| Kerusakan Lingkungan Sudah Mengkawatirkan |
|
|
|
| Ditulis oleh Ahmad Nas Imam | |
| Rabu, 07 November 2007 | |
|
PURWOREJO, Kerusakan lingkungan yang disebabkan ulah manusia, sudah pada tingkat yang mengkawatirkan. Di saat kemarau sulit ditemui mata air, sehingga kekeringan melanda di berbagai daerah. Sebaliknya, di saat musim hujan, terjadi bencana tanah longsor dan banjir. ”Kerusakan lingkungan saat ini sudah pada taraf kritis, tanah sudah tidak bisa menampung air lagi. Ini dapat kita lihat, di daerah pegunungan, bila kemarau sulit ditemui mata air. Sebaliknya bila musim hujan, air yang keluar warnanya keruh. Padahal dahulu baik kemarau maupun penghujan, di daerah pegunungan mudah ditemui sumber mata air yang mengeluarkan air cukup jernih” kata Bupati Purworejo, Kelik Sumrahadi.
Pernyataan itu disampaikannya di depan peserta pelatihan petani kader rehabilitasi hutan dan lahan (RHL), Selasa (6/11), di aula hotel Ganesa. Pelatihan selama tiga hari, diikuti 60 orang kader, berasal dari Kecamatan Kemiri 12 orang, Bruno 12 orang, Pituruh 10 orang, Bagelen 7 orang, Gebang 7 orang, Bener 5 orang dan Loano 7 orang. Dikemukakan bahwa manusia sebagai hamba Allah, dalam kebidupannya harus bisa menjaga kesimbangan. Baik sesama mahluk hidup, alam maupun dengan sang pencipta. Bila tidak demikian, yang terjadi seperti saat ini. Banyak hutan yang rusak, akibat tanamannya ditebangi. Banyak hewan yang mati karena dibunuh. Akhirnya timbul berbagai bencana alam. Di daerah pegunungan terjadi tanah longsor, Sementara daerah rendah terjadi banjir. Muncul berbagai hama tanaman, sepeti wereng, tikus dan lain-lain. Ini semua, menurutnya, tidak lepas dari sifat rasa kurang puas manusia. ”Kalau boleh saya bilang, saat ini bukan krisis ekonomi, namun saya nilai sudah krisis moral. Orangnya selalu kurang puas, yang miskin ingin cepat kaya, yang kaya semakin kaya dan seterusnya. Sebab kalau dilihat sebagai krisis ekonomi, banyak orang yang mampu, orang ibadah haji pun tiap tahunnya selalu betambah” katanya dengan nada gurau. Tanda-tanda kerusakan lingkungan lain, yaitu bila ada orang mengairi sawah dengan cara memompa sumur bahwa tanah yang mereka buat di tengah areal persawahan, maka sumur di sekitar daerah tersebut airnya akan menyusut. Terkait dengan skala pritoritas di bidang pertanian, ia minta agar kedepan tidak ada tanah tadah hujan yang tidak termanfaatkan. Gunakan pengairan secara teknis, dari air sungai, jangan dari sumur bawah tanah. Sebagai warisan anak cucu besok, ia memerintahkan kepada para kepala desa untuk menyisishkan dana alokasi umum desa (DAUD) sebesar satu juta rupiah, untuk membeli bibit tananam. Bibit tersebut segara ditanam dan direncankan tidak akan ditebang selamanya. Mengenai jenis bibitnya dibebaskan, yang penting tanamana tahunan. Disampaing untuk menjaga lingkungan, untuk mempertahankan jenis tanaman kepada anak cucu dimasa mendatang. Sementara itu Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo Erwin Ach Mondir mengungkapkan, gerakan rehabilitasi hutan dan lahan dimulai sejak tahun 2003 lalu. Hal itu ditujukan untuk mewujudkan perbaikan lingkunan dalam rangka upaya penanggulangan bencana alam banjir, tanah longsor dan kekeringan. Dengan demikian, sumberdaya hutan dan lahan berfungsi secara optimal untuk menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air.* |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
