Harga Cabe Rawit Melejit, Pengusaha Kuliner dan Katering Menjerit

PURWOREJO, Sudah hampir tiga minggu ini harga cabai rawit melejit di kisaran Rp 80.000/kg. Kenaikannya bahkan mencapai harga Rp 102.00/kg kemarin (3/3). Adapun harri Kamis ini (4/3) harganya Rp 95.000. Tapi itupun masih mungkin kembali naik beberapa hari ke depan.

Hal itu diungkapkan oleh Singgih, pemilik Kios Lestari di Pasar Baledono, Purworejo, Kamis (4/3).

Menurutnya, kenaikan harga cabai itu dipicu oleh berkurangnya pasokan selama musim hujan. Akibatnya, cabai rawit yang masih belum waktunya dipetik pun turut dicampur dengan cabai rawit merah.

“Harga tinggi itu termasuk cabai rawit yang masih kuning yang dicampur dengan cabai merah,” imbuh Singgih.

Penjual cabai eceran

Dengan kondisi itu mau tak mau ia pun mengurangi stok cabai rawit sudah sejak dua minggu lalu. Menurutnya, kalau biasanya ia memasok antara 40 hingga 45 kg/hari, sekarang hanya 20 hingga 25 kg/hari.

Hal itu karena permintaan dari pembeli juga berkurang. Demikian pula di tingkat pedagang sayur keliling. Yono misalnya. Cabai eceran yang biasanya dijual Rp 2.000/plastik, kini dijual seharga Rp 3.500. Ia mengaku mengurangi kulakan cabai eceran.

Selain itu, lonjakan kenaikan harga cabai sangat berpengaruh terhadap pengusaha rumah makan, katering, dan masakan khusus sambal seperti Paps Sambal. Seperti diungkapkan oleh pemilik Paps Sambal, Adventia Maharani (Venti).

Ia menyebut, harga cabai rawit yang meroket menyebabkan dirinya menghentikan produksi sambal cumi level maksimal atau level 4. Akibat kenaikan harga cabai, Venti hanya seminggu sekali produksi yakni sebanyak 300 hingga 400 botol dengan berbagai varian isi.

Adventia Maharani: hentikan produksi sambal cumi level maksimal

Dirinya mengaku membeli cabai secara grosir dengan minimal pembelian 10 kg.
Venti masih belum terpikir untuk menaikkan harga. “Saat ini saya hanya bisa menekan keuntungan daripada menaikkan harga,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Rini, pemilik rumah makan dan katering deR. Menurutnya, meski harga cabai selangit, dirinya tetap membeli sesuai kebutuhan. “Konsekuensinya ya laba berkurang. Saya ndak tega menaikkan harga ke konsumen katering,” jelasnya.

Baik Venti dan Rini berharap harga cabai kembali stabil sehingga mereka dapat kembali mendapatkan untung seperti biasanya. Hal itu mengingat pembayaran upah pegawai dan biaya kebutuhan hidup diperoleh dari keuntungan selama berproduksi.

Demikian pula dengan Yono. Stabilnya harga cabai akan berpengaruh terhadap pendapatannya karena konsumennya yang sebagian besar ibu rumah tangga kembali membeli cabai seperti biasanya. (Dia)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *