengungkapkan, Kabupaten Purworejo diharapkan menjadi penyangga beras Jawa Tengah bagian selatan. Harapan Pemprov Jawa Tengah itu tak lepas dari keberhasilan Purworejo yang telah mampu meningkakan prouksi beras sebesar 5,99 persen pada tahun 2009 lalu. Berkat keberhasilan itu Purworejo mendapat penghargaan dari Presiden RI, yang diserahkan di Donohudan beberapa waktu lalu.
Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain di sela-sela mengikuti kegiatan tarowih silaturahim (Tarhim), di Masjid Darussalam, Dukuh Kuwojo Desa Dadirejo Kecamatan Bagelen, Rabu (1/9) malam lebih lanjut mengatakan, upaya mempertahankan keberhasilan tersebut ternyata banyak tantangannya. Antara lain tanah pertanian semakin sempit, sementara jumlah penduduk semakin banyak. Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan alih teknologi.
 
Lebih jauh bupati mengatakan, sebagian ekosistem di Purworejo sudah rusak. Hutan yang mestinya sebagai cadangan sumber mata air, sekarang banyak yang rusak. Akibatnya saat musim kemarau banyak sumber mata air yang mati. Bila musim penghujan, terjadi banjir dan tanah longsor. Akibat hutan yang gunndul, aliran air membawa lumpur, yang menyebabkan sedimentasi di sungai cukup tinggi (sungai mengalami pendangkalan).
 
Tingginya sedimentasi, ujar bupati,. berakibat merusak sistem irigasi yang telah ada. Disamping itu, struktur tanah pertanian sudah rusak. Salah satu penyebabnya yaitu penggunaan pupuk kimia oleh petani berlebihan. Yang seharusnya untuk tiap hektar tanaman padi hanya 250 kg, oleh petani malah mencapai 350 kg. Berlebihnya penggunaan pupuk kima menimbulkan dampak negatif.
 
Diantaranya, struktur tanah menjadi rusak, tanah semakin keras dan dangkal.  “Penggunaan pupuk yang berlebihan tidak akan meningkatkan produksi secara signifikan,”tandasnya.Di sisi lain, karena yang digunakan adalah pupuk bersubsidi, berarti orang tersebut merampas hak orang lain. Sering terjadi kelangkaan pupuk di lapangan, kendati masalah ini juga disebabkan oleh ulah distributor yang nakal. Untuk mengembalikan kesuburan tanah, maka disarankan agar petani kembali menggunakan pupuk organik.*
 

Add comment


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Selanjutnya >