| Musim Tanam Dibayang-byangi Kelangkaan Pupuk |
|
|
|
| Ditulis oleh Ahmad Nas Imam | |
| Selasa, 27 November 2007 | |
|
PURWOREJO, Musim tanam rendeng (Oktober - April) baru tiba, petani dihadapkan pada masalah kelangkaan pupuk khususnya Sp-36. Kekhawatiran akan terjadinya kelangkaan pupuk mnencuat ketika komisi pengawasan distribusi pupuk dan pestisida bersubsidi melakukan pembinaan kepada kepala desa dan pengecer resmi. ”Saya khawatir berdasarkan pengalaman tahun lalu, kelangkaan pupuk muncul lagi, khususnya pupuk SP 36 akan terjadi kekurangan. Saya minta kepada pemerintah agar alokasi pupuk bersubsidi khusunya Sp 36 ditambah,” kata Paulus Purnomo, Kades Banyuurip Kecamatan Banyuurip.
Kekhawatiran senada juga disampaikan Sabariyanto, Kades Wingko Saggrahan Kecamatan Ngombol. Dirinya bahkan menuding terjadinya kelangkaan pupuk bersubsidi akibat permainan di tingkat distributor dan pengecer. Tudingan itu didasarkan atas hasil klarifikasinya ke produsen. ”Saya pernah datang sendiri ke produsen Petro, ternyata dari salah satu petugasnya menyatakan bahwa pihaknya telah mendistribusikan pupuk sesuai dengan alokasi yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini mengindikasikan ada permainan di tingkat distributor dan pengecer. Saya berharap agar musim tanam yang akan datang tidak lagi terjadi kelangkaan pupuk,” katanya. Kekhawatiran kelangkaan pupuk tidak saja dirasakan petani wilayah selatan saja, tetapi juga petani wilayah barat. Masrun, Kepala Desa Wirun Kecamatan Kutoarjo, mengungkapkan hal yang sama. Terkait kekhawatiran terjadinya kasus serupa pada MT tahun ini, ia minta solusi dari pemerintah. Apakah alokasi pupuk SP 36 ditambah atau penggunaan jenis lainnya. Menanggapi kekhawatitan tersebut, Ir Edi Supriyanto, yang ikut dalam tim, menjelaskan bahwa kelangkaan pupuk bisa terjadi karena beberapa hal. Atara lain, alokasi pupuk yang ditetapkan oleh guberbur tidak sebesar yang diusulkan. Kemudian dosis pupuk yang digunakan petani, melebih dari dosis yang dianjurkan pemerintah. Khusus jenis pupuk produk dari PT Petrokimia seperti Sp 36, alokasi sangat kecil. ”Untuk mengantisipasi bila terjadi kasus serupa, ia minta kepada petani agar menggunakan pupuk yang berimbang. Apabila terjadi kelangkaan pupuk Sp 36, petani dapat mengunakan pupuk urea dengan NPK Ponska. Bila jenis tersebut yang digunakan, maka dosis ureanya dikurangi bila dibanding dengan Sp 36. Alternatif ketiga, dianjurkan petani memanfaatkan pupuk organik, sebab bila petani tidak menggunakan pupuk organik, pada suatu saat tanah akan keras, seperti yang kita injak, karena tidak ada kandungan organiknya,” kataya sambil menujuk lantai keramik. Saat ini sebagian masyarakat cenderung mengkonsumsi produk pertanian yang mengandung kadar kimia kecil. Menurut informasi yang diterima, katanya rasanya lebih enak, disamping itu harganyapun lebih mahal. Maka tak heran bila sekarang muncul, bebagai produk pertanian organik, seperti padi organik dan lain-lain. Ditambahkan, bahwa pemkab telah mengusulkan kebutuhan pupuk berdasarkan kebutuhan tiap kecamatan, namun kenyataannya alokasi yang ditetapkan gubernur jauh dari usulan. Besarnya alokasi tersebut, disesuaikan besarnya subsidi yang akan ditanggung pemerintah. Stok terakhir berdasarkan laporan para distributor sampai bulan September yaitu Urea diusulkan 24.524,2 ton, alokasi yang ditetapkan 22.500 ton, telah didistribusikan 15.750, stok 6.750 ton. Za diusulkan 6.562,8 ton, dialokasikan 2.250 ton, terdistribusi 1.703 ton, stok 5446,75 ton. Sp 36 diusulkan 5.067,5 ton, alokasi 3.075 ton, terdistribusi 2.100 ton, stok 974 ton. NPK Ponska diusulkan 19.641,6 ton, dialokasikan 4.950 ton, terdistribusi 2.214, stok 2.738 ton.* |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
