| 200 KK di Grabag Dapat Bantuan Kompor Jelantah |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator | |
| Kamis, 31 Mei 2012 | |
PURWOREJO, Ditengah-tengah kesulitan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kini masyarakat bisa berharap melalui kompor berbahan minyak jelantah (minyak goreng bekas). Kompor jelantah yang pertama di Purworejo telah diberikan kepada 200 kepala keluarga di Desa Patutrejo Kecamatan Grabag. Kompor berikut minyak jelantahnya merupakan bantuan dari Kementerian ESDM yang secara langsung diserahkan oleh Djajang Sukarman, Sesditjen Energi Terbarukan Kosentrasi Energi (ETKE) Kementerian ESDM, di Balai Desa Patutrejo, Sabtu (26/5). Hadir dalam kegiatan tersebut, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Purworejo Ir Dri Sumarno dan masyarakat penerima bantuan.Sesditjen ETKE Kementerian ESDM, Djajang Sukarman menjelaskan, pihaknya menerima laporan katanya ada kendala dalam pemasaran kompor berbahan bakar jelantah. Untuk itu, pihaknya ingin tahu secara langsung, karena Patutrejo dijadikan uji coba untuk pengolahan nyamplung. ”Yang paling penting harus ada komunikasi dengan kami untuk mencari solusi, laporannya jangan dibuat-buat, apa adanya. Kita kan ingin mencari gambaran yang benar. Ini juga perlu kerja sama agar perekonomian masyarakat bisa jalan” kata Dajajang. Menurutnya, kompor bahan bakar dari minyak jelantah ini baru digunakan di Ujung Kulon dan Purworejo. Kedua daerah ini merupakan wilayah uji joba karena sebagai daerah penghasil nyamplung yang cukup potensial, dimana nyamplung juga menjadi sumber bioenergi yang hemat dan ramah lingkungan. Menurut Barino, koordinator pengelola pengolahan Nyamplung Desa Patutrejo, kompor jelantah memang belum bisa dibeli dengan mudah oleh masyarakat. Sedangkan minyak jelantah dipasok dari Bandung yang jumlahnya mencapai 6000 liter dan dibagikan kepada 200 KK Desa Patutrejo. Setiap KK menerima 30 liter. Sedangkan untuk penggunaan 1 liter minyak jelantah bisa mencapai 7 jam non stop. ”Sebenarnya untuk mengolah minyak goreng bekas lebih murah, karena tidak ada kandungan lain dibandingkan dengan mengolah nyamplung, prosesnya lebih sederhana dan cepat,” katanya. Febrian dari PT Tiara Sakti Persada secara langsung mendemokan hasil olahan makanan dari kompor jelantah dan nyamplung. Untuk hasil olahan kompor jelantah memang minyaknya ada bau khas minyak goreng. Tapi kalau untuk menggoreng, bau itu tidak mengkontaminasi hasil masakan, sama dengan kompor minyak nyamplung. Apinya juga biru, bahkan tidak menimbulkan asap, jadi tidak menghasilkan polusi. Untuk kompor jelantah desainnya sebenarnya sama dengan kompor minyak, namun ada pengatur /jarum kontrol minyak. Sumbu juga sama, namun isinya hanya 14 sumbu. Tiap-tiap kompor berisi kurang lebih berisi 2 liter jelantah. Untuk kekuatan kompor ini cukup kekar karena dalam uji coba bisa menahan 50 kg. Cara perawatan juga mudah, tidak seperti kompor minyak tanah. Menurutnya, dengan memekai kompor jelantah, sama dengan melakukan investasi jangka panjang, karena sangat murah, bahkan gratis (bahan bakar jelantah). Disamping itu, memakai kompor jelantah membantu pemerintah mengatasi pencemaran lingkungan. Kompor juga tidak dapat meledak, karena sifatnya dari minyak nabati yang tidak mudah terbakar.* |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|

PURWOREJO, Ditengah-tengah kesulitan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), kini masyarakat bisa berharap melalui kompor berbahan minyak jelantah (minyak goreng bekas). Kompor jelantah yang pertama di Purworejo telah diberikan kepada 200 kepala keluarga di Desa Patutrejo Kecamatan Grabag. Kompor berikut minyak jelantahnya merupakan bantuan dari Kementerian ESDM yang secara langsung diserahkan oleh Djajang Sukarman, Sesditjen Energi Terbarukan Kosentrasi Energi (ETKE) Kementerian ESDM, di Balai Desa Patutrejo, Sabtu (26/5). Hadir dalam kegiatan tersebut, Kadinas Pertanian dan Kehutanan Purworejo Ir Dri Sumarno dan masyarakat penerima bantuan.