| Politik Memang Penuh Pamrih |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | |
| Senin, 04 Mei 2009 | |
|
Tidak ada yang gratis dalam politik. Hampir semua transaksi politik berlangsung dalam logika dagang: ada uang ada barang. Bahkan, masih dalam logika dagang, barang yang sudah dikirim kepada pembeli pun harus ditarik kembali tatkala si pembeli ingkar membayar. Demikianlah potret telanjang yang kita tangkap selama berlangsungnya pemilihan umum legislatif yang hingga kini belum ditetapkan hasilnya. Jauh sebelum hiruk pikuk penghitungan suara berlangsung, para politisi menyebarkan angin moralitas yang sungguh meyakinkan: bahwa mereka terjun ke pentas politik karena panggilan hati nurani; karena ingin mengubah keadaan bangsa yang - katanya - karut marut; ingin memperjuangkan aspirasi rakyat; ingin memperjuangkan penurunan harga sembako; ingin menegakkan hukum; ingin memperjuangkan kesejahteraan kaum tani dan buruh; ingin mewujudkan kemandirian ekonomi; ingin mengembalikan aset nasional yang telah digadaikan untuk kepentingan asing; ingin menghapus utang luar negeri. Dan daftar keinginan lainnya yang menggambarkan sangat konsennya para politisi. Mendengar dan membaca janji serta komitmen para politisi yang disampaikan selama masa kampanye itu sungguh membersitkan harapan dan optimisme. Masa depan Indonesia ternyata masih ada dan menjanjikan kemakmuran. Masa depan Indonesia tidaklah sesuram yang digambarkan para pengamat ekonomi, tidaklah sengeri yang diramalkan paranormal, tidaklah separah yang diprediksikan pencinta lingkungan, tidaklah sebobrok yang dicemaskan para pemuka agama. Tetapi sungguh pilu hati kitak ketika tiap hari berbagai media massa membeberkan fakta-fakta yang sebaliknya: ada caleg menarik tabungan yang sudah dibagikan kepada warga gara-gara sang caleg gagal meraih kursi; ada caleg membongkar paving block gara-gara jumlah suara yang diperoleh tidak sesuai dengan yang "dijanjikan"; ada caleg yang mengambil kambing yang telah diberikan warga karena warga dinilai ingkar janji; ada caleg yang divonis karena tertangkap melakukan politik uang; ada caleg yang bunuh diri karena gagal menjadi anggota dewan; dan banyak caleg yang berupaya membatalkan hasil pemilu karena perolehan suaranya sedikit.
Ternyata idiom "politik itu kotor dan jahat" bukanlah isapan jempol. Para politisi kita telah dengan sempurna memamerkan adegan-adegan keculasan, intrik, hipokrit, kebohongan, tak punya malu. Sebaliknya, rakyat juga telah berhasi membebaskan diri dari hegemoni caleg. Jika dulu rakyat selalu dibohongi politisi, kini justru banyak politisi dibohongi rakyat: uang diterima, suara nanti dulu. Kita juga gagal memperoleh kepastian masa depan Indonesia yang cerah ketika partai-partai politik menggalang koalisi untuk pilpres. Koalisi yang sarat dengan politik dagang sapi: siapa medapatkan apa. Lalu, masihkah kita boleh bermimpi tentang masa depan Indonesia yang cerah, bermartabat, maju dan sejahtera? Masih adakah kepercayaan kita kepada para politisi untuk mengurusi rakyat dan negeri ini? Wallahu alam bisawab.* |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
