Menu Content/Inhalt
Halaman Utama arrow Artikel arrow Potensi Kedelai vs Mitos Pantang Menanam Kedelai

Tajuk Rencana

Ahmad Nas Imam

Benarkah Boediono Melakukan Metaforfosis?

  Tampilnya Prof Dr Boediono sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono membuktikan betapa kukuhnya pendirian SBY dalam memilih pasangan chemistrinya. Hujan kritik -- bahkan ancaman perpecahan mitra koalisi -- yang menyertai deklarasi SBY Berbudi, tak sedikit pun menggoyahkan pendirian SBY.

Baca selengkapnya... 

Google Search

Webpurworejonews.com

Iklan Ayam Pelung

 

 

 

 

Potensi Kedelai vs Mitos Pantang Menanam Kedelai Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 17 November 2008
HARAPAN agar Purworejo bisa menjadi penyangga kedelai Jawa Tengah, tampaknya bukan sesuatu yang mustahil. Meskipun untuk mewujudkannya, perlu kerja keras dan kemauan yang tinggi dari semua pihak, utamanya petani.
Saat ini saja, produksi kedelai Kabupaten Purworejo baru bisa mencukupi 45% dari total kebutuhan. Dari total kebutuhan konsumsi masyarakat sekitar 7.895 ton per tahun, baru bisa dicukupi melalui produksi dalam daerah sekitas 3.600 ton per tahun. Sisanya masih mendatangkan dari luar daerah, baik kedelai lokal maupun impor.
    Gambaran tersebut disampaikan Ir Eko Anang SW, Kasi  Produksi Tanaman Pangan pada Dinas Pertaniaan dan Peternakan Kabupaten Purworejo, ketika ditemui di ruang kerjanya. Dikemukakan bahwa produksi kedelai Kabupaten Purworejo, sekitar 80% dihasilkan pada musim kemarau. Produksi musim penghujan relatif sedikit, mengingat daerah penghasil kedelai selama ini  pada daerah persawahan, yang kurang cocok ditanami kedelai pada musim penghujan. Sedangkan pada lahan pasir yang memungkinkan ditanami kedelai musin penghujan, petani setempat memilih menanam jagung.
    Luas lahan kedelai tahun 2008 sekitar 2.679 ha. Dari luas tersebut tersebar di beberapa wilayah kecamatan, diantaranya Kecamatan Pituruh 1.960 ha, yang merupakan wilayah terluas areal penanam kedelai. Disusul Kecamatan Kemiri 450 ha, sisanya Kecamatan Butuh, Grabag, Banyuurip.
    Pengembangan budidaya kedelai, menurutnya, diawali di Kecamatan Pituruh sekitar tahun 1990-an. Pada tahun pertama, hasilnya kurang menggembirakan. Kemudian pada tahun kedua, mulai ada peningkatan. Baru tahun ketiga, produksi bisa mencapai 75%. Budidaya tersebut terus dikembangkan oleh masyarakat setempat, hingga kini luasnya hampir mencapai 2.000 ha. Setelah itu, mulai dikembangkan di Kecamatan Kemiri dan Butuh.
    Pihaknya juga pernah melakukan demplot di Kecamatan Ngombol, namun akibat kurang tepatnya masa tanam dan luas lahan yang masih sempit, sehingga hasilnya kurang memuaskan. Ia menyatakan sebetulnya seluruh wilayah Purworejo, berpotensi untuk pengembangan kedelai. Namun belum semua petani di beberapa wilayah tertarik.
    Kurang tertariknya petani di beberapa wilayah, antara lain disebabkan adanya berbagai alasan. Antara lain, bercocok tanam kedelai sering tidak berhasil. Ada juga di suatu daerah yang mempercayai bahwa di daerahnya tidak boleh untuk menanam kedelai.
    Eko Anang sendiri menepis adanya dua alasan tersebut. Menurutnya, menanam kedelai baru bisa berhasil pada tahun ketiga. Ia menjelaskan bahwa tanaman kedelai membutuhkan enzim Rezibium. Uniknya, enzim tersebut bisa diproduksi sendiri oleh tanaman kedelai. Sehingga pada penaman pertama, harus diberi enzim tersebut berupa Legin, atau dengan memberikan tanah yang pernah untuk ditanami kedelai.
    “Pada tahun pertama, hasilnya belum memuaskan. Kemudian produksi akan bertambah pada tahun kedua, kendati tidak diberikan tambahan enzim. Hasil akan mencapai 75%, pada tahun ketiga dan seterusnya. Sehingga bagi petani kedelai butuh pengorbanan dan kesabaran.
    Tentang adanya mitos bahwa di Kecamatan Bagelen pantang menanam kedelai, hal itu sangat sulit untuk mengubahnya. Padahal secara teknis, wilayah Kecamatan Bagelen sangat potensial untuk pengembangan kedelai. “Saya sendiri pernah melakukan demplot di Desa Krendetan, ternyata hasilnya juga bagus. Kendalanya, cuma luasnya sangat terbatas, sehingga tingkat serangan hama cukup tinggi,” katanya.
    Peryataan ini juga dikuatkan oleh pengakuan Amat (70) warga Krendetan. Ia mengaku pernah menanam kedelai di desanya, ternyata hasilnya juga bagus.
    Disisi lain, ia memuji para petani di Kecamatan Pituruh, dalam hal ketepatan waktu bertanam. Di daerah itu, begitu selesai memanen padi musim tanam kedua (gadu), para petani juga sekaligus telah selesai bertanam kedelai. Caranya, para buruh panen padi (derep) sebagian memotong tanaman padi, sebagian dibelakangnya membuat lubang untuk benih kedelai (ponjo). Pada saat sebagian merontokkan padi, sebagian menutup lubang yang telah diberi benih. Begitu selesai, jerami disebarkan. Selang dua hari, setelah jerami kering, lantas di bakar. Untuk upah buruh, cukup dengan berbagi hasil tanaman padinya.
    Cara demikian ternyata banyak keuntungannya. Yaitu, tanahnya masih lembab, sehingga memudahkan benih tumbuh. Jerami dibakar, akan mematikan rumput sisa tanaman padi, Disamping itu, abu jerami akan menjaga kelembaban tanah, dengan menyerap air embun.  Saat rumput belum tumbuh, tanaman kedelai sudah tumbuh tinggi, sehingga menekan tumbuhnya rumput.
    Untuk kebiasaan petani Kecamatan Pituruh, ternyata berbeda dengan petani kawasan Purworejo selatan. Di wilayah selatan, kebiasaan petani menjual padinya di sawah. Sehingga kapan, padi akan dipanen, yang punya lahan tidak tahu. Hal ini mengakibatkan kekurang tepatan waktu bertanam. Kurang tepatnya masa tanam berujung pada tingkat produksi yang kurang maksimal, Untuk itu, di daerah selatan akan dikembangkan budidaya tanaman jagung. Karena tanaman tersebut dirasa lebih cocok dengan kondisi wilayahnya.
    Keuntungan menanam kedelai, antara lain tidak membutuhkan pengairan. Bila para petani mau menyiram, hasilnya akan lebih baik. Tapi kalaupun tidak disiram, hasilnya tetap bisa optimal. Tingkat serangan hama dan penyakit relatif kecil, bahkan hampir tidak ada. Pupuknya hanya pupuk cair,  dengan cara disemprotkan.
    Hambatan yang sering menghantui petani kedelai, yaitu anjloknya harga pada saat musim panen. Saat ini harga benih kedelai Rp 9.500/kg, petani dapat untung bila harga jual minimal Rp.4.500/kg.
    Untuk meningkat produksi kedelai, pemerintah juga telah melakukan ektensifikasi, melalui dana tugas pembantuan yang bersumber APBN. Besarnya Rp 135 juta, untuk penanaman kedelai di Desa Wironatan Kecamatan Butuh, seluas 30 ha. Dana tersebut, antara lain untuk saprodi, pembelian benih, pestisida, hand sprayer, upah tenaga hingga panen  dan sebagainya.*
 

Comments  

 
0 #1 masduki 2010-07-29 08:06, 08:06
saat ini saya sedang butuh kedelai secara rutin untuk bahan baku makanan di jambi. Bila berminat mensuplaynya hub 081373212009
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

< Sebelumnya   Selanjutnya >