Menu Content/Inhalt
Halaman Utama arrow Tajuk Rencana arrow Mr President, Be Carefully, Please!

Tajuk Rencana

Ahmad Nas Imam

Benarkah Boediono Melakukan Metaforfosis?

  Tampilnya Prof Dr Boediono sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono membuktikan betapa kukuhnya pendirian SBY dalam memilih pasangan chemistrinya. Hujan kritik -- bahkan ancaman perpecahan mitra koalisi -- yang menyertai deklarasi SBY Berbudi, tak sedikit pun menggoyahkan pendirian SBY.

Baca selengkapnya... 

Google Search

Webpurworejonews.com

Iklan Ayam Pelung

 

 

 

 

Mr President, Be Carefully, Please! Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Ahmad Nas Imam   
Kamis, 14 Mei 2009

Presiden SBY kini tengah diuji kelihaiannya sebagai pilitikus, ketajaman intuisinya sebagai militer, dan  kebesaran jiwanya sebagai negarawan. Beliau dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit ketika harus menentukan satu dari 19 nama cawapres yang masuk ke kantungnya. Apakah SBY akan bersikap mandiri dalam menentukan calon pasangannya, atau sedikit bersikap pragmatis akomodatif. Padahal keputusan harus diambil sebelum 15 Mei 2009 untuk dideklarasikan di hadapan khalayak.

Sebagai capres yang diunggulkan dan diusung oleh partai pemenang pemilu, SBY ibarat telah mengantungi setengah dari kemenangannya. SBY sangat menyadari hal itu, dan itu tampak ketika setiap kali berbicara sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Di balik sikapnya yang santun dan lembut, SBY acap kali terlihat sangat percaya diri akan memenangkan Pemilu Presiden  bulan Juli mendatang.

Kelihaiannya sebagai politikus sudah ditunjukkan tatkala SBY sengaja tidak segera mengumumkan cawapres pilihannya. SBY justru memilih  tanggal 15 Mei sebagai waktu pendeklarasian capres-cawapresnya, atau sehari sebelum hari terakhir pendaftaran pasangan capres-cawapres ke KPU. Itu artinya SBY punya banyak waktu untuk mengkalkulasi tiap nama yang ada di kantungnya, menganalisa pergerakan parpol yang ternyata begitu dinamis, sekaligus “melempar balon” sebagai testcase terhadap nama tertentu.

Dinamika politik di luar tembok Cikeas ternyata memang bergerak dan berubah detik per detik. Dimulai dari “lempar balon” 5 syarat cawapres yang berujung “perceraian” dengan Jusuf Kalla, manuver Amien Rais yang kita persepsikan sebagai upaya mengerem oportunitas Sutrisno Bachir, lalu penggalangan koalisi besar untuk “mengeroyok” SBY yang ternyata berakhir menjadi “masa lalu”. 

SBY dan Partai Demokrat rupanya belum nyaman bila hanya didukung oleh PKS, PKB, PAN dan PPP. Itu bisa dimengerti karena keempat partai pendukung koalisi itu merepresentasikan partai Islam, sehingga dapat menjadi sasaran tembak yang empuk dalam Pilpres mendatang. SBY dan Demokrat pasti tak ingin dituding terlalu “kanan”, dan tetap menegaskan sebagai partai “tengah”.

Bubarnya koalisi besar langsung dimanfaatkan oleh SBY dengan mengutus Hatta Radjasa ke Teuku Umar untuk mengkonfirmasi status rumah yang ditempati Megawati Soekarnoputri. Di luar pembicaraan soal rumah, pertemuan Hatta Radjasa, Taufik Kiemas dan Pramono Anung ternyata juga merembet ke kemungkinan koalisi. Langkah cepat dan brilian itu membuahkan hasil: terbukanya komunikasi politik Demokrat-PDIP.

Terakhir, SBY melalui utusannya, melempar balon lagi dengan menyebut nama Budiono sebagai cawapres pilihannya. Reaksi yang diharapkan pun muncul: pimpinan empat partai pendukung SBY menyatakan ketidaksetujuannya. Bahkan muncul tudingan nama Budiono merupakan hasil komunikasi politik SBY-PDIP.

Kini, ketajaman intuisi SBY sebagai militer dan  kebesaran jiwanya sebagai negarawan harus bisa dibuktikan dalam menentukan pilihan cawapresnya. SBY harus ekstra hati-hati, karena jika meleset justru bisa menjadikannya blunder. SBY harus memahami kegelisahan PKS, PAN, PKB dan PPP. Keempat partai pendukung koalisi itu kurang sreg dengan Budiono karena yang bersangkutan “bukan siapa-siapa” dalam “pasar” politik. Budiono tidak merepresentasikan “keringat” Pileg.

Alhasil, Mr President,  be carefully please!


Tulisan-tulisan Ahmad Nas Imam yang lain.

 

Add comment


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Selanjutnya >