social media button generator

 

 
Oleh:  Atas S Danusubroto 
         
PERATURAN DAERAH (Perda) Hari Jadi Kabupaten Purworejo No 9 Tahun 1994 dengan dasar primer Prasasti Kayu Arahiwang yakni tanggal 5 Oktober 901 M. Sesuai dengan Perda tersebut, kini usia Kabupaten Purworejo sudah 1.116 tahun dan sejak ditetapkannya Perda itu, kita sudah memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo sebanyak 23 kali. Untuk menerbitkan Perda No 9 Tahun 1994  Panitia Perumus Hari Jadi Kabupaten Purworejo sudah bekerja selama dua tahun .
 
Sebelumya ditetapkan, sudah diseminarkan tanggal 28 September 1993 dan ditetapkan pada 24 Juni 1994. Tim Pembantu Panitia Perumus Hari Jadi Kabupaten Purworejo dari Fakutas Sastra Universitas Gajahmada  telah menyodorkan lima pilihan, yaitu: Tanggal berdasarkan bukti primer Prasasti Kayu Arahiwang, Kadipaten Brengkelan berubah jadi Kabupaten Purworejo, Perang Kedung Kebo, Kyai Imam Puro dan Penggabungan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Kutoarjo. Dari lima alternatif, dalam Sidang Pleno DPRD Purworejo tahun 1994, Tanggal berdasarkan bukti primer Prasasti Kayu Arahiwang ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo yakni tanggal 5 Oktober 901.     
 
Dalam Prasasti Kayu Arahiwang sebagai bukti primer untuk penetapan Hari Jadi Kabupaten Purworejo, diyakini bahwa di Desa Boro Tengah yang dulu diduga sebagai wilayah Kayu Arahiwang, oleh penguasa Sang Ratu Bajra melalui bawahannya (bisa saja anaknya) yakni Rakai Manua Poh Dyah Sala telah diadakan pematokan tanah untuk dinyatakan sebagai Tanah Sima (Tanah bebas pasek-pasek atau bebas pajak).
 
Pematokan Tanah dilaksanakan pada tanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Pahing Wurukung, bulan Asuji tahun 823 Saka.  Panitia Perumus Hari Jadi Kabupaten Purworejo kemudian menyimpulkan  kalau tanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Pahing Wurukung, bulan Asuji 823 Saka jatuh pada 5 Oktober 901 Masehi.
 
Perda merupakan keputusan politik dan sudah jadi kesepakatan bersama. Tetapi layak pula Perda dikoreksi karena ada hal-hal yang terasa masih kurang tepat. Setidaknya dalam menetapkan tanggal 5 Paro Gelap, bulan Asuji, tahun 823 Saka dengan mudahnya Panitia mengkonversikannya menjadi tanggal 5 Oktober 901.
 
Pertama, bila prasasti itu ditulis tahun 901, sesuai dengan tulisan Prof Dr Sumijati Atmosudiro dari Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah, Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM, dalam buku Sebuah Potret Warisan Budaya, maka peristiwa itu terjadi tatkala Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung. Karena raja tersebut memerintah tahun 898-909 Masehi. Dalam uraian Panitia Perumus dalam hal ini Radix Penadi, bahwa saat ditetapkannya Prasasti Kayu Arahiwang Mataram Kuno atau Medang I Bumi Mataram diperintah oleh Sri Maharaja Sri Daksotama Bahubajra. Sedang Sri Daksotama memerintah di Mataram Kuno tahun 910-913 ( hanya tiga tahun).
 
Lepas dari pemikiran siapa yang memerintah pada saat itu, kita kembali pada pengertian wilayah (atau mungkin desa) Kayu Arahiwang yang ditetapkan sebagai Tanah Sima pada Tanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Pahing Wurukung, bulan Asuji, tahun 823 Saka.
 
Dengan menyebutkan tanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Pahing Wurukung, berarti penetapannya menggunakan Kalender Saka Sanjaya. Apalagi dikuatkan dengan nama hari Senin Pahing Wurukung. Wurukung adalah nama hari yang terdapat pada kalender Saka Sanjaya.
 
Di Nusantara, utamanya  kerajaan-kerajaan di Jawadwipa, pada masa itu menggunakan dua buah kalender. Yakni kalender Saka dan Saka Sanjaya yang mulai beredar sejak tahun 732 Masehi. Kalender tersebut menggunakan hitungan rembulan (qomariah) seperti kalender Saka. Tetapi satu bulan dibagi menjadi dua, yakni Paro Terang dan Paro Gelap (kresna paksa).
 
Yang disebut Paro Terang, dari tanggal 1 hingga 15 (bulan purnama) dan Paro Gelap tanggal 1 hingga 15 (purbani, gelap). Dengan disebutkan bahwa peristiwa yang tercatat dalam Prasasti Kayu Arahiwang tanggal 5 Paro Gelap, berarti peristiwa itu terjadi 5 hari sesudah bulan purnama. Terjadinya pada hari Senin Pahing Wurukung. Wurukung memang nama hari dalam Kalender Saka Sanjaya.
 
Perlu dijelaskan, kalender Saka Sanjaya merupakan satu-satunya kalender yang pernah digunakan oleh masyarakat di Nusantara yang menggunakan hitungan hari sebanyak enam atau dengan siklus enam. Adapun nama-nama hari dalam kalender Saka Sanjaya yaitu Tunglai, Hariyang, Wurukung, Paniruan, Was dan Mawulu. Hitungan dengan siklus enam itu disebut dengan hitungan Sadwara atau hitungan Paringkelan.
 
Di Nusantara memang mengenal tiga kalender yang menggunakan siklus hari berbeda. Yakni kalender dengan siklus lima atau disebut kalender Pancawara : pahing, pon, wagai (wage), kaliwunan (kliwon) dan umanis (manis).
 
Kalender dengan siklus tujuh disebut hitungan Saptawara. Kalender dengan siklus tujuh dengan nama hari : Aditya (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buddha (Rabu), Wraspati (Kamis), Cukra ( Jumat), Canaiccara ( Sabtu ).
 
Sayang, kalender dengan siklus enam tersebut, sejak zaman Kerajaan Majapahit sudah sangat jarang digunakan sampai akhirnya hilang dari peredaran. Dalam buku Nagara Kertagama pada masa Maharaja Hayam Wuruk, sudah tidak menggunakan kalender Sadwara, melainkan kalender Saka.
 
Bila Prasasti Kayu Arahiwang ditetapkan pada tanggal 5 Paro Gelap, berarti lima hari sesudah bulan purnama. Prasasti tersebut ditulis pada bulan Asuji, 823 Saka. Bulan Asuji atau bulan Kartika dalam ilmu falak Nusantara memang dianggap sebagai bulan penuh berkah. Sehingga prasasti dan upacara kenegaraan di kerajaaan Jawadwipa, banyak dilaksanakan pada bulan Asuji.
 
Dalam ilmu falak Nusantara disebutkan, bahwa dalam satu tahun (360 hari) dalam siklus hari kalender qomariyah (hitungan rembulan), panjangnya waktu siang dan waktu malam (selama 24 jam) di bumi Nusantara tidak pernah sama.
 
Pengertian ilmu falak Nusantara kini sudah banyak dilupakan. Kita sekarang tidak pernah sadar bahwa sebenarnya panjangnya waktu siang dan waktu malam hari di negeri kita tidak pernah sama. Walaupun kita sering merasakan, saat mendengar suara azan maghrib, matahari masih kelihatan jelas. Itu menunjukkan kalau waktu siang lebih panjang dibanding malam. Tetapi sering pula kita merasakan, saat azan maghrib, hari sudah sangat gelap. Itu menunjukkan waktu malam lebih panjang dibanding siang.
 
Tetapi kita sudah lalai bahwa ilmu falak Nusantara sudah menyebutkan selama 360 hari (setahun), panjangnya waktu siang dan waktu malam hari dapat sama persis,  hanya satu kali dan itu terjadi pada bulan Asuji (Kartika). Itu sebabnya, prasasti purba dan upacara-upacara kerajaan di masa purba banyak dilaksanakan pada bulan Asuji.
 
Dalam ilmu falak Nusantara disebutkan, dalam setahun di negeri kita ini dibagi menjadi dua musim. Yakni musim kemarau dan penghujan. Namun, dalam musim tersebut ada yang disebut marengan (peralihan). Di negeri mana pun, kecuali di Nusantara, tidak ada musim yang kemudian dibagi menjadi mangsa. Hanya ilmu falak Nusantara yang membagi tahun menjadi dua musim dan tahun dibagi menjadi 12 mangsa. Yakni dari mangsa Kaso hingga mangsa Sodha. (Mengenai ilmu falak Nusantara yang sudah banyak dilupakan dapat dibahas dalam kesempatan lain)
 
Kembali pada masalah Prasasti Kayu Arahiwang yang ditulis pada bulan Asuji.  Bulan tersebut jika dikonversikan dengan kalender Masehi yang menggunakan hitungan Samsiah (matahari) diperkirakan antara tanggal 21 September -21 Oktober. 
 
Dalam prasasti Kayu Arahiwang disebutkan tanggal 5 Paro Gelap, hari Senin Pahing Wurukung, Bulan Asuji 823 Tahun Saka. Jelas prasasti Kayu Arahiwang masih menggunakan kalender Saka Sanjaya. Tanggal 5 Paro Gelap, berarti lima hari sesudah bulan purnama atau tanggal 20 Tahun Saka. Jika tanggal 1 bulan Asuji jatuh pada tanggal 21 September tarikh Masehi, maka tanggal 5 Paro Gelap berarti 20 hari sesudah tanggal 21 September, berarti jatuh pada tanggal 11 Oktober tahun 901 Masehi.
 
Kita tidak tahu, dengan dasar hitungan apa hingga Panitia Perumus Hari Jadi Kabupaten Purworejo pada saat itu, tiba-tiba menyodorkan ke Sidang Pleno DPRD bahwa tanggal 5 Paro Gelap, Bulan Asuji 823 Tahun Saka jadi tanggal 5 Oktober 901 Masehi. Sedang bila dihitung dengan hitungan kalender yang pernah beredar di Nusantara, paling tepat adalah tanggal 11 Oktober 901 Masehi.
 
Hari Jadi Kabupaten Purworejo merupakan keputusan politik dan sudah jadi kesepakatan bersama. Bila Hari Jadi tersebut masih akan menggunakan dasar primer Prasasti Kayu Arahiwang, seyogyanya Perda tersebut ditinjau kembali, karena penetapan tanggal Hari Jadi Kabupaten Purworejo diragukan kebenarannya. Jangan sampai Tanggal Hari Jadi dari sebuah kabupaten dengan hitungan yang keliru. Tentu ini sangat memalukan. *****
 
Atas S Danusubroto adalah seorang wartawan, novelis dan pemerhati sejarah Purworejo

OPINI

  •  
    Oleh:  Atas S Danusubroto 
             
    PERATURAN DAERAH (Perda) Hari Jadi Kabupaten Purworejo No 9 Tahun 1994 dengan dasar primer Prasasti Kayu Arahiwang yakni tanggal 5 Oktober 901 M. Sesuai dengan Perda tersebut, kini usia Kabupaten Purworejo sudah 1.116 tahun dan sejak ditetapkannya Perda itu, kita sudah memperingati Hari Jadi Kabupaten Purworejo sebanyak 23 kali. Untuk menerbitkan Perda No 9 Tahun 1994  Panitia Perumus Hari Jadi Kabupaten Purworejo sudah bekerja selama dua tahun

    Read more...

 

SOSOK

Sekilas Purworejo


 

 

 


pengumuman didukcapil1

=============================================

 

Wisata

Iklan Kecik

Visitors

265421
TodayToday869
YesterdayYesterday1519
This_MonthThis_Month18789
All_DaysAll_Days265421